Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 124


__ADS_3

Cessa sangat bersemangat. Lilen sepertinya menyadari rencana Cessa.


"Kamu sengaja ya tinggalkan Karsa sama Zino..?" tebaknya.


"Hihi.. Ssstt.. Diam Len.. Zino ngaku ngaku bisa sama Baby Karsa jadi aku coba buktikan. Dia tadi pagi itu bilang di handal jaga baby Karsa biar pun tanpa aku dia bisa.. Nah aku coba deh... Kita liat apa dia betul betul bisa jaga baby Karsa dengan baik.." Cessa yakin Zino tidak bisa melakukannya dengan sempurna.


"Tapi kalau baby Karsa Nangis terus cerwet gimana..?" Lilen meragu juga.


"Tenang.. Aku sudah titip pesan sama Rindu juga.. Rindu bisa tenangkan Baby Karsa juga. Sekarang itu Karsa udah gak kayak dulu yang harus nyusu sama kita, cukup di ajak main atau di dengarkan Lagu gitu.." Lilen mengangguk paham.


"Oohhh jadi kita lanjut rencana tadi..?" Lilen jadi bersemangat lagi.


"Ya lah.. Masa gak di lanjut.. Sudah setengah perjalanan ini.." Cessa sangat senang. Hati dan pikirannya juga tenang.


Sedangkan Zino di rumah was was di tinggal bersama Baby Karsa. Memanglah bayi kecil itu sedang tidur pulas dari tadi bersamanya tapi siapa tahu kan karna sudah puas tidur nanti ia akan bangun dan menjadi cerewet.


Rindu lewat di depan Zino. Ia menahan tawanya melihat Zino tak mengalihkan padangan dari Karsa. Jake juga datang dari arah yang berlawanan arah dari Rindu. Salah satu alat yang ia pegang terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi yang cukup nyaring.


"Eeeeeee..eeehheeekkk" Baby Karsa Jelas terkejut.


"Aaaaayyaaaa... Jake...!!" Zino menggending baby Karsa dan melotot marah pada Jake.

__ADS_1


"Maaf.." Jake segera memutik alatnya. Secepat mungkin ia pergi dari hadapan Zino.


Rindu menutup mulutnya yang ingin tertawa puas. Lorent lagi datang dari belakang Rindu membawa ponsel dan Laptopnya.


Tringgg tringggg trrriiiiinggg..


Ponsel Lorent berbunyi.


"Akhirnya tersambung juga.." Gumam Lorent.


Baby Karsa makin mengeraskan tangisnya.


Sedangkan Lorent seperti tidak bersalah pergi berbalik arah lagi. Zino membulatkan matanya. "Lorent..!!" Panggilnya.


"Kamu ngapain berisik.." Zino sangat kesal.


"Aku hubungkan ponsel dan Laptop aku ke Wi-fi makanya aku cari ke sini. Akhirnya dapat juga.." Jawab Lorent sangat enteng. Setelah mengatakan itu Lorent langsung berlalu lagi dari hadapan Zino.


"Astaga.. Sayang Karsa Sayang jangan nangis ya... Daddy di sini nak.." Zino berusaha menenangkan Baby Karsa.


"Eeeehheee.. Eeeee.." Tangis baby Karsa terus.

__ADS_1


Zino membawa Baby Karsa jalan jalan berharap Karsa mau diam jika di ajak gendong dan jalan jalan.


Ternyata Zino bisa menenangkan Baby Karsa dengan cara ini tapi sekarang masalahnya baby Karsa tak tertidur lagi. Ia membuka mata elangnya dan menatap Zino lebar lebar.


"Sayang.. Apa sayang... Haaahh.. Ini Daddy mu sayang.. Ooo.. Pintar ya.. Jangan nangis ya.." Zino membawa Karsa untuk bercakap kecil.


Rindu melihat Zino bisa mengendalikan Baby Karsa dan tangisannya tadi pun pergi dan berhenti mengintai keduanya.


***


Cessa dan Lilen sedang menunggu giliran mereka untuk melakukan pemeriksaan.


Lilen terus meremas jarinya. Ia sangat gugup. Padahal dulu ia sering memeriksa kandungan para ibu yang tengah mengandung. Akhirnya kini ia merasakan apa yang ibu ibu hamil itu rasakan saat ingin memeriksakan bayi dalam kandungannya.


Cessa menggenggam tangan Lilen. Lilen sontak menoleh pada Cessa. Cessa menganggukan kepalanya meyakinkan Lilen.


"Semua baik baik aja kok.. Dia pasti sehat.." Cessa mengusap perut Lilen.


"Cessa.." Lilen terharu.


Lilen merasa sangat beruntung memiliki Cessa di sisinya. Beruntung dia mengajak Cessa tadi. Bila ia sendiri maka pasti ia sudah pulang sebelum melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Akhirnya nama Lilen di panggil. Cessa mengandeng Lilen lagi dan membawanya masuk ke ruangan dokter.


Di ruangan..


__ADS_2