
Lilen kembali ke kamar mereka dan mendapati keduanya tengah berwajah aneh seperti sedang menahan sesuatu.
"Kalian berdua gak apa apakan?" Tanya Lilen yang baru sampai kamar.
"I.. Iya gak apa apa kok" Jawab Zino.
Bagaimana tidak aneh, keduanya berusaha tidak salah ucap dan harus tampak natural senaturalnya. Tapi malah seperti ini bentuknya.
"Kalian pasti lelah, dan lukanya sakit. Sini aku obati ya.." Lilen duduk di antara Zino dan Jake membuat keduanya semakin panik.
"Siapa duluan?" Tanya Lilen menoleh ke arah Zino lalu arah Jake.
"Tuan Zino"
"Jake aja.." Ucap mereka berbarengan.
"Iihh kompak..." Ucap Lilen mendengar kedua lelaki di kiri dan kanannya.
"Ck gini aja.. Kalian mandi aja dulu biar seger, habis itu aku obatin." Saran Lilen yang melihat tubuh Zino dan Jake yang kotor dan penuh bercak darah.
"Ayo Jake.." Ajak Zino.
"Ayo.." Jawab Jake asal.
"Hah... Kalian mandi berduakah?" Lilen membulatkan matanya tak percaya yang ia dengar.
"Iya.. Ehh.. Gak gak, Jake ini sih sering takut mandi." Ucap Zino asal lagi.
"Haaaahh.. Aku?" Jake menunjuk dirinya sendiri.
"Aah sudahlah.. Tuan mandilah duluan setelah itu tuan ini yang mandi." Ucap Lilen memerintahkan kedua laki laki di dekatnya ini.
Rencana macam apa ini, sangat memalukan. Zino masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Tak habis waktu 10 menit, zino sudah selesai denhan mandinya kini giliran Jake yang mandi.
Tapi ada masalah baru. Zino lupa ia tidk membawa baju ganti dari hotel pertama tadi. Kini ia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Jake yang berada di kamar mandi bingung melihat tidak ada handuk lagi. Padahal tubuhnya sudah basah semua.
"Tuan Zino.. Handuknya..." Ucap Jake dari balik pintu karna Jake sudah tak mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
"Aaaaaa... Kamu... Aku.. Handuknya cuma satu Jake." Ucap Zino dengan gugup.
"Haiiss kalian dua ini.. Kenapa sih.... Ya udah.. Aku ambil handuk lagi sama orang hotelnya.
Dengan kebaikkannya Lilen keluar lagi dan membuat Zino dan Jake menghela nafas leganya.
"Jake kenapa sih kita dua? Sumpah.. Aku ini kenapa?" Tanya Zino meremas rambutnya sendiri.
"Benar Zi.. Aku benar benar payah dalam hal berakting seperti ini. Kita percepat sajakah?" Tanya Jake tak yakin ia akan bertahan hingga akhir rencana ini.
"Tapi jangan deh kita sudah susah payah kayak gini masa langsung selesai aja." Ucap Jake lagi.
" Iya.. Ini semua demi Cessa.." Ucap Zino duduk di sofa.
Lama keduanya terdiam, Zino dengan pikirannya tetang Cessa dan Jake memikirkan Rindu yang sedang di rawat karna mentalnya sedikit terganggu.
Keduanya memiliki dendam masing masing yang harus terbalaskan. Lewat Lilen ini satu satunya jalan.
Ceklek.. Pintu terbuka lagi Lilen kambali dengan dua handuk di tangannya.
Lilen menyerahkan satu handuk pada Jake di kamar mandi dan satu lagi untuknya. Lilen berjalan ke arah Zino dan duduk di samping Zino.
"Eemm.. Tidak terlalu sakit tapi aku baik baik saja." Jawab Zino tanpak biasa saja seperti tak terjadi apa apa, karna baru saja ia menyemangati dirinya dengan nama Cessa. Ini semua demi Cessa.
"Tuan... Jangan remehkan luka kecil, luka ini bisa saja infeksi dan akan memburuk, jadi aku akan tetap obati luka tuan ini." Ucap Lilen langsung mengambil kotak p3k yang dia bawa dari resepsionis tadi dan mulai mengobati luka Zino.
"Tuan saya boleh tahu kenapa tuan menyerang orang itu tadi?" Tanya Lilen sambil terus mengobati.
"Aku hanya bermusuhan juga dengan orang itu." Jawab Zino seadanya tapi tampak natural.
"Apa orang itu musuh kakakku?" Tanya Lilen menatap Zino dengan mata hitam pekatnya, dan mata itu sangat mirip dengan mata Cessa.
Sekejap Zino terdiam lalu kembali ia teringat akan pertanyaan Lilen barusan.
"Siapa nama kakakmu?" Tanya Zino seakan tak tahu.
