Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 19


__ADS_3

Cessa yang termenggu dengan ucapan Zino barusan bingung harus menjawab apa.


"Baiklah bagaimana kalau 3 bulan saja, tidak 6 bulan dan tidak 1 bulan, dan aku memilih ditengah tengahnya saja. Bagaimana menurutmu? " Cessa juga tidak kurang tawar menawar seperti ibu ibu belanja di pasar saja.


"Tiga bulan.?? Baiklah aku mengalah kau dan juga Rindu akan tinggal disini selama tiga bulan. Setuju ya" Zino lagi lagi menyodorkan jari kelingkingnya minta persetujuan dari Cessa. Dan Cessa kali ini langsung meraih jari itu dan saling melilitkan jari yang paling kecil itu.


"Apa kau ingin sekamar dengan Kangen itu atau hanya sendiri? " Tanya Zino setelah kedua jari mereka lepas dari lilitan perjanjian.


"Eemm aku entah kenapa ingin melihat kamarnya dulu. Bolehkah? " Tanya Cessa antusias.


"Tentu saja boleh ayo aku antar. kau sekalian berkeliling rumah ini agar kau tak tersesat. " Goda Zino lada Cessa yang membuat Cessa berdesis kecil.


"Memang kau pikir aku ini anak kecil." Kata Cessa kini tidak dapat ia pendam lagi.


"Hehehe bukannya begitu, tapi memang itu yang akan terjadi nanti kalau kau tak jalan jalan dulu dan akan aku jelaskan beberapa tempat yang dapat kamu gunakan untu bersantai santai. Kamu akan menikmati hari harimu di sini. Begini, kau anggap saja ini liburan ke luar negrikah atau kemanakah kau hanya perlu menikmatinya saja oke Nyonya."


Mereka berdua berjalan menaiki tangga menuju kamar yang akan Cessa tempati sambil berbincang bincang. Sebenarnya Zino memang sengaja mengajak Cessa untuk sedikit berdebat tadi agar Cessa dapat menilai bagaimana sebenarnya seorang Zino. Makanya saat sedang berdebat tadi Zino kebanyakan memohon seperti anak kecil dan bahkan bersikap manja di depan Cessa agar kesan Cessa akan dirinya yang pemarah dan mengerikan itu hilang karna sikap yang baru saja Zino tunjukan tadi saat memohon. Dan itu terbukti, kini Cessa sudah tidak terlalu kaku saat berbincang dengannya, bahkan terkesan santai. Tak sia sia Zino berusaha.


"Ya memang aku belum pernah liburan. Oke aku akan coba. " Jawab Cessa sambil tertawa kecil karna ucapan Zino tentang masalah liburan tadi.


Sampailah mereka berdua di depan pintu kamar yang sangat besar menurut Cessa pintu itu bahkan lebih besar dari pintu kamar normalnya. Ya mungkin karna rumah ini besar jadi pintunya besar juga, pikir Cessa terlalu fokus pada pintunya, haduh apa lagi dalamnya ya pasti besar banget.

__ADS_1


CEKLEK


Pintu kamar itu terbuka dan terlihatlah bagaimana isi kamar dan segalanya di dalam sana. Cessa kemudian hanya bisa menganga terheran heran bukan karna isinya yang mungkin serba besar atau mahal dan sebagainya, tapi apa yang terpampang di atas kasur itu. Banyak foto foto yang Cessa kenal di situ, ada foto seorang ibu sedang menimang bayi mungil ada foto balita sedang bermain kereta bayi, ada anak bayi sedang makan dengan ala bayi yang super belepotan, foto balita yang hendak menangis dan melipat bibir sebelah bawah dengan lucunya dan ditambah lagi matanya yang sudah berkaca kaca, ada juga foto anak kecil sedang bermain dengan sepeda berwarna pink dan masih menggunakan roda bantu, wajah anak itu sangat sumringah dan bahagia. Dan masih ada beberapa foto di atas nakas. Disana terpampang foto seorang wanita dan pria yang sedang berpegangan tangan dan dari belakang mereka berdua ada seorang remaja yang memeluk penuh bahagia, raut wajahnya sangat bahagia. Dan ditambah lagi satu foto yang lain lagi, foto seorang gadis cantik tengah tersenyum.


