
Cessa sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi hanya bisa pasrah dengan keadaanya sekarang. Tapi jujur Cessa berharap Zino datang dan menyelamatkannya sekarang.
Meninggalkan harapanya kini di hadapan Cessa ada harimau yang tenga kelaparan nampaknya. Lidahnya bergoyang goyang seperti sedang mencari rasa manis di bibirnya sendiri.
Mata Hitam pekat Cessa bertemu dengan mata Elang indah Karen. Entah mengapa Cessa berani memandangi mata elang itu. Begitu pula dengan Karen yang sepertinya sudah tidak sabar menyantap mangsa di depannya.
Dengan tenaganya Karen membakil posisi mereka berdua sekarang. Kini Cessa berada di bawah kekungan Karen Karen terus mengelus wajah cantik Cessa. Dan tiba saatnya Karen meraup bibir Cessa dengan rakusnya meraup semua rasa yang ia inginkan dari Cessa saat itu juga. Apa yang bisa Cessa lakukan? Tidak ada. Hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya.
Karen melepaskan pengutannya dan kembali menatap wajah Cessa. "Kamu wanita yang sangat patuh rupanya. Pantas saja Zino menyukaimu. Aku juga menyukaimu.." Ucap Karen lagi setelah itu kembali meraih bibir Cessa dan melanjutkan pengutannya.
Gairah Karen semakin di pacu saat Cessa tidak bisa diam karna mencari oksigen untuk ia bernafas. "Kenapa sayang.. Apa kamu mau juga sekarang?" Suara serak serak Karen begitu mengganggu pendengaran Cessa.
Satu leguhan dari Cessa saat kembali mendapat oksigen memancing Karen untuk melakukan hal yang lebih dari ini.
Karen mengunci tubuh Cessa dengan kedua pahanya dan tangan Cessa di kunci oleh tangan Karen sendiri. Dan tangan Karen yang satu lagi beralih ke dada Cessa.
Wajah bahagia Karen benar benar menakutkan saat ini. Antara wajah ingin dan wajah bahagia yang menjadi satu. Di mata Cessa mengerikan.
Mendapat apa yang ia inginkan benar benar menyenangkan. Apalagi bila seperti saat ini. Tiada duanya menurut Karen.
Tak puas bermain di luarnya saja Karen memilih untuk melepaskan baju yang Cessa kenakan saat ini juga.
KRAK...
Baju itu di robek paksa meninggalkan dalamnnya saja lagi.
Puas? Belum... Karen belum puas..
Karen meneliti bagian bagian itu mencari jejak mungkin.
"Apa Zino tidak menyentuhnya? Apa Zino tahu ukuranya?" Ocehan Karen yang tak mau di tanggapi Cessa.
SREKKK...
Lepaslah pertahanan akhir dari bagian itu.
Cessa sangat ingin menutipinya dengan tangannya. Tapi tanganya masih di kekang oleh Karen dengan sangat erat.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Kamu ingin menutupinyakan.. Sini aku tutupi." Karen melancarkan lagu serangannya pada Cesaa.
"Tidak...." teriak Cessa tidak tahu harus berucap apalagi..
"Oohj tuhan... Kenapa ini semua terjadi padaku... Kenapa aku yang begini.." Rasanya Cessa tidak ingin lagi manggapi apapun yang Karen lakukan. Tapi apapun uang Karen lakukan padanya Cessa bisa merasakannya dengan benar.
Mau bagaimanapun mulutnya diam, tapi tetap saja atau suara suara yang di keluarkannya. Mambuat sang pbuat onar terpacu untuk melakukan lagi lagi dan lagi.
"Kau suka sayang? Mau lagi?" Tampak di wajah Karen bahagianya. Cessa mengelengkan dengan capat kepalanya. Tak ingin hal yang lebih di perbuat Karen kepadanya.
"Tapi aku masih ingin... Boleh yah..." Tanpa persetujuan pemilik Karen kembali malakukan apapun yang ia sukai di sana.
TOK TOK TOK...
"**** men" Karen bangkit dari ranjang dan meninggalkan Cessa yang sedang mengatur nafasnya yang terengah engah akibat kegiatan Karen dengannya.
"Apa?" Karen sangat kesal pada Asistennya yang telah mengganggunya di saat saat seperti ini.
