
Cessa terdiam dan memperhatikan dua sapu tangan yang ia pegang. "Karen apa aku kenapa harus aku yang menyimpan sapu tanganmu ini? Bukankah sebaiknya kamu yang simpan."
"Tapi firasatku ingin kamu yang menyimpanya. Aku kemarin ingin menitipkannya pada Lorent, tapi aahh bisa apa laki laki seperti Lorent." Ucap Karen merendahkan anak buahnya.
"Memangnya kenapa? Lorent itu baik kok.." Ucap Cessa lagi dan memasukan kedua sapu tangan itu dalam tasnya.
"Apa? Kamu memuji Lorentkah?" Wajah Karen sekarang kembali tak bersahabat. Sepertinya Cessa harus jaga jaga ucapannya tentang laki laki lain di depan Karen.
"Bukan.. Aku hanya menilainya kok.." Cessa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Karen menyipitkan matanya menatap Cessa.
"Kamu tahu laki laki yang kamu bilang baik itu tidaklah sebaik yang kamu pikirkan. Lorent itu suka sekali nonton b*k*p. Aku berkali kali sudah bilang sama dia supaya berhenti tapi dia gak mau dengar." Karen berdecak kesal.
"Oohhh" Hanya satu kata itu saja yang keluae dari bibir Cessa yang mengerucut membentuk 'O'.
"Kamu menilai Lorent baik, kalau aku bagaimana penilaianmu padaku.. Apa aku baik atau bagaimana?" Karen masih cemberut dan sama sekali tidak menoleh pada Cessa saat berbicara.
"Kamu? Kalau kamu itu, lucu.." Sontak Karen menoleh dan menatap Cessa dengan tak percaya dan mata membulat.
"Maksudnya? Lucu? Apa yang lucu?" Karen menaikan satu alisnya.
"Iya.. Kamu itu lucu, tapi kamu itu juga cengeng..." Ucap Cessa lagi tak ada sensornya.
"Iyakah? Aku kok gak merasa ya?" Karen menggaruk garuk keningnya sendiri.
"Iya Karen kamu itu lucu, siapa pun pasti akan tertawa jika bersama kamu. Aku saja yang di sekap merasa baik baik saja. Tapi awalnya juga aku takut tapi setelah berhari hari aku di sekap aku merasa biasa saja bersamamu bahkan aku sangat bahagia. Kalau bersama Zino seperti kemarin, aku butuh beberapa waktu untuk dekat dan menerima pertemanan Zino." Tutur Cessa dan itu membuat Karen lega, rupanya ia lebih unggul dari pada Zino.
"Benarkah itu? Aku lebih cepat akrab denganmu di banding kamu dengan Zino?" Karen masih tak percaya.
"Iya..Dulu aku sangat takut dengan Zino" Ulang Cessa lagi.
"Apa itu karna Zino yang mengambil mahkotamu?" Karen menanyakn hal yang sensitif sekali.
"Ka.. Karen apa yang kamu bicarakan.. Iissshhh.." Cessa sedikit terganggu dengan pertanyaan Karen.
__ADS_1
Karen paham akan Cessa yang tak ingin membicarakan hal sensitif itu. "Maaf.. Aku tidak akan membahasnya lagi.. Maaf ya..." Karen adalah laki laki yang sangat peka akan apa yang di rasakan lawan bicaranya apa lagi jika wanita seperti Cessa. Dan Karen juga selalu ingat untuk meminta maaf terlebih dahulu tanpa gensinya.
Cessa melirik Karen dari ujung matanya dan tetap merajuk.
"Sayangku.. Jangan marah. Gak salah kok kalau pun kamu dan Zino sudah...." Cessa menoleh di dampingi pelototan matanya.
"Iya.. Aku akan selalu menerimamu apa adanya.. Aku tidak menuntut kamu untuk sempurna, atau kembali menjadi gadis lagi, aku akan selalu menerima kamu. Karna aku lebih suka wanita dari pada gadis." Karen menarik dagu Cessa dan membuat Cessa menghadapnya dan Karen mengedipkan matanya di kalimat terakhirnya.
"Iisshh Karen.." Cessa semakin sebal.
"Iya iya maaf.. Sayangku.. Maaf." Karen memeluk Cessa lagi.
"Cessa sayang.. Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita..." Kata Karen sambil memeluk dan mengelus elus punggung Cessa.
"Hah? Anakmu yang sama wanita ranjangmu itukah?" sangkanya.
