
Lorent menatap tak percaya tuduhan yang di berikan Rindu padanya.
"Bukan begitu sayang.. Aku cuma tergoda kemarin itu.. Gara gara aku nonton video panas di laptop" Lorent mengakui kerjadian itu.
"Ya sudah.. Ayo lanjut ceritanya lagi.." Pinta Rindu. Karna sudah lewat dari kisah panas tadi Rindu merasa aman mendengarkan lanjutannya.
"Ya.. Aku pulang ke rumah dengan amarah.."
Lanjut lagi..
Lorent pulang dengan keadaan marah. " Berani sekali dia... Aku gak bisa biarkan.. Jadi dia mau melakukan itu terus dengan aku.. Oke.. Ayo.. Siapa takut.." Lorent menyusun rencana baru.
Meski ia seorang anak buah Mafia, ia tidaklah suka bermain dengan wanita sesuka hatinya, apa lagi sampai wanitanya yang mendominasi.
Minggu berganti, sudah seminggu setelah kejadian malam panas Isabel dan Lorent. Lorent seolah sudah lupa dengan kejadian itu tapi di pikiran Isabel malam itu terus terulang.
"Aku mau lagi.." Bisik Isabel seorang diri.
"Hei apa yang kamu mau lagi.. Tuh sana bos panggil ke ruangannya.." Yuna salah satu teman semeja Isabel membuyarkan lamunannya.
"Ooohh ya.." Isabel segera berjalan ke arah Ruangan besar Lorent.
"Aaahh calon suami aku.. Apa dia ajak nikah..?" Isabel mulai berkhayal tinggi.
"Kalau dia gak mau.. Mungkin harus sedikit di paksa.." Isabel mengeluarkan ponselnya.
"Tuan memanggil saya...?" Isabel masuk dan menemui Lorent.
"Aku mau ini.." Lorent hanya memberinya tugas kantor untuk Isabel. Tidak ada seperti bayangan Isabel tadi.
"Tuan Lorent..?" Isabel memanggil Lorent.
"Eeemm apa ada yang kurang..?" Lorent tetap fokus pada pekerjaannya.
"Eeemm malam itu.. Kita.."
"Sudahlah.. Aku gak mau ingat cerita itu lagi." Lorent memperbaiki kacamatanya.
"Tapi apa kamu gak takut hasilnya...?" Lorent terhenti dengan kegiatannya.
"Maksud kamu..?" Lorent menaikkan satu alisnya.
"Eeemm" Isabel tiba tiba berubah menjadi centil dan manja.
__ADS_1
"Aku rasa mungkin kita akan segera punya Baby.." Isabel mendekatj Lorent dan naik ke atas pangkuan Lorent.
"Kamu mau apa sih..?" Lorent mulai jengkel.
"Aku cuma mau kamu kok.. Aku mau kayak malam itu lagi." Isabel memainkan dada Lorent.
"Mau..?" Lorent tersenyum nakal.
"Aahh kamu juga pasti mau kan.. Ayo Lorent.. Kamu kan bosnya.. Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau.." Isabel makin jadi ia semakin melancarkan tangan nakalnya.
Mulai dari dada, sampai bawah bawahnya juga ia mainkan. "Ayo Lorent..." Bisik seksi Isabel lagi.
"Kita ke kamarku ya.." Lorent menggendong Isabel dengan lengan kuat dan gagahnya.
"Waaahhh kamu benar benar gagah.. Bukan cum gagah di ranjang tapi di mana mana tetap gagah.." Isabel bergelayut manja di leher Lorent.
Lorent membaringkan tubuh Isabel di tempat tidur. " Tapi aku ada syarat untuk permainan yang kali ini.. Aku ingin.." Lorent mengambil sehelai kain panjang di meja.
"Kamu tutup mata kamu pakai ini.. Malam itu kamu sangat bersenag senang dengan tubuh aku kan.. Jadi kali ini gantin ya.." Lorent sangat lembut dalam meminta ini.
Tentu Isabel terggoda mendengarnya, tanpa pikir panjag, Isabel menyutujuinya dan bersedia di tutup matanya oleh Lorent.
"Kali ini kamu gak akan bisa lolos.. Maaf ya.. Jika ini sangat kasar.." Lorent membuka pintu dan masuklah anak buah Lorent yang lainnya. Mereka yang menyukai Isabel pun ada di sana.
"Lakukan tugas kalian dengan benar.." Perintah Lorent.
Para pria itu mulai tugas asik mereka dari Lorent. Ini sangat menyenangkan meski harus bergiliran.
"Gilir terus..." gumam Lorent menonton permainan ini.
