
Hampir sebulan sudah Cessa dan yang lainnya di rumah Zino. Sedangkan Lilen nyaman di rumahya sendiri.
Zino masuk ke dalam kamar Cessa dan Baby Karsa. Keduanya sedang tidur siang yang nyenyak. Zino tersenyum melihatnya.
"Kalian berdua adalah harta aku yang paling berharga..." Zino sudah sangat senang akan kehidupannya.
Beberapa hari lalu Lorent dan Rindu resmi menikah. Rindu dan Lorent membeli rumah tak jauh dari kediaman Zino. Rasa bahagia melihat Lorent dan Rindu berbahagia di pernikahan mereka membuat Zino juga ingin melakukan pernikahan. Yang pastinya dengan Cessa.
Zino mulai membayangkan pernikahanya dan Cessa. Cessa pasti akan terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Putih, bersih, cantik lagi. Itulah yany terbayang bayang di kepala Zino.
"Zino..?" Cessa bangkit dari baringnya.
"Looohh kok kamu bangun..?"
"Ya bangunlah, ada yang elus elus rambut aku.." Cessa mencari penjepit rambutnya.
"Hehehehehe.. Maaf aku suka rambut kamu sayang.." Zino mengambil penjepit rambut Cessa dan menbantu Cessa menggunakannya.
"Sudah Rapi.." Zino sudah selesai memakaikan Cessa penjepit rambutnya.
"Makasih.."
"Zi.. Ada yang mau aku bicarakan.." Ucap Cessa tiba tiba.
"Apa?" Zino beralih ke baby Karsa dan menciuminya.
"Issshh kamu ini nanti baby Karsa bangun.. Biarin aja dia tidur.." Cessa menarik baju Zino.
"Oke oke . Bilang aja kalau kamu takut baby Karsa bangun terus minta susu tapi bukan yang Dodot.." Zino mengedipkan matanya.
"Ya dan aku gak mau ada yang ikut ikutan nyusu kayak baby Karsa..." Sarkas Cessa juga.
"Aaiisshh hafal ya.." Ledek Zino.
"Zi.. Ada yang mau aku omongin sama kamu.." Cessa tetap mengalihkan pembicaraan karna memang ada yang ingin ia bicarakan dengan Zino.
"Ya ngomong aja sayang.. Apa.. Kamu mau nikah kah.. Kasian kan baby Karsa cuma punya Daddy daddy'an kayak aku.. Kalau ada Daddy beneran kan lebih bagus." Asal bicara Zino mengeluarkan isi hatinya.
"Kok malah aku yang nikah.. Kamu itu yang nikah... Aku tadi dapat kabar dari Rindu, dia hari ini ke rumah Lilen.. Dia bilang Lilen muntah muntah, jadi Rindu hubungi Lorent dan minta Lorent bawa Lilen ke rumah sakit terdekat. Dan ternyata.."
"Apa..?" Zino memucat.
__ADS_1
"Lilen hamil.." Cessa menganggukan anggukan kepalanya.
"Astaga.. Aku harus kasih tahu Jake.." Zino hendak bangkit dari tempat duduknya sekarang.
"Eeehh mau kemana.. Kenapa dengan Jake..?" Cessa menahan tangan Zino.
"Jake harus tau wanitanya hamil.." Zino ingin bangkit lagi Cessa tetap menahannya. Hingga Zino terjatuh dari tempat tidur.
"Sayang apa lagi..?" Zino sudah ingin cepat cepat kabur.
"Zi.. Yang bertanggung jawab bukan cuma Jake, kamu juga salah satu tersangkanya.. Ingat itu.. Jangan kamu mau kasih semua tanggung jawab kamu itu sama Jake.." Cessa menjewer Zino.
"Ya ampun Cessa.. Mengertilah.. Kalau aku sama Lilen kamu sama siapa..?" Zino melepaskan tangan Cessa dari telinganya.
"Aku..? Kenapa lagi sama aku..?" Cessa berkacak pinggang.
"Kamu juga harus di nikahi.. Aku sudah beberapa kali masukkan.. Dan semuanya masuk sempurna.. Kalau nanti kamu.." Cessa segera menutup mulut Zino.
"Zi.. Kalau pun aku hamil kayak Lilen.. Aku juga gak tahu siapa Daddynya.." Cessa merasa lebih kotor dari siapa pun.
"Apanya..? Itu aku yang buat.." Zino bangkit dan memeluk Cessa.
"Jadi kamu juga belum datang?" Zino menatap Cessa.
