Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 91


__ADS_3

Karen dan Zino pun sama sedang menikmati makan malam, meski tak seenak biasanya tapi demi mengisi perut yang keroncongan keduanya tetap makan ala kadarnya.


Karen melamun, begitu juga dengan Zino. Keduanya larut dalam pikiran masing masing. Tiba tiba Lorent datang dengan kacamata dan laptopnya.


"Maaf tuan, saya membawakan laporan baru dari Canada..." Lorent meminta izin dulu pada Karen, karna melihat bosnya itu sedang makan makanannya.


"Bacakan saja..!" Karen tak peduli terganggu atau tidak.


"Stev Paul dan anak buahnya sudah menghancurkan 8 gudah besar anda tuan, anak buah kita banyak yang terluka di sana, dan dari data ini Stev juga mengambil senjata yang menurutnya bagus... Ia terus mencari gudang anda yang lainnya, saya sudah memerintahkan anak buah kita untuk menyembunyikan senjata yang tersisa itu. Dia juga sempat menganggu di perusahaan tapi karna perusahaan anda di lindungi oleh pemerintah juga maka ia tidak berani bertindak jauh..." Terang Lorent dengan kabar yang baru ia terima.


"Eric menjaga perusahaanku dengan baik ya... Bagus bagus, hanya itu nanti usahaku. Senjata senjata itu biarkan saja, kalau bisa jangan kamu sembunyikan, Minta bantuan Eric untuk memasukannya ke dalam negara, biarkan saja senjata senjata itu untuk Negara. Aku tidak mempermasalahkannya, dari pada kita terus di kejar kejar kan, lagi pula kita akan berhenti sampai di sini saja nanti, kalian semua akan menjadi pengikut Zino, Zino adalah gudangnya perakitan, dan sepertinya Zino dan gudangnya baik baik saja..." Karen menoleh pada Zino yang tak jauh darinya.


"Aku...?" Zino menunjuk dirinya sendiri.


"Aku kan pernah bilang di hadapan kamu sama Cessa, setelah misi mengganggu adikku ini selesai, aku akan berhenti, aku akan menyerahkan kelompok Elang sama kamu..." Karen mengingatkan lagi.


"Hah....?" Masih loading.


"Zino aku ingin berhenti, berhenti untuk terus bersaing denganmu, bagaimana pun juga aku sudah menganggap kamu adikku. Semua yang Ina minta padaku sudah aku lakukan, aku sudah bermain main sama kamu, aku sudah main petak umpet dengan kamu, sudah sering bertengkar sama kamu, rebutan..., apa ya yang belum..?" Karen melihat atas seperti sedang berpikir.


"Kamu mau jadi kakak aku? Kalau gitu jangan berhenti, tetap lindungi aku, kamu kan kakak aku.. Kakak harus bisa lindungi adiknya kan...?!" Zino tak mau kalah juga.


Sebenarnya Zino sedih mendengar ucapan Karen yang ingin pergi meninggalkan dunia mafia. Banyak hal yang pernah mereka lakukan bersama walau dalam kata musuh, apalagi yang sudah menjadi sekutu seperti ini.


"Eeeemm baiklah..." Karen menekan kepala Zino dari puncaknya.


"Iisss.." Cicit Zino.


***


"Kenapa kamu senyum senyum gitu.. Pikir kotor ya..?" Tegur Stev tiba tiba.


"Hah..?" Seketika Cessa tersadar.


"Ck ck ck... Wanita ini.." Stev keluar dari kamar tersebut membawa piringnya.

__ADS_1


Cessa hanya menatap punggungnya. "Apa sih..? Eh air minum mana ya..?" Cessa celingak celinguk mencari air minum.


Cessa menghela nafasnya padahal dirinya sangat haus karna memakan Roti ini. Stev datang lagi membawa satu botol air mineral dan meminumnya sendiri.


Cessa yang melihatnya hanya meneguk saliva. "Jangan Cessa jangan... Jangan tergoda..." Cessa mamalingkan wajahnya dan pura pura menaruh piringnya di nakas.


Menarik nafanya dalam dalam untuk mengurangi keingannya untuk minum. Stev sangat senang menganggunya.


"Apa kamu gak minum setelah makan... Gak haus..?" Cicit Stev setelah meneguk airnya.


"Gak, aku gak haus..." Bohongnya.


