
Zino mengangkat wajahnya tak percaya yang ia dengar.
"Ce..."
Cessa keburu bangun dan membawa Karsa bersamanya. Zino langsung beku di tempat karna ada Lilen jug di tempat itu.
Lilen segera berlalu juga dari hadapan Zino yang membeku di tempatnya dan menatapnya. Lilen juga malu mendengar ucapan Cessa tadi. Bagaimana kalau lenih dari satu Baby Karsa yang di maksud Cessa, Lilen benar benar malu memikirkannya.
Zino melirik Cessa lagi yang sudah tak terlihat d, segera ia menyusulnya. Zino sampai di depan pintu kamar Cessa. Ia yakin pintu ini sudah di kunci lagi. Zino masuk kamarnya dan membuka pintu rahasia saja.
"Aaaaaaa.." Cessa berteriak karna ia sedang mengganti bajunya.
"Zino.. " Cessa memukul mukul Zino.
"Cessa maaf..." Zino menerima saja pukulan dari Cessa.
__ADS_1
"Isss kamu ini.. Aku lagi ganti baju.." Cessa menutupi tubuhnya sebisanya dengan kedua tangannya.
"Aku sudah pernah coba kok.." Zino entang saja terus menatap.
"Zino..." Pekik Cessa lagi.
"Ya ya.. Sudah pakailah baju kamu itu.." Zino berbalik dan barulah Cessa secepatnya mengenakan bajunya. Saat lengah ternyata Zino menoleh dan melihat tubuh Cessa dan mengukir senyum nakalnya.
"Zino...!" Cessa baru menyadarinya.
"Iya.. Maaf.. Sudah pakai baju juga kok.." Zino tak merasa bersalah.
Cessa menatap tak suka Zino yang lari dari amarahnya. Entah Zino memang mengambil kesempatan saat Cessa mengganti baju atau memang tak sengaja di saat yang tidak tepat.
"Anak Lilen Sehat.." Tiba tiba Cessa bersuara dan membuat Zino diam.
__ADS_1
"Kamu juga harus perhatikan Lilen.. Dia itu kurang makan, dia gak nafsu makan, minum susu juga dia gak mau, rasa susunya gak enak. Tadi dia di sarankan untuk makan biskuit aja.. Bantu dia dan awasi dia Zi.. Mana tanggung jawab kamu..?" Zino menoleh pada Cessa.
"Kenapa hanya aku.. Jake juga harus.." Bantah Zino.
"Kan aku bilang aja Zi.. Bukannya suruh kamu.. Kamu kok sensitif gitu.." Cessa tiba tiba jengkel mendengar ucapan Zino barusan.
Zino diam saja. "Aku mau kamu gak nyesal kayak Karen.." tambah Cessa lagi.
"Karen dulu sangat ingin punya anak perempuan, sangat. Dia juga mau tahu rasanya temani istri mengandung dan melahirkan anaknya. Dan jadi orang yang pertama gendong anaknya sendiri. Beri nama terbaik untuk anaknya.. Tapi sayangnya.. Dia cuma dengar kalau anaknya sudah lahir dan titip anaknya ke wanita lain. Alangkah baiknya kamu, beruntungnya kamu bisa temani Lilen dan kandungannya.. Meski kamu gak tahu itu anak kamu atau bukan.." Ucap Cessa lagu sambil menundukkan kepalanya mengingat cita cita Karen saat itu.
Rasa rindu akan Karen yang selalu menurutinya dan percaya padanya menyeruak lagi. Rasa yang sangat Cessa rindukan. Karen bisa mengerti Cessa sepenuhnya. Sedangkan Zino, ia melakukan apa pun yang ia inginkan.
Perbedaan yang signifikan tapi sangat berarti untuk Cessa. Cinta Karen untuknya masih teringang ngiang di hatinya, kasih sayang yang melimpah yang paling di rindukan. Cessa tak bisa membohongi dirinya sendiri. Selama hidup Karen kemarin ia tidak pernah menerima cinta Karen, tapi saat ini barulah ia merindukan cinta Karen itu. Sakit dan benar benar sakit yang di rasakan Cessa.
"Terus kalau itu bukan anak aku gimana..?" Zino balik bertanya pada Cessa.
__ADS_1
"Dan kalau aku kandung anak laki laki lain gimana..?"
Zino..