"Tuan.. Markas kita berjumblah 20 sudah di musnahkan oleh kelompok tulip hitam. Apa pergerakan selanjutnya. Tolong berikan pendapat tuan kali ini. Kami akan melakukan apapun yang tuan perintahkan." Ucapnya tampa titik tanpa koma. Bahkan menarik nafas tidak ada.
"Ah... Ba.. Baik tuan.." Mungkin asisten itu kagat mendengar intruksi dari tuannya.
Karen kembali masuk lagi ke kamarnya dan Karen melihat Cessa sudah menutupi tubuhnya dengan selimut putih ranjang itu.
Semyum indah Karen muncul lagi. Sangat lucu melihat wamita di depanya ini. Jika biasanya para wanita siap di telanjagi oleh Karen dan memmamerkan kemolekkannya, tapi wanita ini malah menutupi tubuhnya dengan selimut tebal itu siang hari buta.
Karen naik lagi ke atas ranjang itu dan menindis selimut Cessa itu. Cessa berusaha menarik selimutnya lagi tapi sudah tertindis lutut dan tangan Karen. Karen merangkak bagaiakan anak bayi umur 7 bulan.
Sedangkan Cesaa terus memundurkan tubuhnya agar tak terjangkau Karen. Tapi malah membuat selimutnya terbuka karna tidak bisa mengikuti Cessa mundur.
Cessa menutupi tubuhnya dengan tanganya saja. Ketika Karen sudah di depan Cessa, Karen merebahkan tubuhnya dan bersandaran pada dada yng Cessa tutup tutupi.
"Aku ingin istirahat. Aku mohon. Tetap begini dulu ya..." Karen memejamkan matanya menikmati hembusam nafas Cessa yang menerpa kepalanya.
Beberapa menit berlalu masih dengan posisi yang sama. Sepertinya setelaj puas bersandar di sana, Karen bangkit dan kembali menatap wajah cantik Cessa yang nampak sedikit tenang sekarang karna Karen tidak melanjutkan kegiatan nakalnya.
"Apa posisi seperti ini sakit? Apa aku berat?" Pertanyaan bodoh Karen pada Cessa.
__ADS_1
Bingung menjawan apa Cessa pun menggeleng tapi setelah itu mengangguk.
Senyum Karen mengembang lagi. Tiba tiba terdengar bunyi perut Cessa yang sepertinya kelaparan.
"Kamu lapar ya..? Ya sih aku aja lapar.. Ayo kita makan. Mau makan di sini atau makan di bawah?" Tanya Karen seolah hilang sudah Mafianya.
"Terserah saja.."Cessa mengeluarkan suara kecilnya.
Karen mencubit pipi Cessa dengan gemas. "Baiklah kita makan di bawah saja ya.." Karen pergi ke kopernya dan mengambil baju untuk ia kenakan.
Sementara itu Cessa bingung harus mengenakan apa sekarang saja dia tidak mengenakan apa apa hanya dalaman yang ada.
Karen baru menyadari kenapa Cessa tidak turun dari ranjangnya. Baru Karen teringat baju Cessa sudah ia robek dan sudah berserekan di lantai sekarang.
Karen mengambil kemaja berwarna putih untuk Cessa.
"Ini kenakan." Karen menyerahkan baju baju itu pada Cessa setelah itu keluar terlebih dahulu dari Cessa.
"Pakai ini?" Cessa melihat lihat kemaja yang baru saja laki laki aneh di depanya berikan.
Beberapa menit kemudian Cessa keluar dari kamar mandi. Cessa baru saja membersihkan tubuhnya yang baru saja di sentuh Karen dengan paksa. Dan juga mengenakan baju yang di berikan padanya tadi
Ternyata Karen sudah menunggu Cessa di sofa dengan santainya dengan wajah seperti tidak ada dosa di dunia ini.
Karen menatap Cessa dari atas sampai bawah.
"Ada yang kurang sepertinya." Karen maju ke arah Cessa dan mengambil jas yang tadi ia kenakan saat menagkap Cessa siang ini.
Cessa yang melihat Karen menuju padanya langsung memundurkan dirinya sampai sebisanya.
Tapi dengan tenaganya lagi karen menarik pinggang Cessa dengan sangat cepat.
Setelah Cessa di peluknya Karen kemudian mengikatkan jas hitamnya itu di pinggang Cessa.
"Aku tidak ingin anak buahku melihat hal yang tak patut mereka lihat. Mereka masih bocah..."
Cessa...
__ADS_1