Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 50


__ADS_3

Zino memandangi dirinya yang bercemin di cermin besar di dalam kamar hotelnya.


"Benarkah yang akan aku lakukan ini. Kenapa aku merasa ada yang aneh di hatiku. Ada yang sedang ku khawatirkan tanpa sebab. Rasa apa ini sebenarnya. Sejak kemarin aku merasakannya. Tuhan tolong Aku.." Sejak sampai di Amerika ini Zino tidak bisa tenang seperti ada hal besar yang akan terjadi. Zino hanya bisa menyimpulkan ini karna Cessa yang bersama dengan Karen, mungkin ini rasa cemburunya.


Tapi bukan Zino juga yang merasakannya, Karen pun sama merasakannya, bahkan mungkin ini dari Karen yang juga di rasakan Zino. Dan mungkin ini dari ikatan yang mereka miliki.


Malam pun di lalui Zino dengan panjang seorang diri. Zino bingung apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan perasaan ini.


***


Berbeda negara berbeda jamnya. Bila di Zino malam hari maka di Cessa dan Karen ini masih siang hari yang cerah.


Mereka berdua masih betah di puncak bukit itu dan masih meneruskan ceritanya.

__ADS_1


"Misi menganggu adik?" Mata Cessa membulat sempurnya mendengarnya. "Apa maksud Karen ia dan Zino itu saudara? Apakah mungkin?" Cessa hanya bisa menebak nebak dalam hatinya.


"Ya mengganggu adik, adik yang nakal." Ucap Karen menegah melihat ke langit langit yang masih biru dan awan awan yang berlalu dengan perlahan.


"Karen.. Coba ceritakan dengan benar, jangan membuatku penasaran seperti ini." Desak Cessa karna sudah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya. Bahkan Cessa sampai menguncang guncangkan tubuh Karen sangkin tak sabarnya.


"Hehehe iya Iya maaf.. Baiklah aku mulai dari awalnya agar kamu tidak bingung. Begini.. Dulu aku hanya laki laki yang tak berdaya, hanya bisa duduk di kursi roda. Menatap awan awan dan langit seperti ini." Karen kembali menatap langit siang itu. "Hidupku hampa tak ada yang bisa di lakukan, hanya bisa memanggil bibi, penjaga dan juga mamainkan laptop dan hal yang tak berguna lainnya. Suatu hari ada anak perempuan yang datang ke rumahku, awalnya di ketakuta dan tak ingin banyak bicara padaku. Aku yang bosan seorang diri juga ingin memiliki seorang teman. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, aku dan anak perempuan itu semakin tumbuh besar bersama dan menjadi teman sepermainan. Dia teman pertamaku, dan mungkin satu satunya. Disaat aku ingin berjalan jalan, maka perempuan itu pasti akan mendorong kursi rodaku, kami berdua bercerita banyak hal, dia menceritakan tentang adiknya dan aku selalu menjadi pendengar yang baik, aku juga ingij bertemu dengan adiknya dan menjadikannya adikku juga, karna aku hanya anak tunggal di rumah itu. Dan pada suatu hari, tiba tiba semua orang di rumahku panik dan menjerit jerit minta tolong. Aku dan Perempuan itu tiba tiba di sembunyikan oleh ayahku di gudang. Perempuan itu menjagaku dengan baik aku hanya bisa menangis dan terus mengucapkan, "Ina aku takut.. Ina aku takut..." Hanya itu kata yang bisa aku ucapkan. Sedangkan Ina, dia layaknya sudah dewasa saja dan terus menenangkan aku. Ya itu namanya saat itu yang aku kenal, Ina. Orang itu tidak menemukan kami berdua kupikir. Tapi ternyata tidak, kami di ketemukan dan mereka melukai Ina hingga inababak belur karna menolongku. Saat itu untungnya ayahku datang dan menyelamatkan Ina dan aku. Tapi sayangnya Ina terluka parah dan harus di bawa ke rumah sakit. Ina dalam kondisi kritis, ayahku terus memohon untuk tetap bertahan pada Ina. Tapi Ina hanya tersenyum dan mengatakan 'Paman, jagalah Karen dengan benar, karna jika paman menjaga Karen dengan benar nanti Karen akan menjaga dan menjadi temanmain adikku.' Setelah mengatakan itu ayahku menangis sejadi jadinya dan tiba tiba suster dan dokter berdatangan dan riuh satu ruangan itu dengan bunyi bermacam macam alat medis itu. Setelah itu aku di bawa ke ruangan yang lain. Aku di suntik, dan aku tak ingat apa apa. Tiba tiba aku terbangun dan tubuhku terasa berbeda. Aku tersadar dan mencari keberadaan Ina tapi aku tidak menemukannya. Aku di ajarkan berjalan layaknya anak kecil, aku bisa berjalan tapi aku tidak punya teman lagi, aku merindukan kursi rodaku yang selalu di dorong Ina. Sejak itu aku menjadi anak yang normal, tapi aku tidak tahu kenapa aku bisa senormal itu. Aku tumbuh seiring berjalannya waktu, ayahku semakin membenci Zino dan menanamkannya padaku. Aku pun sama bodohnya dan langsung mengikuti kemauan Ayahku. Aku semakin dewasa dan mulai mencari keberadaan Ina dan informasi detail Ina. Dan aku menemukannya. Tapi sudah tinggal nama. Aku sedih akan penemuanku itu, aku merasa sangat buruk. Aku bodoh, tanpa sadar aku menyakiti orang yang salah." Karen melihat kedua telapak tangannya "Kamu lihat ini Cessa, didalan tangan ini di dalam tubuh ini, mengalir darah yang bukan milikku. Ini darah Ina." Karen memegangi dadanya dan meremas bajunya "Ini jantung Ina. Aku hidup karna Ina Cessa. Tapi tanpa sadar aku melukai orang orang Ina dengan sangat kasar. Aku malu akan hal ini Cessa. Aku sangatlah malu." Karen menoleh pada Cessa dan menggelengkan kepalanya. Mata Karen yang tadinya indah sekarang sudah di penuhi air yang hendak tumpah. Dengan cepat Cessa menghapus air yang hendak jatuh dari pelupuk mata Karen. Karen meraih tangan Cessa itu dan membungkam mulutnya sendiri dengan tangan Cessa dan mulai mengeluarkan tangisnya.


