Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 98


__ADS_3

Zino menendang pistol Stev.


"Tunggu pistol itu..." Zino baru menyadarinya.


"Kenapa pistol kamu dan pistol aku sama.. Dari mana kamu dapat pistol ini..?" Zino memutik Pistol itu lagi.


"Apa perlu kamu tahu..." Stev sangat kesakitan di bagian tangannya.


"Ini...." Ada ukiran di kecil di pistol itu.


"Karen." Yang dapat Zino baca dari ukiran itu.


"Ini milik Karen..." Zino melihat lsgi pistol yang ia kenakan, juga ada ukiran kecil namanya.


"Berarti pistol ini ada Dua, satu di Karen dan satu lagi aku ..." Zino makin geram dengan Stev.


Zino mengarahkan kedua pistol itu kepada Stev. Siap menarik pelatuknya saja. Matanya juga makin memerah.


"Karen .. Karen... Buka mata kamu... Ini aku Cessa... Karen..." Cessa kini juga berada di samping Karen yang tertembak untuk kedua kalinya.


"Cessa sayang... Ratuku..." Karen membuka matanya perlahan.


"Karen...." Cessa managis di dada Karen.


"Aku cinta kamu Cessa mau kan terima cinta aku..." Karen masih saja membahas masalah cinta saat dirinya sekarat seperti ini.


"Zino... Bantu aku... Zi...!!!" Panggil Cessa pada Zino yang akan menghabisi Stev.


"Karen...??!!" Zino baru teringat saat ini Karen membutuhkan pertolongan secepatnya.


Tapi Zino tidak akan pergi tanpa meninggalkan jejaknya juga. Ia melukai tangan kiri Stev lagi dan memanggil anak buahnya untuk menahan Stev.


"Aku akan ambil yang jadi milik aku.. Liat aja nanti, Cessa pasti hamil anak aku... Hahahaha... Kamu mana mau kan terima anak aku..." Ledek Stev tapi Zino tak pedili dan segera menghampiri Cessa dan Karen.


"Zi.. Bawa Karen cepat..!!" Cessa sudah menangis hebat di samping Karen.


"Ya..." Zino menyimpan kedua pistol itu dan menggendong Karen.


"Hei kenapa kamu Gendong aku gaya Bridal... Kita kan sama sama laki laki.. Aku takut nanti kamu jatuh cinta sama aku.." Karen masih saja meledek Zino.


***

__ADS_1


Di dalam perjalanan entah itu Cessa atau Zino, tangisnya tak ada hentinya.


"Karen..." Cessa berada di samping Karen. Ia tidak ingin meninggalkan Karen begitu saja.


"Aku akan tetap cinta kamu Cessa. Aku gak peduli biarpun Zino atau pun Stev sudah sentuh kamu.. Aku siap Cessa." Masih membahas masalah cinta.


"Ya.. Aku juga akan relakan Cessa untuk kamu.. Tapi aku mohon bertahanlah.. Kalau kamu bisa bertahan maka aku akan mundur perlahan tapi jika kamu... Aku akan mengambil Cessa lagi dari kamu..." Zino menitikkan air matanya.


"Hehehehe.. Jadi aku yang menang..." Karen menatap langit langit dengan sayu.


Rasa sakit kedua peluru dalam tubuhnya tidak ada duanya.


"Zi... Ambil Cessa untuk aku..." Satu lagi ucapan aneh dari Karen.


"Apa maksud kamu bodoh..?" Zino menatap Karen dengan bengis.


"Aku bisa membagi Cessa dengan kamu tapi aku gak akan sudi berbagi Cessa dengan Stev. Aku mohon Zi... Cintai Cessa..." Karen menatap balik Zino dengan lembut.


"Aku resmi sudah jadi kakak kamu.. Jadi kamu sebagai adik harus turut dan patuh dengan perintah aku.." Tambahnya lagi.


"Kamu..." Zino menunjuk Karen dengan jari telunjuknya. Suaranya juga sudah berubah. Tak dipungkiri, Zino sedih melihat kondisi Karen. Ia juga tidak tahu kenapa ia begitu sedih.


"Ya aku ingat... Kamu masih mau punya anakkan sama aku.." Cessa berusaha juga menghibur Karen.


"Ya baguslah.. Tapi aku ada permintaan kecil, sini.." Cessa maju dan Karen membisiskan sesuatu di telinga Cessa.


"Untuk apa itu...?" Cessa tak percaya yang ia dengar ini.


"Untuk masa depanku..." Karen tersenyum lebar seperti biasanya.


"Karen..." Cessa sangat sedih dengan yang menimpa Karen. Karen laki laki yang sangat baik untuknya.


"Zi... Waktunya aku jalan sendiri. Aku harap kamu bisa jaga Cessa sampai aku kembali, kalau itu memungkinkan juga. Dan satu lagi... Adikku sayang..." Tiba tiba Karen tak berucap lagi. Matanya tertutup rapat.


"Karen...? Karen...? Karen.....!!" Zino mengguncang guncangkan tubuh Karem tapi tak ada gunanya.


