Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 76


__ADS_3

Karen menyengir kuda, "Maaf... Aku Hanya mengikuti pesan dari Zina..." Zino ingin langsung menerkam Karen saat itu juga.


Zino bangkit dari duduknya dan langsung saja menyerang Karen, tapi yang lucunya ternyata Zino tidak menyerang Karen dengan kasar tapi hanya menarik-narik baju keren dan Cubit pipi Karen sekuat-kuatnya.


"Aduh aduh aduh Zino hentikan Sakit ini sangat sakit hati kan... Cessa tolong aku..." bukan yang menolong Cessa malah tertawa melihat tingkah keduanya.


Di tengah asiknya Zino mencubit pipi karena dengan sangat gemas nya dan kesalnya, terdengar dentuman yang sangat keras lagi Bahkan bukan sekali tapi beberapa kali.


Zino dan keren menghentikan aksinya dan semua pandangan mereka berdua beralih ke arah pintu depan karena suaranya terdengar dari arah itu. sedangkan Cessa Tentu saja dia yang paling panik karena ini baru kedua kalinya ia mendengar yang namanya dentuman bom.


Begitu juga dengan seseorang yang berada di dalam kamarnya, Rindu keluar dengan tergesa-gesa karena ketakutan mendengar suara dentuman yang sangat keras.


"Tolong aku..." teriak Rindu keluar dari kamarnya. Sontak lorent langsung menghampiri rindu dan memeluk rindu


"Hei tidak papa ini aku disini sudah sudah sudah..." Lorent mencoba menenangkan Rindu, tentu saja seseorang yang lain cemburu dengan aksi yang ia tonton ini.


Jake merasa kesal sekali melihat rindu malah dipeluk oleh Loren. Cessa terkejut melihat ada Rindu di rumah itu Karena sedari tadi Karen tidak memberitahunya tentang keberadaan rindu


"Rindu kamu di sini...?" Rindu pun keluar dari perlukan Lorent


"Cessa..." Cessa pun bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Rindu dan langsung memeluk Rindu dan Tangis keduanya pecah.


Belum selesai reuni dari kedua sahabat itu terdengar lagi Dentuman yang sangat keras, kali ini Karen tidak ingin diam dia bangkit dari duduknya dan memanggil Lorent untuk di sisinya.

__ADS_1


"Lorent semuanya sudah siap ... Lanjutkan...!" Karen Menoreh Kepada Cessa, Cessa pun mendengar aba-aba dari Karen pun menoleh kearah karena


"Kamu di situ aja ya sama rindu aku ada keperluan sebentar..." Zino memandang punggung keren yang mulai berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Zino kepada Jake seperti memberikan kode sesuatu dan Jack paham akan itu kemudian pergi juga dari ruangan tersebut. Tak lama kemudian Jake kembali lagi dengan membawa seseorang wanita dengannya tentu saja wanita itu adalah Lilen yang tadi mereka bawa juga.


Karena kondisi penyerangan seperti ini Zino tidak bisa meninggalkan Lilen diluar begitu saja sementara penyerangan yang dilakukan oleh kelompok lawan sangatlah kuat.


Cessa mengamati sesama wanita yang dibawa oleh Jake, sepertinya ia tahu siapa wanita itu. Tentu saja ingatan Cessa tidaklah rendah Ia tahu itu adalah wanita yang bersama dengan Zino di video yang Zino kirimkan tadi kepada Karen. Dan video itulah yang memicu terjadinya kegiatan panas di antara Cessa dan Karen.


Tangan Cessa bergetar mengingat apa yang terjadi padanya tadi, tapi ia coba untuk menetralkan emosinya dan perasaannya dengan kembali fokus kepada Rindu. Cessa pun menarik rindu untuk duduk di sofa bersamanya


"Rindu Apa kamu tidak apa-apa? Aku sangat khawatir padamu aku baik-baik saja kan?" tentu saja pertanyaan seperti itu pasti akan terlontar oleh Cessa.


Rindu menatap temannya itu kemudian ia memeluk nya lagi, rasanya Rindu tidak ingin melepaskan pelukannya dari Cessa. ini ia menangis sekuat-kuatnya di dalam pelukan Cessa mengingat Bagaimana kondisinya saat ini.


"Hanya apa?" Desak Cessa lagi ini segera tahu kondisi sahabatnya itu.


Tak jauh dari keduanya, ada Jake, ada Zino dan tentu saja Ada Lilen. Zino tidak terlalu fokus pada pembicaraan Cessa dan juga Rindu karena menurutnya itu tidaklah penting untuknya tapi yang terpenting adalah Karen yang pergi ke luar sana dengan santainya. Entah mengapa Zino merasa khawatir kepada Karen secara tiba-tiba, Padahal tadi ia sangat kesal dan jengkel sekali kepada Karen. sementara itu Jack fokus mendengarkan pembicaraan Rindu dan juga Cesa dan begitu juga Lilen yang kini sedang menebak-nebak yang mana wanita dari kakaknya dan wanita yang sangat zino cintai itu.


