Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 20


__ADS_3

Cessa terpaku sejenak, mengapa ada lelaki macam ini? Apakah selama ini ia salah menilai Zino? Atau ini hanya topeng Zino? Tapi jika hanya topeng, untuk apa juga tidak ada faedahnya! Itulah beberapa pertanyaan yang berputar putar di otaknya. Kini di hatinya muncul rasa yang aneh, tapi ia mencoba untuk memepiskan pemikiran dan rasa yang ada di hatinya itu.


"Mungkin ini tidak akan lebih, Zino hanya ingin menjagaku karna kemarin aku mengalami keguguran dan itukan adalah anaknya, mungkin karna itu ia perhatian seperti ini." Guman hati Cessa merasa ada perasaan yang berbeda.


"Eeemmm bagaimana kalau kita melanjutkan tuor keliling rumah ini lagi?" Cessa mencoba mencari topik pembicaraan lain karna ia sudah merasa tak nyaman bersama Zino karna kalau mereka tetap di dalam kamar ini maka Cessa akan terus menangis dan otomatis Zino juga akan terus memeluknya dan menghapus air matanya. Dan Cessa tidak ingin hal itu terus terjadi. Maka Cessa membawa Zino untuk melanjutkan keliling keliling tadi.


"Oke baiklah jika itu yang kau inginkan maka akan saya laksanakan nyonya" Zino membngkuk dan memberi hormat bak kepada seorang ratu.


"Iiss apaan si kamu ini, dengar ya aku tu bukan nyonya dan belum menjadi nyonya, kau mengerti?" Cessa masih kesal saat dirinya di panggil dengan sebutan nyonya.


"Ahaha Maafkan aku, aku senang saja memanggilmu nyonya. " Zino senyum senyum sendiri sambil berkata demikian.


"Ya kau akan menjadi nyonya, nyonya Zino Louis Smith" batin Zino penuh semangat.


"Baiklah mari kita lanjutkan. Bagianmana lagi yang ingin kau lihat?" Tanya Zino dan memgikuti Cessa karna Cessa sudah keluar dari kamar dan menanti di luar.


"Eemmm kemana lagi ya?" Cessa memikirkan dan tiba tiba ia menoleh ke arah jendela yang berada tak jauh dari pintu kamarnya tadi, dari sana Cessa dapat melihat beberapa pohon yang indah. Tiba tiba rasa ingin tau Cessa kembali lagi.


"Bolehkah kita keluar dan berjalan jalan kebelakang? sepertinya di sebelah sana sangat indah." Kata Cessa menunjuk ke arah jendela yang ia lihat tadi.


"Oohh baiklah apa pun untukmu jika itu akan membuatmu nyaman di rumah ini 3 bulan ke depan." Kata Zino penuh semangat dan menarik tangan Cessa menuju jalan keluar dimana jalan itu langsung menuju tempat yang di minta Cessa.


"Wooww" Cessa terperanjak terkejut melihat di pintu keluar itu ada bunga yang melilit lilit di sana. Bunga itu berwarna pink terang membuat takjub siapapun yang melihatnya seperti Cessa saat ini.

__ADS_1


"Apa kau memyukainya? " Tanya Zino pada Cessa yang masih terpesona.


Cessa hanya mengangguk tanpa melirik siapa yang bertanya.


"Tadinya saat bunga ini masuk dan melilit di sini aku ingin membuangnya, bunga ini masuk dari taman belakang, dan tampaknya bunga ini sangat nyaman di pintu ini. Jadi aku biarkan saja, paling paling aku hanya memangkasnya saat sudah terlalu banyak" Zino menceritakan tentang bunga yang membuat Cessa takjub itu.


"Jangan di buang, bunganya bagus aku suka" Ucap Cessa sambil menyuntuh bunga itu, "Nanti kalau aku pergi dari rumah ini, aku akan membawa bibitnya ya Zi. Apa boleh?" Pertanyaan bodoh menurut Zino keluar dari mulut polos Cessa.


"Kau tak perlu mengkhawatirkan tentang masalah bibit bebet bobot bunga itu, karna hanya kau yang akan memiliki bunga itu." Zino terus membatin. Zino mungkin tidak akan membiarkan Cessa untuk mencoba pergi dari rumahnya.


"Kau tenang saja, itu tidak akan terjadi, bunga itu akan aman di situ dan kalau kau mau ambillah aku tak akan melarangmu. Anggap saja itu sudah menjadi milikmu." ucap Zino membelakangi ucapan batinnya sendiri.


"Terimakasih Zi.." Cessa menoleh ke arah Zino dan berterimakasih.


Senyum Zini semakin melebar seakan akan melebihi panjang bibirnya dapat meregang untuk tersenyum. Bagaimana tidak, itu adalah pemandangan yang sangat lama tidak pernah di lihat Zino. Seorang wanita menyelipkan bunga itu di atas telinganya. Mungkin pernah, berpuluh tahun yang lalu. Hanya Zino yang tau. Mungkin bukan sekarang menjelaskannya pada Cessa.


Mereka berdua meninggalkan pintu cantik dengan bunga itu tadi dan kini mulai memasuki taman yang hendak di tuju sedari tadi.


Lagi lagi Cessa berdecak kagum. Kini dirinya berada di hadapan bunga bunga yang bermekaran, bahkan Cessa sampai menutup mulutnya sendiri karna sangkin kagumnya.