"Hei bodoh, ayo kita bertarung.. Kamu bilang setelah kita menyelamatkan Cessa, kita akan bertarung.. Siapa yang menang akan memiliki Cessa. Tapi kenapa kamu malah...." Suara Zino tengelam dalam tangis.


"Karen..." Cesss mengelus Pipi Karen.


Laki laki yang lembut salama ini telah pergi untuk selama lamanya. Senyumnya dan tingkahnya tak akan terlupakan. Suara merdunya, kelucuannya. Kata kata tanpa sensornya. Semua akan terus menggema.

__ADS_1


Lorent juga yang sedang menyopir mobil ikut menangis dengan yang terjadi pada Karen.


"Pantas aja Karen minta di peluk kemarin.. Pelukkan itu pelukkan..." Gumam hato seorang Lorent.


Zino yang masih tidak terima kepergian Karen terus mengguncangkan tubuh Karen.


"Bangun bodoh bangun.. Kamu belum selesai ngomong... Adik apa tadi..? Kamu mau jadi kakak aku kan.. Ya sudah kamu itu kakak aku... Aku ini adik kamu.. Kalau kamu pergi gini aku gimana..." Rasa kehilangan seperti beberapa tahun yang lalu saat kehilangan Zina kini Zino rasakan lagi saat kehilangan Karen.


"Karen.....!!!!" Zino berteriak.


"Zino... Sudah... Karen itu cuma tidur.. Ya kan... Karen... Tidurlah.. Nanti aku kasih bangun ya.. Nanti kamu nyanyikan aku lagi romantis lainnya ya..." Cessa juga sama sedihnya dengan Zino.


Karen adalah laki laki terbaik yang pernah Cessa temukan, memang beberapa dosa yang pernah mereka berdua ukir di ranjang itu buruk. Tapi Cessa tak bisa mengelak kalau Karen adalah laki laki yang sangat baik.


Zino yang masih tak rela dengan diamnya Karen. Zino baru saja mengenal Karen beberapa hari, tapi sudah banyak kisah baru yang mereka buat.


"Kita sudah sampai di rumah sakit..." Lorent segera turun dan memanggil para perawat dan Dokter untuk menangani Karen.


"Cepat Lorent.. Karen... Kita sudah sampai di rumah sakit.. Bertahan ya.." Cup.. Zino mengecup kening Karen.


Karen mendapatkan perawatan di rumah sakit ini. Dokter pun sedih dengan yang menimpa Karen. Ia tetap mengangkat peluru yang tertanam di dalam tubuh Karen. Meski ia tahu itu tidak akan mengembalikan nyawa Karen.


"Maaf sebesa besarnya tuan. Pasien tidak dapat di selamatkan. Tapi saya dan para perawat tetap mengangkat kedua peluru yang ada di dalam tubuh Pasien. Satu peluru di punggung kiri dan satu lagi di dada sebelah kanan. Salah satu Peluru langsung menuju jantung dan sangat sulit untuk di ambil. Tapi setelah mengingat kalau pasien sudah tak bernyawa maka kami tetap meneruskannya. Ini kedua peluru tersebut..." Sang Dokter mempeihatkan kedua peluru yang berhasil ia dapatkan dari tubuh Karen.


"Kamu ini dokter macam apa hah...? Kenapa kakakku gak selamat..? Dia itu kuat kamu tahu...!!??" Zino sangat emosi mendengar Dokter mengatakan Karen sudah tak memiliki nyawa.


"Zino...." Cessa menarik Zino yang mencekram kerah baju dokter.


Mau tak mau Zino menerima kenyataan ini meski rasanya sangat sakit. Lorent langsung menghubungi yang lainnya seperti Rindu, dan Lilen. Ia mengatakan kondisi Karen yang tak terselamatkan.


Lorent tak lupa juga menghubungi Ibu Karen. Ibu mana yang tak syok mendengar kabar seperti ini.


"Tapi aku di sini sedang menunggu cucuku lahir... Wanita Karen sedang melahirkan di sini... Astaga Karen...!!!!!!" histeris setelah mendengar anaknya telah duluan meninggalkannya dan tak melihat bayi yang baru lahir ini.


Off dulu kawan.. Oke masih lanjut ya..


Autho juga ucapkan "SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN...."


MAKASIH JUGA SAMA PEMBACA PEMBACA SETIA AUTHOR YANG SETIA MENUNGGU AUTHOR UP YA.. AUTHOR SANGAT SENANG TAHU BANYAK YANG MENUNGGU BAB BAB BARU. STAY DI SINI LAGI YA. SETELAH INI AUTHOR JANJI UP TIAP HARI. MESKI HANYA SATU BAB ATAU DUA BAB.


OOHH YA UNTUK NOVEL AKU YANG DI SIMPAN HAMPIR TAMAT LOOO DAN BABNYA JUGA SUDAH SAMPAI RATUSAN GITU.. JADI MARI MAMPIR..

__ADS_1


__ADS_2