Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 13


__ADS_3

Zino yang berjalan ke arah Cessa penuh akan rasa takut ia kini hanya berharap Cessa tidak takut padanya.


Saat sudah berada di belakang Cessa, melirik Rindu yang tengah mencoba memenangkan Cessa Rindu yang paham dengan tatapan Zino itu pun terbaca oleh Cessa.


Cessa pun menoleh ke arah mata Rindu menatap dan Cessa menemukan sosok yang tak lama ini ia jumpai saat masih berkerja di lembahnya hidung belang.


Ya Zinolah yang ada di sana, sejenak Cessa terdiam dan terus menatap laki laki yang berdiri tegap di hadapannya kini. Entah apalagi yang Cessa pikirkan kali ini.


Zino yang melihat Cessa menatapnya penuh arti pun tak mengerti apa yang tengah dipikirkan Cessa, tapi hanya satu harapan Zino dan yang salalu ia ucapkan dari tadi di dalam hatinya 'jangan takut sayang' kata kata itu terus Zino ucapkan sampai sekarang. Zino tak ingin Cessa meresa tak takut padanya karna ialah yang membuat Cessa hamil dan mengalami keadaan seperti ini sekarang.


Manik mata saling bertemu, meski air mata tetap mengalir dari pelupuk mata hingga ke pipi mata mereka berdua tetap saling pandang. Melihat reaksi Cessa yang tetap mendangnya meski masih menangis Zino pun maju dan memeluk Cessa dan membawanya ke dalam dekapan dadanya menyalurkan hangat yang tak ada duanya.


Seketika di dekap oleh Zino seketika juga Cessa menangis sejadi jadinya. Kembali berkeluh kesah walau entah apa yang dia ucapkannya karna bercampur tangis. Hanya sedikit yang bisa Zino tangkap dengan pendengarannya. Rindu yang melihat Zino telah memeluk Cessa pun memilih membiarkan dua manusia itu sendiri di dalam ruangan dan Rindu tidak ingin menjadi obat nyamuk.


"Apa yang kau lakukan haaahhhh.. Apa kau datang untuk membunuhku dan anakku? Pasti kau kan yang telah membunuh anakku kan.. Lihat ini" Cessa pun melepaskan dekapan Zino dan memegangi perutnya sendiri "Lihat!!! Dia tidak ada lagi.. Hikkss hikkss... Tidak ada lagi dia... Dia pergi dan meninggalkan aku sendiri. sayangggg... Kembali nak.. Mommy sendiri lagi." Cessa memeluk dirinya sendiri seperti sedang kedinginan.


Zino yang tersayat dengan ucapan Cessa langsung menarik lagi Cessa ke dalam pelukannya. "Ya memang aku yang pantas kau salahkan. Aku. Maafkan aku sayang" CUP.. Kalimat Zino diakhiri kecupan di kening Cessa.


Cessa yang syok pun kembali tak sadarkan diri di pelukan Zino. Zino yang sadar Cessa tak lagi mengamuk di dalam pelukannya langsung berteriak memanggil teman temannya yang masih berada di luar ruangan.


Tak berselang lama dokter pun datang karna panggilan dari Rindu dan memeriksa keadaan Cessa dan kembali memasang infus di punggung tangan Cessa yang sebelahnya karna yang sebelah tadi sudah luka dan berdarah.


Kini jam telah menunjukan pukul 9 malam. Cessa yang masih terbaring di brankar itu belum tersadar dari tidurnya karna tadi dokter menyuntikan obat tidur agar Cessa beristirahat dulu karna ia baru saja memgalami keguguran, jika Cessa tidak dapat mengendalikan dirinya maka akan berbahaya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Teman teman Zino dan juga Rindu sudah kembali ke rumah masing masing.Tersisalah Zino dan Cessa di dalam ruangan. Dari awal Cessa tak sadarkan diri Zino memggenggam tangan Cessa seakan takut Cessa pergi lagi meninggalkan dirinya.


"Aku berjanji sayangku. Aku akan selalu bersamamu. Walaupun kau menolak aku akan tetap ada di sampingmu dan melindungimu. Walaupun harus dengan mempersembahkan nyawaku sendiri." janji Zino sambil terus mengengam dan mengelus pelan rambut Cessa dan merapikannya.


Terlihatlah wajah pucat dan sendu di wajah Cessa, Zino pun mengelus pipi putih itu dan ia sentuh bibir yang pernah ia cumbui itu yang kini pucat pudar dadar. Senyuman kecil pun bersemayam di bibir Zino dengan mata yang basah dan di alairi air. Zino pun mengelus perut Cessa yang rata berharap masih ada yang bersembunyi di sana.


