
"Ya dan itu membuatku sangat susah menemukamu" ucap Zino sambil mencolek hidung Cessa dan membuat empunya tersentak kaget.
"Eeehh" Cessa mengelus hidungnya yang baru saja di colek Zino. Cessa tampaknya ingin kembali membangun pembatas dan membunyikan sirine gawat darurat.
"Heeiii sudahlah ayo kita makan siang, ohhya kira kira dimana temanmu yang bernama Kangen itu? Aku tidak melihatnya sejak tadi" Ucap Zino sambil mengambil makanan yabg tersaji di depan mereka berdua saat ini, sementara Cessa masih terdiam sejak pencolekan hidung tadi.
Zino paham akan apa yang Cessa rasakan oleh sebab itu Zino mengambil nasi goreng dan berserta lauknya dan lainnya yang menurut Zino sangat enak dan Cessa pasti akan menyukainya.
"Makanlah, nanti aku akan mencari temanmu kangen itu. " Ucap Zino, menyodorkan piring berisi nasi dan kawannya yang lainnya ke hadapan Cessa.
"Apa kau ingin aku yang menyuapimu? Kalau iya aku tidak keberatan. Ingin pakai sendok atau langsung dengan tangan?" ucap Zino memancing Cessa untuk memakan makanannya.
"Iya iya aku makan, kamu tu sukanya ngancam terus, gak ada yang lain gitu?Katanya banyak bakat yang lain?" kata Cessa kesal dengan Zino yang sebentar sebentar mengancam, memang ancamannya tak seperti akan mengancam musuh bebuyutan tapi bisa membuat bulu roma Cessa merinding.
"Iya iya maaf, habisnya kalau aku tidak mengancam, kamu tu gak akan mau makan, kalau kamu gak mau makan, nanti kamu sakit, dan kalau kamu sakit, aku akan membuatmu lebih lama di rumahku ini lebih dari 3 bulan. Aku ingin kau itu selalu sehat dan tak tertekan. Ini demi kebaikan kamu sendiri Sa" Zino berupaya menjelaskan mengapa ia selalu mengancam Cessa.
"Haaaa...." Cessa menghela nafas saat mendengarkan penjelasan Zino.
"Baiklah aku akan mengikuti apa yang kamu mau. Tapi aku akan pergi dari sini kurang dari 3 bulan. Bagaimana?" Cessa juga coba ikut ikutan mengancam.
"Yu.. cubu suju kulu kumu biso" ucap Zino dengan mulutnya yang sudah penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Haaahh?? Kamu itu bilang apa sihh. Aku gak ngerti Zi.. " protes Cessa.
Zino menelan makanan di dalam mulutnya dan menaruh sendok makannya di pinggiran piringnya.
"Aku bilang makan makananmu sekarang sebelum dingin, kalau sudah dingin kurang cita rasanya. Dengan sepenuh hati aku memasaknya tadi apa kau tidak ingin menilainya?" Ucap Zino penuh memelas seperti anak kecil mengedip ngedipkan matanya bak boneka berbie.
"Iiss kau sangat aneh Zi.. Di situ juga mengancam di situ juga meminta. Baiklah aku akan memakannya." Cessa menyendokkan 1 suapan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Zino terus menatap Cessa yang sedang asyik mengunyah.
"Bagaimana apa enak?" Tanya Zino saat Cessa sudah menelan makanannya.
"Eemmm ya lumayan, tapi jujur tak seenak makananku tadi pagi di rumah sakit tadi. Mereka benar benar pandai memasak dan memilihkan makanan" Kata Cessa membandingkan masakan yang ia makan barusan dengan makanan yang tadi pagi ia makan saat masih di rumah sakit. Tapi sayangnya ia belum tahu siapa yang sebenarnya memasak makanan yang ia bilang enak tadi.
"Eemm iya supnya dan dagingnya benar benar nikmat, buah buahannya juga lucu dan imut imut potongannya, oohh yaa dan makanan penutupnya juga enak dan sangat indah saat di pandang." Cessa kini sebagai juri memberikan penilaian.
