
"Puuuhhhhppppm"
Cessa melakukan yang Zino minta dan alhasil Zino malah memanfaatkan keadaan itu untuk mencuri.
"Zino.." Cessa melepaskan pengutan Zino paksa.
"Apa.. Bagus loo tiupan kamu.." Ledek Zino sambil menjelerkan lidahnya.
"Udah aaahh makan sendiri aja nih.." Cessa mulai mengancam.
"Ampun sayang.." Zino pura pura patuh.
"Cessa sayang..?" Bella datang juga ke dalam kamar Zino.
"Ya Mommy...?"
"Sayang apa ada kabar dari Lilen...?"
"Eemm tadi siang ada Lilen telpon.. Dia bilang malam ini dia gak pulang bahkan dia mungkin tunggu Jake sembuh baru ikut pulang.."
"Oohhh gitu.. Eemm cintanya dia Sama Jake.. Padahal kemarin itu malu malu.." cicit Bella.
"Iya Mommy, namanya juga lagi kasmaran.." Zino ikut menimpali.
"Betul.. Kayak kamu tuh.." Bella mencolek pinggang Cessa.
"Mommy.." Cessa memegangi pinggagnya.
"Okelah.. Kalau gitu Mommy istirahat dulu deh.."
"Selamat malam Mommy.." Cessa dan Zino bersamaan.
"Sayang.." Zino menarik tangan Cessa.
"Apa lagi..?" Nada kesallah yang terdengar Zino.
"Hei.. Aku panggil baik baik kok.." Zino kembali memelas.
"Apa..?" Cessa berusaha merubah nadanya.
"Kamu liat itu..? Lilen dan Jake sangat mencintai.. Kurang apa lagi sayang..? Aku juga mau cinta kamu...." Cessa menoleh pada Zino.
Tatapan mata serius dari Zino berhasil meluluhkan Cessa.
__ADS_1
"Ya kita tunggu aja.." Cessa mengambil lagi mangkuk supnya dan menyendokkan satu suapan untuk Zino.
Zino menerimanya dan mengunyah dengan perlahan. Setelah tak ada lagi di mulutnya baru ia berucap lagi. "Tapi kan sudah jelas sayang.. Kalau gitu kan ada jalan untuk kita.."
"Ya.. Ada kok.. Tapi nanti ya.. Kita tanya langsung sama Mereka.. Aku gak mau asal aja.." Zino skak mat di buat Cessa.
"Oke.. Tapi kemarin kamu salah langkah.. Masa kamu bahayakan diri kamu sendiri dan ikut ke markas itu.." Cicit Zino.
"Apa pun akan aku lakukan untuk Karsa, Zi.. Dia segalanya buat aku."
"Kalau gitu kenapa gak nikah sama aku dan kita jadi keluarga yang utuh.. Kan itu untuk Karsa juga..?" Cessa memutar matanya malas.
"Sudah makan dulu..!" Mau tak mau Zino diam dan menaati Cessa.
"Nanti juga pasti aku nikahi kamu sayang.. Cinta kamu cuma buat aku dan Karsa.." Zino sangat percaya akan hal itu.
.
.
.
.
Mungkin ini yang di jaga jaga oleh Zino kemarin. Hanya Zino yang tahu siapa wanita ini.
.
.
.
"Lilen.. Sakit nanti lehernya.." Jake melihat posisi tidur Lilen yang tak baik untuk lehernya
"Aku mau gini sama kamu Jake.." Pinta Lilen.
"Naik sini.." Pinta Jake.
"Kasian kamu nanti sempit.." Lilen menegakkan tubuhnya.
"Gak.. Malah enak kalau ada kamu.. Coba deh.. Yukk" Jake bergeser sedikit hingga ada tempat untuk Lilen.
Lilen naik ke atas bangsal Jake. Berbaring di tempat yang di mintai Jake Lilen tempati.
__ADS_1
Lilen langsung di peluk Jake, tanpa ragu Lilen mendekatkan tubuhnya dan tubuh Jake.
"Tidurlah.. Aku di sini.. Secepatnya kita pulang ke rumah.. Jadi kamu bisa tidur di tempat tidur nyamanmu.." Jake mengelus pipi Lilen.
"Tapi aku tidur sama kamu kan..?" Lilen menyisiri rambut Jake dengan jarinya.
"Apa boleh..?" Jake meragukan pertanyaan Lilen itu.
"Ya boleh.." Sekian detik kemudian Lilen menganga, rasa malu sekali ia meminta Jake tidur bersamanya.
"Astaga.. Maaf aku.. Sstt.." Lilen di bungkamkan jari telunjuk Jake.
"Kalau kamu mau.. Kita pulang besok dan malamnya baru kita tidur sama sama. Mau.. Di kamar aku atau di kamarmu..?" Hati Lilen rasanya di gelitiki rasa senang mendengarnya hingga tersenyum lebar, pipinya merona dan rasanya panas.
Akhirnya Lilen menyembunyikan wajahnya di dada Jake.
"Oke kalau gitu di kamarmu.." Cicit Jake.
"Haaaahhh?" Lilen mengangkat wajahnya.
"Sudah tidurlah.. Besok kita bahas lagi.." Jake menutup mata Lilen dengan tangannya.
Bukannya menutup mata keduanya malah saling pandang.
"Apa..?" mata Jake tak bisa melepaskan padangannya dari Lilen. Begitu pula sebaliknya.
"Aku cuma mau cepat cepat pulang.." Cicit Jake.
"Ck.." Lilen merona lagi.
"Biar cepat tidur sama kamu di kamar.." Jake memeluk Lilen, meletakkanya di dadanya.
Dan benar saja Lilen nyaman di sana.
.
.
.
.
Cessa..
__ADS_1