"Karen Stone..." ucap Lilen terus mengobati luka Zino.
"Oohh Karen, aku dan Karen juga tak bersahabat, tapi untuk masalah musuh yabg tadi aku juga bermusuhan dengannya." Jelas Zino dalam rencananya.
__ADS_1
"Oohh.. Berarti aku jiga harus berhati hati dengan tuan..." Ucap Lilen selesai mengobati luka Zino.
"Hah? Janganlah.. Aku tidak akan menyakitimu, kalau aku mau tadi saja pas kamu di tangkap mereka, sekalian gitukan satu langkah duap pulau terlewati. Tapi aku tidak melakukannyakan.." Bantah Zino tak ingin Lilen menjauhinya dan malah takut padanya karna itu bukanlah rencananya.
"Ehehhee.. Iya tuan aku tahu, makanya aku tetap obati tuan yabg sudah tolong aku." Ucap Lilen lagi. Rupanya tidak ada rasa curiga dari seorang Lilen.
Kini Jake juga selesai mandi, Jake keluar dari kamar mandi dan langsung di panggil Lilen untuk di obati. Smentara Zino meminta anak buahnya uang semunya menginap di hotel yang sama dengan mereka saat ini untui di bawakan baju ganti dirinya dan Jake. Ya karna sebenarnya hotel ini penuh karna semua anak buah Zino ada di sini, karna semua ini seperti awal tadi sudah di rencanakan. Sungguh matang rupanya rencana Zino dan Jake.
Jake juga di obati oleh Lilen dengan kemampuan medis yang ia ketahui. Hery tanpak Tenang dan begitu pula Lilen, tak terlalu banyak bicara karna ia sudah berbicara dengan bosnya tadi yaitu Zino.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu kamar, Zino membukanya. Rupanya anak buah yang Zino mintq untuk mengantarkan bajunya dan baju Jake.
Zino pun mengenakan bajudan celananya di dalam kamar mandi begitu pupa dengan Jake, setelah Lilen selesai dengan perawatannya Lilen juga membersihkan dirinya.
Lilen keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju yang tadi ia kenakan.
"Kamu gak ada baju lain?" Tanya Zino yang menyadari itu baju yang sama.
"Oohh itu tuan, aku gak punya baju lain, kan sebelumnya aku cuma di culik, mana kngqt bawa sagala baju ganti. Tas aku aja gak tahu di mana." Tutur Lilen memang benarnya.
Zino membuka tas yang di hantar anak buahnya tadi dan mengeluarkan kaos laki laki berwarna hitam miliknya.
"Pakai ini dan ini juga, kasihan kamu pakai baju itu lagi. Mending pakai yang ini." Tawar Zino pada Lilen baju dan celana panjangnya.
"Oohh oke.." Lilen mengambilnya dan masuk lagi ke dalam kamar mandi menganti bajunya dengan baju Zino.
Lilen keluar lagu setelah mengenakan baju Zino yang tampak kebesaran di tubuhnya.
"Kita istirahat ya ini sudah malam." Ucap Zino dan berjalan ke arah Sofa. Jake pun sudah di sana mendudukkan dirinya.
"Nona, tidurlah di tempat tidur, kami berdua akan tidur di sini." Ucap Zino lagi mendudukkan dirinya juga di sofa dan menoleh pada Lilen yang masih betah berdiri.
"Aaah iya.." Jujur Lilen juga masih takut pada Zino maupun Jake karna dari penuturan Zino tadi dia juga tak berteman dengan Karen sang kakak, bisa saja Zino melakukan sesuatu padanya. Tapi Lilen berpikir lagi, jika Zino mau melakukannya maka bisa saja tadi saat di gudang penyekapan. Tapi, Zino malah menyelamatkannya dan membawanya ke hotel ini, dan bukan ini saja Zino juga meminjamkan bajunya.
Lilen menoleh ke arah Zino dan Jake yang sepertinya sudah terlelap. " Dia cukup baik sejauh ini, wangi bajunya juga... Eh apa yang aku pikirkan? Jangan bodoh Lilen, dia itu seorang mafia." ucap Lilen dalam hatinya.
Lilen mencoba memejamkan matanya dan perlahan pun ia terlelap. Lilen memanglah manusia biasa yang tak tahu apa apa rencana Tuhan, karna sebenarnya kini Lilen satu kamar dengan jodohnya. Beruntunglah Lilen tak mengetahuinya. Dan tentang rencana Zino sejauh ini berjalan dengan lancar. Zino dan Jake juga selalu siap siaga, anak buahnya juga selalu mengikutinya walaupun tugasnya hanya untuk membuat hotel penuh, tapi tetap saja itu membuat renaca Zino dan Jake sejauh ini lancar.
off dulu ya kawan... koment donk.. kayak apa part Zino seru gak?
__ADS_1