
Di ruangan Lilen sudah berbaring di dipan pasien. Cessa ada di sampingnya dan jaganya.
"Rileks aja ya bu.." Ucap dokter itu. Kebetulan dokter itu laki laki seperti pada umumnya.
"Ini saudaranya ya..?" Tanya dokter itu pada Cessa.
"Iya.. Ini adik saya dok.." Cessa menjawab apa adanya.
"Oke kita periksa ya.." dokter itu mengoleskan krim di perut Lilen. Krim yang dingin itu seperti menyentrum Lilen.
"Hai Baby.. Mari periksa.." Ucap Dokter itu hangat.
"Waahh sehatnya.. Mama jaga dengan baik ya.." tambahnya lagi. Lilen juga melihat layar monitor dari USGnya.
"Ooowwww..." Cessa pun terharu melihatnya.
"Babynya masih muda satu bulan, tapi di liat dari ukurannya dia pasti akan segera masuk dua bulan.. Jadi Mama hati hati ya.. Eeemm apa ada keluhan..?" Dokter itu berhenti dengan alat USGnya dan melirik Lilen.
__ADS_1
"Eeemm itu.. Saya gak terlalu mau makan tapi aku juga sering mual mual. Aku takut nanti bayinya kurang nutrisi.." Lilen mengatakan yang ia pikirkan.
"Sudah coba susu?" Dokter itu memiliki sifat yang sangat perhatian.
"Aku sudah coba tapi, aku tiba tiba gak suka susu.." Keluh Lilen lagi.
"Ooohh gitu.. Biskuit..?" Tanya Dokter itu manis lagi.
"Aku gak suka biskuit.." Jawab Lilen singkat.
"Heeemmm.. Coba aja dulu biskuitnya.. Nanti aku rekoment yang enak.. Menurut aku.." Lilen memicingkan matanya.
"Eeem ya.. Bahkan aku juga pernah merasakan yang namanya melahirkan.." Pernyataan itu membuat Cessa membulatkan matanya.
"Maksudnya..?" Cessa juga ikut bertanya.
Lilen masih terus berpikir. "Oohhb pasti pakai alat itu ya..?" Dokter itu menoleh cepat.
__ADS_1
"Iya.. Dulu kami di minta untuk coba juga rasanya hamil, melahirkan, dan bahkan menyusui. Jadi aku bukan hanya sekedar dokter sp.OG, Tapi aku juga merasakan apa Yang para ibu hamik rasakan mulai dari hamil, melahirkan dan hingga menyusui. Aku tahu semua rasanya.." Jawab dokter itu santai.
Lilen mengangguk paham. Ia membersihkan krim gel yang ada di perutnya.
"Waktu kuliah aku pernah di jelaskan tentang alat itu Sa.. Alatnya itu cuma di tempelkan di pertu laki laki dan tinggal ikuti prosesnya dari pembukaan awal sampai pembukaan akhir dan hingga bayi lahir.." Lilen berbicara pada Cessa tapi Dokter itu juga mendengarnya.
"Oohh ya..?" Cessa jadi penasaran.
"Ya.. Dan rasanya.. Ooohh.. Sakit.. Sakit sekali, kalian gak bisa bayangkan sekeras apa aku berteriak. Dan semenjak itu, aku makin sadar kalau perjuangan jadi seorang ibu itu sulit. Kalau aku.. Aku kan laki laki.. Nantinya pasti hanya akan jadi ayah. Tapi karna kejadian dan pengalaman itu. Aku jadi pikir pikir mau nikah dan punya anak.." Mereka bertiga tertawa bersama sama.
***
"Dokter tadi baik banget ya.." Cessa dan Lilen sudah di dalam mobilnya dan berangkat ke super market yang mereka tuju.
"Iya.. Dulu juga teman teman laki laki di kampusku juga ada yang begitu.. Mereka pakai alat yang namanya delivery bars itu. Jadi mereka bisa rasakan yang namanya melahirkan.. Aku dulu sampai gak bisa tahan ketawa liat mereka teriak teriak. Lucu banget.. Ada yang bilang gak kuat padahal dikit lagi di alatnya bayinya lahir, ada juga yang teriak teriak perutnya mau pecah, ada yang minta tolong bilang robek.. Hahahaha.." kisah mereka di dalam mobil dan di sambung tawa keduanya. Sang sopir hanya mengelengkan kepalanya.
**
__ADS_1
Di rumah..