Tak terasa titik demi titik air mata menetes melewati pipi dan jatuh kelantai. Lidah kelu tapi ingin berbicara, air mata terus berderai, satu persatu ingatan datang bergantian dari setip foto itu memberi kenangan untuk seseorang.


Cessa tidak dapat berkata apa apa lagi. Cessa menoleh kebelakang dan di lihatnya satu pria sedang berdiri dengan santainya bersandar di dinding dan tangannya di masukan ke dalam saku, melipat bibirnya kedalam sambil terus menatap Cessa. Entah apa yang tengah kini ia pikirkan tapi yang pasti wanita yang ada di depannya itu yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Ciihh... Kau memang juaranya dalam masalah menguntit." Sambil terus menangis Cessa meledek Zino walau tak mampu tersenyum, Cessa mengusahakannya untuk mengejek pria di belakangnya itu.


Zino maju dan kini sejajar dengan Cessa dan sama sama memandang satu satu foto di depannya.


"Hei lihat bocah kecil itu menangis. Ck ck ck jelek sekali. Eehh tunggu kok kamu mirip si sama foto itu?" Zino menunjuk satu foto balita yang tengah hendak menangis tadi, lalu menoleh ke arah Cessa dan melihat pemandangan yang sama.


"Heii kamu ini. hahhaha makin mirip hahahaa... " kini Zino menunjuk foto yang lain dengan tangisan yang lebih lagi di foto itu.


"Zino.... " Cessa menghapus air matanya dan kembali memukul lengan Zino karna kesal. Beberapa kali di pukul tapi Zino tetap tertawa dan setelah selesai tertawa Zino menarik Cessa pelan dan mendekapnya.


"Sudahlah. Nanti makin mirip, dan nanti cantikmu hilang, aku tau ini semua fotomu dan semua kenanganmu bersama orang tuamu, makanya aku berusaha mengumpulkannya agar kenangan manis ini tidak hilang. Aku ingin semuanya utuh kembali seperti ini dan aku susun begini bukan tanpa alasan, mendiang ibumu menata kamarnya seperti ini, oleh sebab itu aku juga menatanya seperti ini. Agar kau marasa nyaman disini. Dan aroma ini, ini farfum yang ibumu pakai. Kau ingat?" Zino menoleh pada Cessa yang dari tadi memperhatikan Zino menjelaskan. Cessa kemudian menghirup dan meraup oksigen sebanyak banyaknya dan ia mendapati aroma yang ia sangat kenal. Dengan mata yang tertutup, bibir Cessa tersenyum dan menyebutkan kata.


"Mama"

__ADS_1


Perlahan Cessa membuka matanya dan hanya mendapati dirinya bersama Zino masih dikamar tadi dan hanya memamdang foto foto lama. Sejenak, Cessa membayangkan ada sang mama di hadapannya dan siap memeluknya. tapi bukannya mamanya yang memeluk tapi Zino yang ada di sampingnya yang memeluknya.


Cessa menoleh ke arah Zino dan bertanya


"Dari mana kau tahu?"


"Kau tak perlu tahu cukup kau nikmati saja" jawab singkat ala Zino.


"Kenapa kau menghabiskan waktumu untuk hal hal aneh seperti ini?" tanya lagi.


"Karna aku mau" Makin singkat lagi.


"Kenapa kau melakukan ini?" Masih terus bertanya dan mandang wajah yang sama sejak tadi.


"Karna aku ingin membuatmu bahagia hanya itu. " Kata Zino lagi memjawab dan juga tetap menatap mata yang masih berkaca kaca.


"Kau memang aneh, mencari hal yang tak ada gunanya." Cessa tertunduk menahan tangis.


"Semua ini tidak aneh tapi ini adalah sebuah kebahagian yang tak terhingga untuk seseorang yang paling ingin aku bahagiakan." Zino mengangkat wajah Cessa agar kembali menatapnya dan menghapus air mata yang akan jatuh kelantai itu.


off dulu.. panjang tu readers. para readers jaga kesehatan ya.. biar terus baca novel otor ini. semangat ya bacanya readers love love dari Yuresia Ca. Jangan lupa komen, like, favoritkan dan vote juga otor ya.. bantuin otor.. pliissss

__ADS_1


Bye bye...


Salam dari Zino dan Cessa


__ADS_2