"Rindu cepat katakan padaku aku sudah sangat penasaran kamu tidak apa-apa kan kamu sehat kan?" Cessa masih sangat mendesak Rindu Untuk menjawab semua pertanyaan biasanya itu. karena menurut Cessa itu adalah pertanyaan yang sederhana dan harusnya Rindu tidak perlu takut untuk menjawabnya, Jika seperti ini pasti ada yang rindu tutup-tutupi.


"Cessa Sebenarnya aku sedang hamil.... " Cessa membulatkan matanya tak percaya apa yang ia dengar dari Rindu. Begitu pula dengan Jake tapi ia tidak terlalu terkejut karena itu pasti akan terjadi, Lorent pasti sudah memberitahu rindu yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu hamil anak siapa? " pertanyaan yang pastinya membuat Rindu malu untuk mengatakannya, tapi dengan sebisa mungkin Cessa mencoba untuk menebak kira-kira siapa ayah dari anak yang rindu kandung.


"Apa Lorent adalah ayahnya?" tebak Cessa, Cessa mengingat sekali cerita dari Karen mengatakan kalau Rindu adalah wanita dari Lorent dan tadi Cessa juga melihat saat Rindu keluar dari ruangan itu Lorent langsung menghampirinya dan memeluknya menenangkan rindu yang sedang ketakutan maka Cessa bisa menebak pasti Lorentlah ayah dari anak yang sedang dikandung Rindu. Rindu menundukkan kepalanya ia sungguh malu untuk mengakuinya


"I...Iya Cessa... dan ada lagi yang aku ingin katakan, anakku kembar... "Rindu mulai menangis dan memeluk Cessa lagi. Jake terkejut mendengar ucapan rindu rupanya lorent sudah melakukan tes yang lebih signifikan untuk mengetahui kandungan Rindu.


"Anak Rindu kembar...? " gumam hati jek saat itu. Lilen yang melihat interaksi di antara keduanya dan mendengarkan juga ceritanya Lilen bisa menembak wanita yang kakaknya culik dan yang Zino cari mati-matian adalah wanita yang yang menggunakan dress selutut itu. Lilen memandangi Cessa dari atas sampai bawah, Cessa memang wanita yang cantik, Lilen mengakuinya mulai dari kulit jasa, mata Cesa, rambut Desa semuanya sangatlah indah tak heran jika sang kakak yaitu Karen menyukainya juga.


Sementara itu di luar rumah tersebut Karen sedang menginstruksikan semua anak buahnya untuk menyerang balik orang-orang yang sedang menyerang mereka. Tak tahan hanya terus menjadi seorang penonton Zino pun juga turun tangan.


"Zino kamu di sini? " tanya Karen ketika melihat Zino juga datang ke tempatnya


"Ini bahaya Zino masuklah dan jaga mereka yang di dalam aku tidak papa di sini..." ucap Karen lagi khawatir jika Zino kenapa-napa.


Rasa kepeduliannya sebagai seorang kakak saat ini sangat di diperlihatkannya kepada Zino. Dan begitu juga Zino dia khawatir dengan Karen entah kenapa tapi perasaan khawatir Itu ada saat melihat Karen sibuk menginstruksikan anak buahnya dan ada beberapa kali penyerangan dari lawan yang hampir mengenai Karen. Oleh sebab itu Zino juga ingin membantu Karen untuk menyerang lawannya itu.


"Aku bukan anak kecil, aku juga seorang mafia, kita sama-sama seorang mafia, aku akan membantumu untuk kali ini saja... " ucap Zino dan saat itu juga tim yang Lorent kirimkan untuk menjemput tim Zino tiba, dengan cepat Zino juga menginstruksikan anak buahnya untuk membantu anggota kelompok Karen.


Mendengar bosnya memerintahkan mereka, tentu saja orang-orang tersebut langsung menurutinya, Mereka bergabung dengan kelompok Karen dan membentuk satu pasukan yang lebih banyak.


Karen menoleh kepada Zino Dan saat itu Zino juga menoleh kepada Karen. mungkin itu adalah pemandangan yang jarang sekali dilihat oleh para anak buahnya, bahkan Lorent pun bahagia melihat pemandangan tersebut karena akhirnya kakak adik saudara itu bersatu walaupun hanya sekali ini saja.


Karen melempar senyumannya kepada Zino Dan Entah kenapa Zino menyukai senyum yang Karen perlihatkan dan juga membalas senyuman itu keduanya tersenyum dan mulailah semuanya dari situ.

__ADS_1


off dulu kawan jangan lupa like


dan favoritkan ya ya...


__ADS_2