
Lilen memutar matanya malas.
"Maaf ya tuan mungkin agak sakit.." Perawat itu mendekat dan menggunting kulit yang menempel di perban.
"Ck.." Lilen tak suka melihatnya.
"Sudah ya.. Gak sakit?" Perawat itu sok perhatian.
"Enggak kok.. Ada obatku.." Jake menarik Lilen agar mendekat padanya.
"Gak akan ada yng sakit kalau dia ada di samping aku.." Cup. Tak lupa kecupan di daratkan di pipi Lilen.
"Hm.." Perawat itu pura pura sibuk kegiatan lain.
Jake juga mengamati wajah Lilen dan tingkah perawat itu, untuk menjaga hati Lilen itulah yang harus di lakukan Jake.
"Cepat sembuh sayang.." Lilen mengusap rahang tegas Jake.
Jake mengangguk yakin. "Biar kita bisa tidur sekamar, seranjang secepatnya..." Bisik Jake di telinga Lilen dan membuat bulu roma Lilen merinding. Nafas lembut yang menggelitiki daun telinga Lilen sungguh meresahkan.
"Ah.. Jake.." Lilen jadi malu.
"Di lihat dari lukanya, sepertinya masih harus di rawat di sini.." tutur sang dokter
"Tapi apa gak bisa rawat di rumah aja? Istri aku ini juga bisa rawat pasien.. Apalagi pasiannya suami sendiri.." cicit Jake.
"Iya kah..? Hmmm..?" Perawat itu juga ikut menimpali dan menatap Lilen tak percaya.
"Dia kuliah di Amerika, salah satu calon medis utama. Tapi untuk saat ini dia belum lanjut karna... Aku gak sabar.." Jake langsung mengelus perut Lilen.
"Oohh.." Dokter dan perawat itu mengangguk.
"Baiklah kalau gitu.. Medis utama biasanya memang handal. Luka tuan juga tinggal di rawat biasa saja. Baiklah, tuan boleh pulang dan rawat di rumah aja.."
__ADS_1
"Tuh kan boleh pulang.." Ledek Jake pada Lilen yang masih membisu.
.
.
.
.
.
"Oh ya..? Baguslah.. Nanti aku kirimkan sopir untuk jemput kalian.." Cessa menerima kabar dari Lilen.
"Kenapa sayang..?" Zino dan dengan Karsa du gendongannya tiba di dapur.
"Itu Lilen dan Jake pulang, Jake di bolehkan pulang dan rawat di rumah aja, Lilen kan juga bisa rawat Jake dengan baik.. Makanya aku tadi bilang kirimkan mereka sopir.." Jelas Cessa sambil menyiapkan sarapan untuk semuanya.
"Oohh baguslah.." Zino mengangguk antusias juga, ia yakin Jake dan Lilen sudah sangat dekat dan saling menyampai rasa hati satu sama lain.
"Apa..?" Cessa menatap Zino.
"Aku cinta kamu.." Bisik Zino.
"Iya.. Cintailah aku.." Cessa tidak terlalu menanggapi sungguh sungguh Zino.
"Cessa.. Aku cinta kamu.. Betulan.." Zino membalik lagi tubuh Cessa agar menatapnya.
"Apa Zi..?" Cessa memayunkan bibirnya.
"Aku sungguh sungguh.." Zino berusaha serius.
"Iya.. Zi aku percaya.." Cicit Cessa.
__ADS_1
"Aku tahu kamu kira aku main main aja... Tapi aku betul betul looo.." Zino memasang wajah serius.
"Iya Zi.. Aku percaya.." Zino menghela nafasnya, ia tahu tak semudah itu meluluhkan Cessa lagi.
Zino memutar otaknya. Cessa beberapa hari yang lalu sangat mengkhawartirkannya. Bahkan tanpa di minta Cessa mencium Zino dengan sendirinya.
"Dia khawatir dan tunjukan rasa cintanya.. Oke.. Fine.. Jika aku harus buat dia khawatir lagi.. Aku siap.." Zino tersenyum misterius.
.
.
.
.
"Hah..?" Lorent memutar kursi kerjanya.
Beberapa hari ini Lorent hanya memantau lewat laptopnya dan mengirimkan beberapa bantuan ke anak buah mereka yang lainnya.
"Satu orang aja Lorent.. Yang berani.. Di sini aja.." Zino menunjuk pinggang kanannya. Sementara pinggang kirinya yang terluka kemarin saat melawan Marino.
"Zi.. Kamu gila.. Demi apa sih..?" Lorent memperbaiki kacamatanya.
"Demi cinta.." Zino langsung terkekeh sendiri.
"Ya ampun.." Lorent memijit batang hidungnya.
"Satu aja ya.. Satu.." Zino mulai memelas.
"Tapi.."
"Gak.. Aku mohon Lorent.. Semua akan baik baik aja, aku gak akan marah.. Ayolah.." Zino mulai merengek.
__ADS_1
Lorent..