
Cessa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan berseri. Sedangkan itu Karen sedang sibuk dengan laptopnya dan juga gawainya ditangan sungguh apakah karena sedang menyiapkan rencananya juga.
Cessa tidak ingin mengganggu konsentrasi Karen dan memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri.
"Cessa kepalaku sakit.. Pijitin... " mata Karen masih terus menatap laptop dan kadang beralih ke gawainya tapi ia memberikan perintah begitu kepada Cesa.
"Kamukan banyak anak buah diluar suruh aja mereka Kenapa harus aku?"
Barulah Karen mendongak dan melihat Cessa yang sudah mengenakan pakaian yang sedang menyisir rambutnya yang hitam itu dengan sisir.
"Kamu lagi cantik banget makanya aku lagi pengen kamu yang pijitin kepala aku..." Cessa membalik badannya agar menghadap Karen.
"Apa sangkutannya cantik dan pijitin kepala Enggak ada sangkutannya Karen... Kalau sakit kepalanya dipijit pakai tangan masak dipijit pakai cantik nggak ada... "
Karen tersenyum mendengar ucapan kita yang membantah perintahnya
"Baiklah kalau kamu nggak mau... Aduh kepalaku...!" biasa juga langsung terkejut mendengar karena ia mengaduh kesakitan dengan kepalanya
Akhirnya Cessa berjalan mendekati Karen dan duduk disamping Karen
"Mana yang sakit sini" karena tersenyum bagaikan menahan sakit padahal hanya pura-pura. Dibanding Zino, Karen lebih pintar dalam masalah berakting atau berpura-pura, lihat saja sekarang kita mempercayai kebohongan karena tentang sakit kepalanya padahal kepala karena baik-baik saja
Hanya saja karena ingin disentuh oleh Cessa walaupun hanya di kepalanya saja.
Sementara itu ini Zino dan puluhan anak buahnya baru saja tiba di salah satu hotel perbatasan negara. Ya Tempatnya sangat jauh karena Zino pikir dengan tempat yang sangat jauh seperti ini karena akan membutuhkan waktu lama untuk menemukan mereka.
Jadi sempatlah Zino memikirkan rencana berikutnya.
__ADS_1
"Bawa dia ke kamarnya dan siapkan laptopku dan beberapa kamera Aku juga ingin mengikuti gaya bertarung Karen"
Senyum misterius timbul di bibir zino mengisyaratkan sesuatu yang sedang ia pikirkan. Zino memandang pemandangan di depannya pemandangan yang menyuguhkan kota besar di depannya
"Aku yakin kamu akan sangat sulit menemukan aku Karen..."
Entah mengapa sekarang mood Zino benar-benar baik dan bahkan sangat bahagia. Zino masuk kedalam hotel tersebut dan mulai melakukan rencananya.
Karena yang sedang sibuk dengan gawai nya dan juga laptopnya tiba-tiba mendapatkan notifikasi pengiriman sebuah video singkat dari email yang tak dikenal
"Dari siapa ini?" Karen sudah mencurigai Ini pasti ulah Zino
Karen pun membuka notifikasi itu dan memutar videonya.
"Hai Karen apa kabar? Apa kamu mencariku? aku juga sudah mencarimu beberapa hari yang lalu tapi sayangnya kamu sangat pintar sembunyi Oke aku akui itu, oleh sebab itu aku membalas permainanmu. Baiklah Mari kita bermain-main. Apa kamu juga mencari adikmu? Oh aku lupa bilang adikmu bersamaku, ia sangat senang bersama Aku, bahkan kami tadi makan kamu, minum, kami juga makan es krim ya rasanya sangat nikmat kau tahu... Tapi sayangnya... Adikmu jadinya seperti ini..." Zino memperlihatkan Lilen yang terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidur di samping Zino.
Karen tidak terlalu terkejut dengan yang diperlihatkan oleh Zino karena karena sudah tahu jika Zino akan melakukan itu. Tapi Karen yakin ia akan segera membebaskan Sang adiknya karena dengan begitu permainan konyolnya ini juga selesai.
Video itu pun selesai dan tidak ada lagi lanjutannya. Baru saja kalau Karen ingin mencari keberadaan Zino melalui email yang baru saja Zino kirimkan padanya. Tapi Karen pikir akan lebih baik jika karena melakukannya dengan lebih berbeda.
