
Braaakkk..
"Jake..!!" Lilen berteriak.
"Sial.." Jake juga terkejut dengan dahan yang patah tiba tiba itu.
"Jake.. Hati hati..!!!" Teriak Lilen lagi lebih kencang.
Semua orang menatap Lilen. Cessa tersenyum melihat betapa khawatirnya Lilen pada Jake. Bella pun suka melihat Lilen yang menyemangati Jake.
"Dia..?" Jake masih di atas pohon dan mendengar semuanya dengan jelas.
Dahan yang Jake dudukki itu patah, untungnya hanya bagian yang rapuh yang patah, bagian yang Jake dudukki baik baik saja.
Secepatnya Jake berpindah dari dahan itu ke dahan yang lebih kokoh lainnya. Meski hati Jake sedikit hangat mendengar teriakkan Lilen yang mengkhawatirkannya.
Seulas senyum di bibir Jake mengingat teriakkan nyaring Lilen tadi. Jake masih melanjutkan pekerjaannya di atas sana beberapa ikatan lagi maka akan selesai.
Lilen di bawa sana dengan yang lainnya juga setia memperhatikan Jake. Hati Lilen berdoa agar secepatnya Jake turun dari atas pohon itu. Setidaknya hatinya tidak merasakan rasa ini lagi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian barulah Jake turun perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit pula Lilen merasa lega.
Satu lompatan tinggi dari atas mendaratkan Jake dengan selamat. Jake menepuk nepuk tangannya membersihkan kotoran yang menempel di tangannya. Berjalan perlahan ke arah Lilen dan yang lainnya.
"Jake.. Jake.. Kamu ini.. Bisa gak hati hati.." Lilen langsung mengomentari Jake.
"Ya aku juga gak tahu, dahannya tiba tiba patah.." Sahut Jake.
"Kamu buat Lilen panik aja.. Kamu gak dengar betapa paniknya Lilen tadi, dia teriakki kamu.." Bella ikut menimpali.
Jake melirik Lilen, secepat mungkin Lilen melempar pandangan ke arah lain. Bukannya karna malu di bicarakan, tapi Lilen lebih takut melihat keringat yang mengalir dari kening ke pipi, dari pipi ke dagu, dari dagu ke leher, dari leher ke dada di balik baju tipis berlengan pendek itu.
"Ya.. Nanti aku lebih hati hati.." Jake menjawab dengan sangat lembut. Suara itu bahkan berhasil membuat Lilen berbalik menatap Jake.
Jake tersenyum lalu berjalan ke arah Lilen yang akhirnya tak bisa melepaskan tatapan dari Jake.
"Aku gak apa apa.." Jake mengusap puncak kepala Lilen sambil tersenyum manis.
Rasa sentruman kuat menyambar Lilen. Usapan lembut itu membuai Lilen sepenuhnya. Meski usapan kecil tapi reaksi besar yang di rasakan Lilen.
__ADS_1
Jake segera berlalu dari hadapan Lilen setelah usapan itu. Rasanya tubunya kegatalan karna memanjat pohon itu tadi. Jake membuka bajunya, menaruhnya di rumput, bajua basah karna keringat itu menjadi pandangan utama Lilen.
"Oohhh ya ampun mataku.." Lilen rasanya sangat malu jika ketahuan sedang memandangi baju Jake.
Beralih dari baju itu malah mendapati Jake yang tak mengenakan baju. Dada terlihat jelas, dada bidang mulus, tato di lengan, bekas luka di punggung terlihat jelas.
"Astaga.." Gumam Lilen
"Kenapa..?" Cessa di samping Lilen dan bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan Lilen.
"Aahh gak kok.." Kilah Lilen.
"A.. Aku masuk rumah aja.." Lilen langsang pergi dari lapangan itu denga rasa malunya yang sudah di ubun ubun.
"Lilen apa yang kamu lakukan kenapa kamu protes Jake yang gak hati hati.. Kayak paham aja.." Gumam Lilen sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Lilen mengusap lengannya sendiri. Padahal cuaca sedang panas teriknya tapi setelah melihat Jake di atas pohon tadi membuat Lilen merasa kedingin.
"Ck ck ck ck.. Anak itu.. Kalau cinta yang tinggal bilang cinta. Kalau sayang ya tinggal bilang sayang.." Bella membicarakan Lilen.
__ADS_1
Jake memadang punggung Lilen yang semakin menjauh. Rasanya ia bersalah karna telah membuat Lilen merasa khawatir padanya, Jake yakin Lilen pasti masih khawatir padanya.
Beberapa hari kemudian...