"Oohhh gitu.. Ya udah..." Stev duduk di sofanya dan membuka laptopnya.


"Heq.." Cessa menutup mulutnya sendiri dengan satu tangannya.


"Heq..." Tangan yang satu lagi menimpali tangan yang sudah menutup mulutnya.


Stev tersenyum dari balik laptopnya. "Ini air..." Senyumnya juga tak pudar.


"Pyuuuhh..." Stev menoleh dan melihat Cessa yang berusaha menghentikan cegukannya di tepi ranjangnya.


"Heq... Oohhwww" Cessa sangat jengkel rupanya cegukannya masih menganggu.


Stev tertawa kecil melihat upaya Cessa tidak berhasil. Sedangkan Cessa mengeleng geleng pasrah.


Tapi ia tidak menyerah, Cessa mencoba lagi menahan nafasnya lagi.


Stev yakin yang ini pasti berhasil menghentikan cegukan itu, tapi Stev tidak akan membiarkannya.


"Aku punya air, kamu mau gak..?" Stev bersuara lagi.


Mendengar ucapan Stev tak sengaja Cessa gagal menahan nafasnya beberapa detik. "Laki laki ini...!" Gumam kecil Cessa.


Stev bangkit dan berjalan ke arah Cessa. Cessa ketakutan melihat Stev berjakan ke arahnya. "Aduh jangan jangan dia dengar lagi..."

__ADS_1


"Ini..." Stev menyerahkan botol air yang ia minum tadi.


"Ini memang sisa aku, tapi dari pada kamu satu malam ini cegukan bagaimana...? Aku bukannya pelit, tapi kami memang sedang menghemat semuanya, makanan, air, dan yang lainnya. Jadi maaf maaf saja kamu harus berbagi sama aku.." Ucap Stev sambil menyodorkan botol air.


Cessa tidak ada pilihan lain maka ia menerima air mineral itu. Setelah Cessa menerimanya Stev berbalik dan duduk lagi di sofanya.


Cessa akhirnya meneguk air itu, barulah cegukannya terhenti. Stev tersenyum puas.


Stev dengan pekerjaannya dan Cessa dalam diamnya, melewati jam demi jam dan tak terasa sudah malam. Di luar hujan turun dengan derasnya menutup pendengaran siapapun yang mendengarnya.


Cessa menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang ada. Bukan hanya karna ia tidak mengenakan pakaian tapi memang sangat dingin udara yang ada.


Stev meregangkan otot lehernya dan menghentaknya ke kiri dan kanan. Lalu tegak melihat Cessa, dan melihat keluar jendela.


"Cuaca yang sangat mendukung..." Senyumnya mengembang penuh makna.


"Tuan.. Apa kamu punya baju tebal yang bisa aku pinjam" Suara Cessa menyadarkan Stev.


Cessa tidak tahan dengan dingin yang menyerang ini. Apalagi setelah tadi di ceburkan ke kolam, Cessa memilih untuk meminta saja pada laki laki kurang ajar ini.


"Aku gak punya baju tebal..." Stev bangkit dan berjalan ke arah lemari.


Ia membukanya dan memilih baju yang pas untuk Cessa pakai. Stev mengambil jas hitamnya yang mungkin bisa Cessa pakai.


"Ini.." Stev langsung melempar jas itu ke arah Cessa. Jas itu mengenai wajah Cessa dengan tepat tapi Cessa tak peduli dan langsung mengenakkannya.


Jas besar, di tubuh mungil Cessa. Jas itu juga langsung menutupi paha Cessa karna cukup panjang di tubuh Cessa. Cessa juga mengancin jas itu sampai kancing yang teratas. Hanya sampai di tengah dadanya tapi itu lebih baik dari pada tidak menggunakan baju.


Stev menatap Cessa tak henti, wanita yang sedang mengatur jasnya agar pas di tubuh mungilnya. Kulit putih di jas hitam lebih cerah terlihat. Walaupun sudah di kancing tetap saja tidak terkancing sepenuhnya.


Stev....


Off dulu say.. Likenya donk... Dan semua novel author up tiap hari ya.. Coba cek deh.. Aku yang di simpan dan Dendam 100 Kilogram.


Cerita Aku yang di Simpan juga makin seru ceritanya, dan Dendam 100 Kilogram semakin banyak tantangn untuk sang tokoh.. Yok merapat...

__ADS_1


__ADS_2