"Lorent... Apa kamu siap?"
Karen menghubungi Lorent dan menanyakan rencana mereka apa Sudah siap atau belum.
Mungkin rencana ini juga sedikit konyol dan terbilang aneh karena targetnya bukan lah Zino melainkan orang lain.
"Siap Tuan semuanya sesuai dengan rencana 1 jam lagi kami tiba" Karen menutup sambungan teleponnya dan melirik Cessa yang masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri seperti keluar ke jendela menatap bangunan-bangunan besar didepannya lalu masuk lagi ke dalam ruangan, keluar lagi ke jendela dan begitu seterusnya. Ya mungkin itu yang disebut rasa jenuh dan bosan menunggu.
__ADS_1
"Apa ada yang kamu inginkan?" sontak Cessa menoleh dan berjalan lagi kearah Karen. Cessa mendudukkan dirinya di samping Karen.
"Aku benar-benar bosan karena apa tidak ada pekerjaan bisa kulakukan dan tanya apa aku hanya bisa diam seperti ini?"
Karen mengelus rambut desa "Memangnya kamu ingin melakukan apa?"
Cessa terdiam sejenak "Aku ingin berkeliling apa tidak boleh?"
Karen berpikir sejenak "Bukannya aku tidak memperbolehkan tapi bahaya mengintai kita terus Cessa aku takut salah langkah dan rencana kita tidak berjalan dengan lancar. Aku tidak takut jika Zino yang mendapatkanmu itu sama sekali bukanlah masalah untukku, tapi yang sedang aku lakukan ini bukanlah tentang rencana kepada Zino melainkan Satu orang lagi yang ingin ikut campur dalam masalahku dan Zino, orang ini tidak bisa kita anggap remeh Aku sama sekali tidak mempermasalahkan antara aku dan Zino, tapi 1 orang ini akan mengancam kita semua Walaupun dia diam dalam ketenangan air."
Benar sekali yang dikatakan oleh Karen dia sekarang bukan menghawatirkan tentang perselisihannya antara Zino tetapi ada hal lain yang ia takutkan kan yaitu Stev Paul.
Karen mendapat informasi kalau Paul juga nyusul mereka ke Amerika dan sudah pasti orang ini juga menyiapkan rencananya sendiri.
Zino benar-benar dalam masalah karena hanya dirinya yang tidak mengetahui kedatangan Stev Paul dan itu yang sangat ditakuti oleh karena takut jika adik dari Zina ini mendapat masalah karena dirinya.
"kita harus secepatnya..." Cessa menoleh kepada Karen wajah Karen benar benar serius dan sepertinya sangat banyak yang ia pikirkan.
"Mungkin aku tidak bisa banyak membantu Karen, tapi aku akan berusaha menjaga diriku sendiri..."
Cessa tersenyum saat Karen menoleh padanya
"Tentu saja tapi ingat aku juga akan selalu melindungimu dan menjadi orang pertama yang akan melindungi kamu. Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa... Entah mengapa aku merasa sangat gembira walaupun pikiranku sedang banyak. Apa kira-kira Zino juga merasakannya?"
Cessa menatap lekat mata Karen
"Mungkin saja kau merasakan apa yang Zino rasakan saat ini karena seperti yang kau bilang tadi Zino masih tidak mengetahui semua kebenarannya ini oleh sebab itu ia merasa bahagia karena sebentar lagi rencananya terus berjalan dengan lancar..."
__ADS_1
off dulu kawan
Oke sudah sampai segini ya... untuk rencana karena di bab selanjutnya akan author kasih tahu dan untuk Zino secepatnya ia akan bertemu dengan Karen karena rencana Karen sepertinya lebih ampuh ya guys... Maaf ya semuanya sekarang agak slow dulu karena autor masih tabung ide-ide dan pemikiran-pemikiran yang akan menambah sensasi berbeda di dalam novel. semoga sesuai dengan apa yang pembaca harapkan. Dan jangan lupa kita crazy up dari tanggal 21 Februari sampai tanggal 27 Februari... satu minggu itu loh titik jangan lupa apa untuk mampir juga ke novel autor lainnya seperti Aku Yang Disimpan dan juga Dendam 100 Kilogram jangan lupa mampir ya...