"Ya Zi.. Dan kalau aku hamil.. Aku gak akan pernah tau itu anak siapa.." Ingatan Cessa seakan terulang lagi. Perncintaannya dan Karen yang terjadi beberapa kali.. Dan percintaannya dengan Stev juga beberapa kali.
Beberapa bibit dari para laki laki itu semuanya di masukkan di dalamnya. Entah yang mana yang akan jadi. Atau tidak akan ada yang jadi, dan semua itu membuat Cessa bingung.
"Cessa.. Apa kamu dan Stev hari itu benar benar melakukan yang seperti Stev pamerkan pada kami..?" Zino memberanikan diri untuk bertanya.
Cessa tak berani menjawab dengan mulutnya maka ia menjawab dengan anggukan saja.
"Berapa kali..?" Zino terus bertanya.
"Dua.." Cessa menjawab seadanya.
"Kalau Karen..? Pernah juga kan.. Apa.. Bagaimana.. Eeemm" Zino mulai bingung memberi pertanyaan.
"Kalau yang aku ingat aku dan Karen dua kali juga. Dan Stev.. Dua kali juga.." Cessa menarik nafasnya.
"Apa mereka memasukkannya di dalamnya..?" Zino memegangi perut Cessa.
__ADS_1
"Eeemm" Cessa mengangguk.
"Apa pun yang terjadi.. Entah itu anak Karen atau pun bajing*n itu.. Aku gak peduli.. Dia adalah anak kamu.. Bukan anak mereka.. Tapi kalau itu anak Karen.. Aku masih bisa mengerti tapi kalau..." Zino menatap lantai. Ia ingat sekali saat ia mengakat pedangnya dan dengan satu tebasan memutuskan kulit dan isi Stev.
"Makanya aku bilang Zi.. Lilen juga butuh kamu.. Siapa tahu itu anak kamu.. Dia juga butuh kamu.." Cessa tetap ngeras untuk Lilen dan Zino.
"Aku gak bisa.. Aku cuma mau kamu.." Zino tak terima jika harus bersama Lilen padahal yang ia cintai adalah Cessa.
"Lalu kalau aku.. Aku sudah gak ada tamu bulanan dari saat Karen, lalu di tambah Stev... Zi.. Kira kira kalau aku hamil ini anak siapa?" Cessa menatap sangat berani pada Zino.
"Anakmu.." Jawab Singkat Zino.
"Aku gak tahu siapa Daddynya.." Cessa sedikit mengeraskan suaranya. Baby Karsa bergerak karna terkejut.
"Eehh cup cup cup sayang.." Cessa menenangkan Baby Karsa.
"Zi... Mengertilah.." Cessa berharap ada sedikit pengertian darj Zino.
"Aku gak ngerti apa apa.. Yang aku tahu aku cinta sama kamu.. Itu aja." Zino memeluk Cessa bahkan ia mengelus perut Cessa.
"Zino.. Tapi kalau Bayi yang di kandung Lilen ternyata anak kamu gimana..? Jake gak akan mau tanggung jawab lalu kamu juga gak mau, apa yang akan terjadi sama Lilen..?" Cessa terus bertanya.
Mungkin yang satu ini pertanyaan yang tersulit yang Cessa berikan pada Zino, oleh karna itu Zino cukup lama terdiam.
"Itu gak akan terjadi.. Itu anak Jake.. Bukan anak aku.." Zino tetap kekeh.
"Zi..." Belum selesai Cessa berucap, Zino sudah membungkam bibir Cessa dengan bibirnya.
"Aku mencintai kamu apa adanya Cessa. Aku sudah sering bilang, aku cinta kamu apa adanya.. Aku gak peduli kalau kamu hamil anak Karen kah.. Anak Stev kah.. Aku gak mau tau, yang pasti kamu dan anak kamu nanti punya aku.. Bahkan Karsa juga punya aku.. Aku Daddynya.. Aku.." Zino menatap Cessa dengan tatapan yang jauh berbeda dari yang namanya tatapan penuh kasih sayang. Penuh penekanan dan amarah tak setuju.
"Eeemmm.. Lalu.. Aku harus apa Zi.." Cessa mengelus pipi Zino agar laki laki ini tenang.
"Cukup kamu terima aku dan tetap cintai aku.." Zino meraup lagi bibir Cessa.
Cessa tak bisa berbuat apa apa lagi selain menerimanya, mengikuti apa yang Zino lakukan dengan Bibirnya.
***
Sedangkan itu Lilen...
Off dulu ya.. Kita main tegang selow tegang ya.. Asik kok..
__ADS_1