Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 39


__ADS_3

Zino tak ingin melewatkan satu pun tempat, bahkan kalau Karen Stone bisa bersembunyi di lubang semut, maka Zino juga akan mencarinya hingga ke situ.


"Kau tenang Saja Zi... Kami juga sedang berusaha mencarinya." Ucap Johan dengan sangat semangat dan di setujui dengan anggukan dari teman temannya yang lain.


"Kali ini aku membutuhkan kalian lagi. Aku mohon bantuannya teman teman." ucap Zino.


Lamanya Zino menuggu kabar dari anak buahnya, dan akhirnya ada kabar dari anak buahnya yang mencari keberadaan Rindu dengan mengikuti titik yang Jake dapatkan dari GPS Rindu.


Rindu yang di temukan dengan kondisi yang sangat miris, wajahnya penuh dengan bekas luka, bajunya yang compang camping, rambut yang sudah tak beraturan, sepertinya Rindu mengalami gangguan mental akibat ulah anak buah Karen.


Zino panik saat melihat kondisi dari teman Cessa ini. Zino kemudian berpikir, jika Rindu yang hanya teman dari Cessa seperti ini, Bagaimana dengan Cessa yang Karen anggap adalah wanita dari Zino. Mungkin akan lebih parah dari kondisi Rindu saat ini. Apalagi jika Zino mengingat lagi ancaman Karen dengan membawa bawa nama ranjang pula.


Tiba tiba terlintas di otak Zino bayangan Cessa mengandung anak dari Karen. "Aaarrggggg" Erangan Zino akibat pikirannya sudah tak terkendali.


"Karen Stone..." Zino mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Jika kau berani menyentuh sedikit saja wanitaku.. Tamatlah riwayatmu Karen..." Zino kembali tidak bisa berpikir dengan jernih, sedangkan Jake sedang mengurusi Rindu yang baru tiba dan mulai merawat Rindu sebisa mugnkin dan berharap Rindu pulih, dan bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan juga pada Cessa.


***


"Apa ini?" Rico berguman sendiri saat ia di tempat kerjanya. "Oohh tidak..." Rico buru buru menghubungi Zino. Tapi sayangnya karna Zino sedang kesulitan berpikir, Zino melupakan ponselnya yang ia taruh entah di mana saat ini.


"Sial..." Rico buru buru menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar dari gedungnya.


Di perjalanan Rico hanya mengeleng gelengkan kepalanya. "Nyonya Karen Stone.. Tidak mungkin secepat ini.. " Gumannya.


***


"Tuan, ini tiket yang anda minta" Ucap anak buah Karen mengetuk pintu dan Karen membukanya. Rupanya tiket yang ia pesan sudah siap.


"Hei kamu bilang istrimu sangat ingin berlibur ke Jepang? Pergilah...Bersenang senanglah bersama istrimu, dia pasti bahagia sekali. Terima kasih ya.." Karen kembali menutup pintu kamarnya. Karen menoleh pada Cessa yang sedang mencari tahu apa yang baru saja terjadi dan baru saja di katakan anak buah Karen.


"Tiket apa yang orang itu maksud? Laki laki ini akan pergi maksudnya?" Cessa hanya berani berbicara dan bertanya dalam hatinya.


"Kenapa? Kamu bertanya tanya dalam hati tiket apa itu tadi?" Karen menebak dengan tapat isi hati dan pikiran Cessa.

__ADS_1


"Eehh kok tahu...?" Cessa sedikit terkejut dan sampai mamundurkan tubuhnya terkejut.


"Eh kok tahu..? Pasti kamu kaget kan..." Karen menunjuk wajah Cessa dengan telunjuknya dan memutar mutar telunjuknya di depan wajah Cessa.


"Kamu tu... Bisa baca pikiran orangkah?" Akhirnya mulut kecil Cessa mengeluarkan suara aslinya.


"Hahahahaa... Hei lihat ekspresimu itu... Hahaha siapa yang tidak tahu apa yang kamu pikirkan..." Karen meletakkan kacamatanya di nakas di samping ranjang.


Cessa sedikit menjauh dari situ takut bila Karen melakukan hal yang lebih aneh dari pada embaca pikirannya. Dan ternyata benar apa yang Cessa pikirkan, Karen juga mendudukan dirinya di ranjang di samping Cessa.


"Apa lihat lihat... Mau?" Entah ancaman atau sekedat mengoda.


Cessa hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kamu mau tahu gak tiket apa tadi? Itu loo maksudnya... Bukannya mau yang lain.." Wajah Karen memerah melihat ekspresi Cessa yang sangat lucu.


Cessa hanya mengangguk pelan. Cessa sangat ingin tahu itu tiket apa. Takutnya itu tiket untuk mengantar Cessa sangat jauh dari sini. Tapi itu juga kalau Laki laki di depannya ini tidak berbohong.


"Eemmm gitu donk..." Karen memperbaiki duduknya dan mulai bercerita.


"Itu tadi tiket sebenarnya untuk kita berdua." Karen menoleh pada Cessa yang membulatkan matanya.


"Tuh kan benar... Aku mau di ajak pergi jauh." Kata hatinya menjerit.