Kakinya bergerak. Lorent mengoyangkan kakinya dengan gembira. Semua anak buahnya sangat bersenang senang.
"Uuuhhh.. Lorent.. Kamu kuat sekali.." Isabel sepertinya sudah kelelahan. Padahal sudah orang yang kelima. Tentu saja Isabel kelelahan.
"Lorent kok ini beda ya..?" Isabel merasa aneh karna tak mendengar leguhan dari Lorent seperti yang kemarin.
"Lorent.." Isabel membuka matanya dan melihat beberapa pria yang bukan Lorent yang mengerumuninya.
"Eeehh.. Mana Lorent.. Lorent ku.. Lorent tolongg aku di Perko**a.. Aaaaaa.." Isabel panik.
Tangan Isabel menolak dan mendorong tubuh pria pria yang mendekat. Tak kurang juga ia berteriak minta tolong, ada yang membuatnya sakit pun ia berteriak mengeluh sakit.
"Tahan tangannya.. Keroyok aja gak apa apa.." Lorent bersuara.
__ADS_1
"Lorent tolong..!!!" Isabel mengerang dalam sakit yang ia rasa. Laki laki itu mengeroyokinya. Tubuhnya habis di jamah bersamaan para pria itu.
Semenjak kejadian itu Isabel tidak pernah terlihat lagi. Banyak kabar yang mengatakan kalau Isabel menjadi gila karna ia hamil entah anak siapa. Dan akhirnya Isabel melakukan aborsi, tapi itu malah merenggut nyawanya juga.
Flashback Off dan selesai semua cerita Lorent...
"Oohhh" Rindu mengangguk paham.
"Ya.. Tempat dia gugurkan kandungan itu ilegal, jadi perawatanya kurang dan dia ya di jemput Martin.." Rindu berpikir setelah mendengar ucapan Lorent barusan.
" Di jemput Martin..?" Rindu mengulangi kata yang aneh di telinganya.
"Ya.. Ada kan malaikan maut yang warna hitam itu.. Aku bilangnya itu Martin.. Bahkan Martines.." Lorent tersenyum dan Rindu mencubit dada Lorent.
"Dasar bodoh.." Ponis Rindu pada Lorent.
"Ya.. Aku bodoh dan aku cinta kamu.." Bisik Lorent lagi.
"Lorent.. Aku baru liat looo.. Kamu ada jenggot.." Rindu mengangkat dagu Lorent.
"Hah.. Adakah...?" Lorent tidak menyadarinya.
"Ya.. Aku cabut ya.." Pinta Rindu.
"Sayang.. Sayang.. Kita tidur dulu.. Besok kamu cabut ya.." Lorent menghindar dengan alasan tidur.
"Tapi aku mau sekarang..!" Pinta Rindu lagi.
"Ya ampun sakit nanti.."
Sepertinya hubungan mereka semakin membaik sekarang.
"Sepertinya benar yang di katakan Nyonya Cessa. Aku memang hanya perlu jujur dengan Rindu dan ia akan membuka hatinya untukku dengan mudah" Gumam Lorent meski ia ketakutan Rindu mencabut jenggotnya.
Sebelum ini, Cessa menasehati Lorent. Cessa melihat cinta Rindu memang untuk Lorent tapi, Lorent sudah membuat Rindu tak percaya padanya karna tak segera mengatakan kebenaran tentang hubunganya dengan Lilen sebelumnya. Cessa meminta Lorent untuk jujur saja pada Rindu agar tidak menimbulkan rasa tak percayanya akan Lorent semakin parah.
Lorent mencobanya. Ia berusah jujur. Tapi ia tidak memiliki rahasia lain, selain pertunangannya dengan Lilen, Lorent tidak tahu lagi apa yang Rindu tidak ketahui. Rindu sudah tahu kalau ia seorang anak buah mafia. Lama berpikir, akhirnya Lorent mendapat ide untuk mengatakan jujur apa yang sudah ia perbuat di masa lalu dengan seorang wanita yang menyukainya dengan berlebihan menurutnya.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Rindu setuju untuk tidur bersama Lorent tapi dengan Syarat besok, Rindu akan mencabut Jenggot Lorent. Mau tak mau Lorent setuju dan keduanya tidur dengan nyenyak penuh cinta dan peluk hangat.
Sedangkan itu Cessa dan Zini sedang begadang dengan Baby Karsa. Bayi kecil ini sepertinya hanya ingin bermain dengan Mommy dan Daddynya satu malam ini.
Zino....
__ADS_1
Off dulu ya.. Dh 2 bab ni guys.. I love you.. Mohon dukungannya ya..