"Bukan... Tapi untuk anak kita berdua sayang." Ucap Karen lagi dan Cessa sudah tak di dalam peluk Karen lagi.
"Hah?" Cessa benar benar tak mengerti jika bukan anak Karen yang sedang di kandung wanitanya lalu anak siapa yang Karen maksud.
"Tapikan.."
"Iya kita belum menikah apa lagi membuatnya. Tapi aku siapkan saja, tak ada salahnya juga." Karen sangat bersemangat.
"Cihh.. Tuh kan aku bilang kamu lucu." Ucap Cessa.
"Lohh... Apa lucunya? Begini, aku siapkan nama anak kita karna aku yakin sayang. Jadi begini nama anak perempuanku Karsa Stone, dan jika anak kita laki laki namanya Zikar Stone.. Apa kamu suka namanya?" Tanya Karen sangat antusias dengan cerita mereka yang satu ini.
"Ya namanya bagus sekali.. Dari mana saja kamu mendapatkan nama namanya itu?" Cessa bertopang dagunya mendengarkan Cerita Karen.
"Kalau nama anak perempuanku itu gabungan nama kita berdua sayang Karen Cessa, Karsa." Ucap Karen dan menangkup pipi Cessa.
"Terus yang nama laki lakinya?" Lagi lagi bertanya.
__ADS_1
"Yang laki laki dari namaku dan Zino.. Zino Karen. Zikar." Ucap Karen lagi kini wajahnya malah sendu.
"Aku kira namamu dengan Zina?" Duga Cessa.
"Sayang.. Hanya ada namamu di hatiku, mana bisa aku menambah nama wanita lain lagi di dalam hatiku.. Dan Zino, dia adalah salah satu orang yang ingin aku lindungi untuk membalas kebaikkan Zina, maka aku akan selalu mengenangnya sebagia rival sekaligus rekan." Karen membelai pipi Cessa dengan lembut.
"Sudahlah ayo kita tidur dulu.. Sepertinya kamu lelah.." Karen menarik tubuh kecil Cessa ke dalam dekapannya. Ingin menolak tapi tak bisa, maka Cessa hanya bisa menuruti Karen.
Perjalanannya pun terus di lanjutkan dengan mimpi di dalam tidur keduanya.
Sedankan itu kini di Amerika Zino sudah menanti kedatangan Lilen di caffe yang ia jadikan tempat pertemuannya dengan Lilen.
Zino juga mendapat kabar dari anak buahnya kalau Cessa dan Karen kini sedang menuju Amerika dan sedang dalam penerbangan. Zino yakin sekali Karen akan mengajak penukaran dengannya. Maka Zino harus segera mendapatkan Lilen segera untuk ia tukar dengan Cessa.
"Sebentar lagi Cessa kita akan bertemu lagi... Dan akanku bawa pulang kamu dan tak akan aku biarkan ada orang lagi yang berani mengambilmu dariku." Zino benar benar tekad untuk mendapatkan Cessa kembali. Bahkan jika itu harus bertarung dengan Karen, Zino juga siap.
"Tuan Zino.." Ucap Lilen yang baru sampai dan masih berdiri di depan pintu.
"Hai.. Kemarilah.." Zino tersenyum menebar pesonanya.
Hati Lilen sangat sejuk menatap Senyum mempesona Zino.
"Apa tuan sudah lama tunggu..?" Lilen kini sudah di depan Zino dan menarik kursi untuk ia duduki.
"Tidak juga, aku juga baru sampai." Bohongnya padahal Zino sudah sampai satu jam yang lalu dan melakukan banyak persiapan.
"Ooohhh.. Maaf ya tadi aku banyak pasien.." Tutur Lilen lagi.
"Pesan saja dulu ya baru kita bercerita cerita. Kata teman temanku di sini masakannya enak enak..." Ucap Zino juga sangat manis hari ini. Lelaki uang mengenakan kemeja berwarna navy itu menambah kesan tampan Zino karma Warna itu sangat cocok dengan kulit dan juga mata Zino.
Zino pun memanggil Pelayan caffe tersebut dan mulai memesan. Begitu pula dengan Lilen ia juga memesan makan siangnya. Keduanya pun mulai saling bercakap cakap ringan saja seperti menanyakan kabar dan lainnya.
Makanan tiba dan..
__ADS_1
Off lagi say.. Inget koment ya.. dan jangan lupa like juga.. karna semuanya itukan gratis say... dan itu sangat mendukung author dalam berkarya..