"Indah sekali Zi... Ya ampun.. woooww" pujian demi pujian Cessa keluarkan karna terkagum kagum, karna kini di hadapannya terhampar kebun bunga tulip warna warni dengan barisan masing masing dan seperti membentuk pelangi di sepanjang kebun yang sekitar berukuran 1 hektar itu. Ada beberapa kursi kayu di situ dan langsung memandang jauh kedepan ke arah hamparan bunga tulip.


Zino berjalan ke arah kursi kursi tersebut, dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi itu dan menikmati pemandangan di depannya juga.

__ADS_1


"Kemarilah.. Dari sini akan lebih nyaman kau memandangnya. Kalau kau memandangnya sambil berdiri hanya akan membuat kau pegal saja karna kau tidak akan tau sampai kapan kau akan berdiri dan memandang pemandangan ini." Zino menepuk kursi di sampingnya dan meminta Cessa untuk duduk juga.


Karna masih terpesona Cessa lagi lagi melupakan akan rasa takutnya pada Zino atau bahkan kini mungkin sudah tidak takut lagi dan mulai melupakannya.


Cessa berjalan ke arah Zino berada dan duduk di samping Zino tapi tetap memandang kedepannya.


"Aku sangat menyukai bunga tulip, makanya aku banyak sekali menanamnya, dulu aku hanya memiliki 5 warna, tapi kini semua warna aku punya" Ucap Zino sbil terus memandang bunga bunga tulip di hadapannya.


"Kau menyukai bunga bungaan?" Tanya Cessa mendengar ucapan Zino tentang kesukaannya terhadap bunga.


"Kenapa kau tidak percaya dengan ucapanku barusan? Haha Aku sangat menyukai bunga asal kau tahu. Banyak cerita tantang bunga ini dan bahkan mempunyai memori tersendiri untukku. Kau mau dengar? " Tawar Zino pada Cessa yang masih betah di sana.


"Kalau kau mau menceritakannya juga boleh kalau tidak juga boleh" Kata Cessa sambil terus memandang ke depan dan mengayunkan kakinya bergantian seperti anak kecil. Mungkin sangkin ia merasa nyaman.


"Pasti akanku ceritakan, kau tau kan kalau aku ini mafia dan itu kan yang membuat kau takut bukan main padaku?"


"aahh.. I iya.. " Cessa kembali mengingat Status asli Zino.


"Kau tidak perlu takut seperti itu. Aku sudah berjanji tidak akan menyakitimu, dam buat apa aku melakukannya? Tidak ada gunanya kau tau. Dulu aku hanya remaja biasa, yang hidup sederhana. tapi ada kejadian yang membuatku seperti ini. Sebenarnya aku memiliki saudari kembar, tapi kami di pisahkan saat aku berusaha menemukan saudariku itu, aku sudah terlambat, aku menemukannya sudah tak bernyawa. dan yang aku dapati di situ sapu tangan buatan ibuku, yang juga aku miliki, dan disana ada gambar bunga tulip di sulam oleh ibu. Begitu pula dengan milikku. Oleh sebab itu aku menanam banyak bunga tulip di kediamanku, akan ku anggap mereka saudari kembarku. Dan dengan sekain sapu tangan tadi, aku mencoba membalaskan dendamku malah aku bertemu dengan saudaraku yang lain, yang juga memiliki sapu tangan yang sama dengan sulaman bunga tulip di sana dan di sanalah aku tahu bahwa aku memiliki 5 saudara, yang pertama Lala dan Lili, yang kedua Javier atau yang aslinya Javir dan Vier. Dan kemudian, Zina dan Zino. Aku tidak pernah bertemu dengan Lala dan Lili karna saat itu mereka juga sudah tiada, begitu pula dengan Javir juga sudah tidak ada, tapi aku berhasil menemukan Vier. Dia menyelamatkanku dan di menceritakan semuanya. Karna Javir sudah tidak ada maka untuk menghilangkan rindunya maka Vier mengabungkan namanya dan Javir menjadi Javier. Dan ia mencoba untuk masuk kedalam organisasi yang membunuh keluarga kami dan ia mengetahui bahwa Zina sudah tewas dan saat itu akulah yang tersisa dan terancam. Maka Javier menyelamatkanku dan menyerahkan semua sapu tangan milik saudara saudariku bahkan milik Vier juga dan menyuruhku untuk menyimpannya selamanya kecuali punya Zina, Javier tidak menemukan sapu tangan Zina. Karna ia tahu setelah ini aku tidak akan dapat berjumpa dengannya, dan hanya itu yang dapatku lihat dari kenang kenangan para kakakku. sapu tangan dengan sulaman bunga tulip di tengahnya dengan warna warna yang berbeda. Vier pun mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku karna ia yakin hanya akulah yang dapat membalaskan dendam mereka. Oleh sebab itu aku menjadi mafia dan sedikit demi sedikit aku mengumpulkan orang orangku, pertarungan demi pertarungan aku lakukan untuk mendapat pengikut dan pada akhirnya aku berhasil membalaskan dendam para saudara saudariku. Dan inilah aku" Zino mengakhiri ceritanya dan menoleh ke arah Cessa yang dari tadi termenggu dengan cerita Zino.


OFF DULU.. DAH PANJAG BANGET OTOR KETIK UNTUK READERS TERSAYANG.. SEMANGAT YA BACANYA READERS DAN OTOR JUGA SEMANGAT MENGETIKNYA.


JANGAN LUPA KOMEN, LIKE, FAVORITKAN, DAN VOTE OTOR BANYAK BANYAK YAAA...

__ADS_1


Salam dari Zino dan Cessa


__ADS_2