"Baguslah kalau kamu suka, aku juga suka kalau begitu" Ucap Zino sangat bangga kali ini, karna tak sia sia ia berusaha keras memasak makan itu untuk Cessa pagi tadi, bahkan ia rela meninggalkan Cessa yang saat itu ingin di peluk dan mencari kehangatan dari dirinya, tapi malah Zino lepaskan kesempatan itu dan memilih memasakan Cessa sarapan. Tapi terbayar sudah jerih payah tadi pagi saat melihat Cessa sangat memyukai masakannya bahkan Cessa membanding bandingakan dengan masakan yang baru saja Zino masak. Satu kemenangan untuk Zino kali ini.
Cessa dan Zino melanjutkan makan siangnya lagi tanpa ada perdebatan yang tak menghasilkan apa apa. Sementara itu di tempat lain Rindu dan Jake sedang bersantai di salah satu pavilium di belakang rumah megah Zino.
"Jadi selama beberapa bulan ini tuan Zino mencari cari Cessa dan bahkan hampir depresi karna anak buahnya tak kunjung menemukan Cessa?" tanya Rindu meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sedari tadi Jake selaku sopir Zino yang setia kemanapun Zino pergi menceritakan tentang apa yang terjadi pada tuannya beberapa bulan ini mulai dari sakitnya dan sampai ke morning siknnes yang Zino alami.
"Iya benar, bahkan saat Tuan Zino sedang mual mualnya tuan tetap berusaha mencari Nyonya Cessa sampai sampai mualnya makin parah tuan muntah di dalam mobil dan cipratannya mengenai aku, hiii... Jujur aku jijik tapi aku juga kasian melihat tuanku seperti itu. Demi apapun dan bagaimanapun tuan tetap beusaha mencari nyonya. Jika nyonya perlu bukti akan cinta tuan maka aku dan jasku yang terkena muntahan tuan siap menjadi buktinya." Cerita Jake yang malah membuat Rindu tertawa lepas.
"Hahahahahahaa... kamu ini ada ada saja. Tidak mungkin Cessa menolak cinta tuan Zino, aku bisa melihatnya cinta tuan Zino itu sangat besar untuknya." Ucap Rindu juga memberi tanggapan.
"Ya mungkin tak akan semudah itu karna kemungkinan besar Nyonya masih takut pada tuan Zino aku lihat saja tadi di dalam mobil nyonya masih menjaga jarak dengan tuan pasti nyonya masih teringat apa yang terjadi pada mereka bedua di hotel itu." Kata Jake lagi
"Oohh kau juga tau ya cerita itu?" Tanya Rindu mendengar ucapan Jake tentang masa lalu Zino dan Cessa di dalam hotel malam itu.
"Iya... kan aku salah satu orang kepercayaan tuan Zino jadi apapun yang terjadi pada tuan Zino aku harus berada di garis terdepan untuk melindungi tuan Zino." Ucap Jake lagi menjelaskan statusnya.
"Oohhh jadi karna itu kau harus pandai menembak?" Tanya Rindu lagi karna ia masih terpesona dengan Jake yang dengan santainya menembak sasaran yang amat jauh bahkan tergantung dengan tepat sasaran.
"Hehehehe iya aku harus pintar pintar melindungi tuan entah dengan tembak tembakan atau dengan tanganku sendiri aku harus siap siaga, dan aku harap kamu juga bisa menjaga nyonya, karna kamu akan selalu berada di samping nyonya Cessa." Kata Jake kepada Rindu membuat Rindu mengerutkan keningnya.
"Maksudnya aku harus pintar tembak tembak juga seperti kamu?"
"Eemmmm ya seperti itulah. Paling tidak melindungi nyonya dengan tanganmu dulu kalau masalah tembak menembak itu bisa diatur, aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya bertarung dengan hanya mengunakan tangan." Ucap Jake penuh keyakinan tapi malah membuat Rindu menciut.
"Melawanmu????"
__ADS_1
off kawan, tunggu bab berikutnya lagi ya otor akan mengajarkan sedikit bela diri untuk perempuan. Tapi laki laki juga bisa koc kalau lagi terdesak.