Wajah Cessa memerah lagi lalu Cessa mengeleng gelengkan kepalanya lagi melihat tinggkah aneh laki laki ini. "Tapi memang seperti itu... Aku memesan tiket atas namaku.. Karen Stone. Dan.... Nyonya Karen Stone.." Ucap Karen sambil mengubah nada suaranya dan juga bunyi suaranya.


"Nyonya?" Cessa berguman. "Jadi laki laki ini punya istri. Ooohh ya ampun... Nanti kalau aku di cap perebut suamiya bagaimana? Aku kan hanya korban di sini." Kali ini Karen tidak bisa membaca ekspresi Cessa karna banyak sekali yang Cessa pikirkan saat ini.


"Ya nyonya.. Nyonya Karen Stone.. Mau tahu siapa?" Tanya Karen lagi membuat Cessa menoleh padanya.


Karen mengangkat kedua alisnya bersamaan, tapi hanya di tanggapi dengan kedipan mata Cessa. "Nyonya Karen Stone itu dirimu.. Hahahaha..." Karen membisikan ucapannya di depan wajah Cessa setelah itu tertawa sekencang kencangnya.


"Aku? Nyonya Karen Stone? Sejak kapan?" Cessa kali ini bertanya dengan sangat jelas di pendengaran Karen.


"Akhirnya kamu berbicara juga. Aku kira kamu bisu tadi. Ya kamu Nyonya Karen Stone. Kenapa kamu sukakah nama barumu? Kalau kamu suka aku akan dengan capat memberikan nama itu padamu." Karen kembali mengangkat kedua alisnya itu mengoda Cessa di depanya.


Cessa tidak meladeni apa yang Karen lakukan. Karna Cessa bingung dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Aku sengaja membeli tiket dengan mengatasnamakan Karen Stone dan Nyonya Karen Stone. Itu adalah pancingan keduaku.. Zino dan anak buahnya pasti sedang mencarimu. Mereka akan mengerahkan semua kemampuan mereka, dan yang aku tahu Zino punya teman teman yang cukup lincah mencari jejak, entah jejak perjalanmu atau pun catatan medismu. Bukankah begitu cara Zino menemukanmu dulu. Zino menemukan catatan medismu. Alhasil menemukanmu. Dan kali ini terulang lagi, tapi kali ini aku yang bermain petak umpetnya. Tak semudah itu seorang Zino mencari kucing cantiknya. Tiket itu mengarah ke Jepang, tempat yang tidak ingin aku kunjungi. Karna itu aku menyuruh anak buahku itu saja yang pergi. Istrinya benar benar ingin pergi ke negara sakura itu. Sekali kali kan bonus untuk mereka, bukannya kerja terus yang aku berikan." Jelas Karen sesekali sambil bercanda.


"Lalu..." Cessa masih tidak paham.


"Lalu aku yakin Zino akan mengejar anak buahku itu. Pasti Zino mendapat kabar dari anak buahnya tentang keberangkatan itu. Dan setelah itu dia akan sibuk mencarimu. Dan saat itulah saat kita bersantai..." Karen melipat kedua tangannya di belakang kepalanya seolah bersantai seperti katanya.


Akhirnya Cessa paham juga maksud Karen.


"Hei... Apa kamu ingat namaku tadi?" Karen menoleh pada Cessa masih dengan posisi yang sama.


"Eemmm... Kamu.. Namamu?" Tanya Cessa mengulangi pertanyaan Karen sendiri.


"Iya..." Ketus Karen memutar matanya.


"Aaaaaaa..... Apa ya..?" Cessa menggaruk garuk kepalanya. Cessa lupa akan nama yang baru saja laki laki ini katakan barusan.


"Maaf aku lupa.." Ucap Cessa dengan pelan tak berani menatap Karen langsung.


"Hisss kamu ini... Namaku Karen.. Karen Stone." Ucap Karen meberi tahukan namanya lagi. "Kamu panggil aku dengan namaku itu. Ingat Karen" Ucap Karen lagi mengingatkan Cessa dengan benar.


"Baiklah Keran." Cessa mengulangi nama Yang baru saja di sebutkan Karen tapi hanya sedikit melenceng.


"Apa?" Karen mendengar dengan sangat jelas apa yang Cessa katakan tapi Karen ingin mendengarnya lagi.


"Karen... Karen..." Ralat Cessa dan ulangannya.


"Bagus..." Karen menganggukan kepalanya padahal ia sangat mendengar dengan jelas apa yang Cessa ucapkan. Tapi tak masalahlah buat Karen.


Setelah Karen dan Cessa berkenalan singkat terdengar bunyi ketukan lagi di pintu kamar mereka.


Karen membukannya, ternyata anak buahnya lagi membawakan ponsel ke pada Karen.


"Tuan ada nyonya besar mengabari anda dan ingin berbicara dengan anda langsung." ucapnya pada Karen dan menyerahkan ponsel itu pada tuanya.


"Ck... Mati aku...." Karen berlari masik ke dalam kamarnya lagi, membongkar kopernya mencari baju yang layak ia kenakan.

__ADS_1


"Dia kenapa? Kesurupankah?" Ucap Pelan Cessa sendiri dari kejauhan dan tanpaknya tak terdengar Karen.


Karen..


__ADS_2