"Karen.. Menangislah.. jika itu akan membuatmu puas dan lebih lega maka menangislah. Aku di sini Karen.." Cessa mengelus elus punggung Karen dengan tangannya yang satunya lagi dan tangan yang satunya masih di pegang Karen dan membungkam mulut Karen.


Cukup lama Karen di pelukkan Cessa, barulah Karen melepaskan pelukannya dan dengan cepat menghapus jejak airmatanya.


Tapi Cessa meraih tangan Karen yang sembarangan itu mengelap wajahnya. Cessa pun mengelap airmata Karen yang yang tanpa di suruh terus berjatuhan. Mungkin memang masih belum siap Karen pun memeluk Cessa lagi dan kembali menangis.

__ADS_1


Setelah puas menumpahkan tangisannya barulah Karen berhenti menangis di pelukkan Cessa. Karen melepaskan pelukkannya dan melihst baju Cessa yang terlihat sedikit basah karna tangisannya.


"Maafkan aku... Bajumu.."


"Tidak apa apa Karen.. Ini bukan apa apa di banding sakit yang kamu tahan sendiri selama ini. Bagaimana? Apa kamu merasa tenang?" Tanya Cessa tak lupa senyum manisnya.


"Iya aku benar benar tenang aku merasa sedikit lega karna sudah menangisinya. Dulu bahkan saat aku menemukan berkas Ina aku tidak berani menangis tapi di tempat ini aku menangis dan mengeluarkan segala kelih kesahku. Tempat ini akan menjadi tempat favoritku, tempat untuk ketenanganku. Tolong kamu bantu ingat ya..." Ucap Karen dan tersenyum pada Cessa mengeluarkan kedua lesung pipit yang indah itu.


"Iya ya.. Eeemm Karen.. Bisa lanjutkan.. Aku masih penasaran.." Cessa mengedipkan kedua matanya beberapa kali membuat Karen tertawa renyah.


"Masih mau dengar..?" Tanya Karen medekatkan wajahnya pada Cessa.


"Iya Karen aku masih ingin dengar dan sangat penasaran."

__ADS_1


Seperti para readers yang membaca juga masih sangat penasaran.. Tapi jangan lupa Like, komen dan favoritkan jika kalian suka novel author ini. Karna author jamin setiap Readers buka aplikasi ini dan cek buku yang Readers baca, novel Author sudah up lagi.. Dalam sehari mungkin bisa 1 sampai 2 bab bertambah. Jadi jangan ragu untuk like dan Favoritkan, tak ada biaya yang di pungut dan tak ada hati yang sakit juga... Jadi like yang banyak dan komen saja jika Readers punya saran atau kritikan silahkan author selalu mengharap dukungan dari kalian.


__ADS_2