"Nak... Kau lihat mommymu ini, sangat cantik. Matanya, hidungnya, bibirnya. Kalau kau masih di sini Daddy yakin kau akan sangat mirip dengan mommymu. Maafkan Daddy karna Daddy terlambat datang menemuimu dan mommy. Seandaikan saja Daddy bisa memutar waktu dan mengulang semuanya maka Daddy akan segera datang dan semua ini tak akan pernah terjadi, mommymu akan baik baik saja, kamu akan tetap bersama mommy, dan Daddy masih bisa bertemu denganmu walau hanya sekedar mengelus dan mengusap dari balik perut mommymu seperti ini, tapi maaf Daddy tidak bisa nak.. Daddy tidak bisa.. Maafkan Daddy.. Nak, bisakah kau mengabulkan permintaan kecil Daddymu ini? Datanglah dalam mimpi mommy, kuatkan dia." Zino tak dapat menahan tangisnya lagi meski tak bersuara tapi getaran di punggung lelaki berusia 30 tahun itu sangat hebat. Tak dapat di pungkiri bahwa ia juga ingin merasakan bagiamana yang namanya mengelus perut seorang wanita yang bahkan sedang mengandung anaknya.


Mungkin ini terlambat, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Zino masih memiliki harapan karna kini ia sudah menemukan Cessa. Ia akan memulai semuanya dari awal lagi, dari nol.


Malam semakin larut, Zino masih dengan setia berjaga di samping Cessa berharap harap Cessa sadar. Kian berat mats Zino terbuka kala jam sudah menunjukan pukul 3 subuh, sesekali tertunduk dan terpejam akhirnya Zino memeluk tubuh Cessa walau ia hanya terduduk di samping, dan menaruh kepalanya di atas brankar Cessa dan Zino mulai telap.


***


Cessa mengerjap matanya saat jam menunjukan pukul lima subuh dan merasakan ada tangan berat yang memeluknya, ia kira itu Rindu tapi saat ia melihat tangan siapa itu Cessa membelalak mata.


Perlahan tapi pasti Cessa mencoba untuk bangkit dari baringannya. Ia masih merasa sedikit pusing saat hendak bangun. Merasa ada pergerakan dari apa yang tengah ia peluk Zino pun tersada dari tidurnya yang baru beberapa jam itu.


Dilihatnya Cessa sudah sadar dan hendak bangun.


"Kau jangan bagun dulu, kamu masih lemah." Kata Zino pada Cessa yang hendak bangun.


Meski masih tetap ingin bangun, Cessa menurut dan langsung berbaring lagi. Sebenarnya Cessa ingin bangun karna merasa haus. Dan kini Cessa hanya bisa menelan salivanya karna haus.

__ADS_1


Zino yang melihat tampaknya Cessa kehausan pun bangun dari duduknya dan menuangkan air mineral untuk Cessa, lalu ia berikan pada Cessa berharap Cessa meminumnya.


Cessa yang sangat haus pun menerima gelas yang berisi air itu dari Zino. Saat hendak meminumnya Cessa menghentikan keinginannya.


"Apakah ini ada racunnya? " Tanya Cessa dengan suara serak karna memang kering tenggorokannya.


Zino yang mendengar pertanyaan aneh Cessa hanya menaikan satu alis tebalnya.


"Haahh racun?? " Zino berpikir sejenak. Ah Cessa masih tidak dapat mempercayai dirinya.


Zino pun mengambil kembali air yang ia berikan pada Cessa dan meneguknya sampai setengah. Sementara Cessa kembali menelan salivanya melihat betapa nikmatnya laki laki di depannya meminumnya.


"Kita tunggu sepuluh menit, kalau aku kenapa kenapa maka iair ini beracun dan yang akan menjadi korbannya adalah aku. Dan kamu cukup lihat dan perhatikan" Zino berdiri entang entengnya di samping Cessa dan Cessa hanya terus menatap Zino.


Lima menit berlalu Cessa sudah tak dapat menahan hausnya. Cessa terus menatap gelas berisi air yang di minum setengah oleh Zino yang masih tetap berada di tangannya.


Tahan.Tahan. Tak tahan.. Akhirnya Cessa merampas gelas di tangan Zino dan meneguknya sampai tandas walau hanya setengah. Zino yang melihat Cessa sangat kehausan pun mengambil botol air mineral yang tanggung, dan ia serahkan pada Cessa. Cessa meraihnya dan mencoba membukanya ternyata masih di segel dengan rapat. Karna belum memiliki kekuatan Cessa tidak dapat membuka botol air tersebut.


Zino yang melihat adegan tak mampu di hadapannya mengambil kembali botol dari tangan Cessa dan Zino langsung membukanya dengan sekali putar dan langsung ia serahkan pada Cessa kembali. Dam kembali lagi Cessa meneguknya sampai hanya tersisa sedikit di sana.


Melihat adengan di mana Zino membuka segel botol dengan sekali putar kedua pun mendapat ingatan yang serupa. Mereka berdua pun saling pandang


Dan..

__ADS_1


off dulu dah panjang. Jangan lupa komen, like, favoritkan dan vote ya readers tersayang.. Love love.


Salam dari Zino dan Cessa


__ADS_2