
Zino masuk ke area berbahaya sekarang seorang diri.
Banyak anak buah Stev yang juga berjaga di sana. Tapi Zino tak memperdulikan tatapan padanya. Ada yang menyerang tapi di tahan seorang tiba tiba.
"Zino Louis Smith.. Masih punya nyali kamu.." Rupanya Stev juga di sana.
"Masih... Kamu..?" Zino menatap Stev dengan penuh amarah di matanya.
"Cih.. Mana kakak tersayang kamu..? Luka kah..? Atau sudah tiada..." Ledek Stev dengan senyum lebar di bibirnya.
"Siapa bilang dia gak ada.. Di selalu ada. Di hati aku.." Zino melempar belati dan melesat ke arah Stev.
Stev menghindar ke kanan. Belati itu tak mengenainya. Tapi di luar dugaan Zino sudah berlari ke arahanya.
Berhasil di tangan anak buah Stev, "Dia sudah gila..." Stev mencari pistol yang ada di dekatnya.
Saat yang sama Lorent dan Jake berserta anak buah mereka masuk dan menyerang Kelompok Hiu putih ini. Dari anggota tentu menang anggota Zino karna kini semua anak buah Karen berkumpul, du tambah dengan anak buahnya maka menjadi satu kumpulan yang melebihi batas.
"Kali ini kamu gak akan selamat.." Zino berhasil lepas dari anak buah Stev karna ada anak buahnya yang membantunya.
Stev tak menemukan pistolnya karna panik, akhirnya ia mengambil belati yang tadi Zino lempar padanya.
"Kamu gak akan menang lawan aku" Stev percaya diri. Dengan mental Zino yang terguncang ini tak mungkin bisa berpikir cepat.
Wajah dan mata Zino memerah menahan amarahnya pada Stev yang telah membuat Karen meninggalkannya.
"Untuk Kamu Karen aku berjuang.." Itulah semangat utama Zino.
Terjadi perkelahian panas antara Zino dan Stev. Rupanya Stev juga cukup handal dalam berkelahi tanpa senjata laras panjang. Tapi diam diam Stev menyimpan belati yang ia putik tadi.
"Karen pasti senang melihat kamu hebat berkelahi seperti ini." Ledek Stev lagi mengalihkan perhatian Zino.
"Mati saja kau..." Zino meninju dan kena tepat di tangan kiri Stev.
"Aaawww .." Stev kesakitan.
Tapi meski ia kesakitan, ia masih bisa melawan Zino. Saat Zino akan menyerangnya lagi ia mengeluarkan belati tadi.
Zino..
__ADS_1
***
Cessa tak tidur malam ini ia malah asik bersama Baby Karsa, meski baby Karsa tidur nyenyak di palungannya tapi Cessa tidak dapat tidur juga.
Kadang ia terkejut dengan Baby Karsa yang tiba tiba mencari asupannya di Cessa
Oleh karna itu Cessa memilih untuk tidak tidur.
Mau tak mau Cessa terus memberikan apa yang Baby Karsa minta padanya sebagai ibu. Entah sebagai mainan atau hanya penenang tapi baby Karsa menyukainya.
"Karsa Stone, kamu nakal.." Cessa mencolek hidung mungil Karsa.
Tiba tiba Cessa merasa sedih. Rasanya ia ingin menangis jika menyebut nama Karsa. Nama yang di berikan Karen untuk anak anaknya, meski hanya angan saat itu tetap saja bisa di ingat dengan jelas oleh Cessa karna ia yang mendengarnya sendiri dari mulut Karen. Sedangkan Karen sekarang sudah bersatu dengan abu.
"Jangan sedih Cessa. Karen tidak akan menyukainya.." Cessa cepat cepat menghapus air matanya.
"Karsa sayang.." Cessa tersenyum melihat Baby Karsa yang masih asik.
***
Pagi manyambut.
"Karsa sayang.. Untuk hari ini jangan nakal dulu ya.. Nanti Daddy tertawa liat kita berdua.." Bisik Cessa pada Baby Karsa yang tak tahu apa apa.
Cessa melirik jam di dinding. Sudah hampir jam 11 siang, tapi belum ada kabar dari Zino dan yang lainnya. Cessa resah memikirkannya.
"Cessa sayang.. Mommy mau tanya sesuatu sama kamu.." Bella mendekati Cessa.
"Ya Mommy tanyalah.." Cessa yakin ini penting.
"Nak... Ini abu Karen... Mommy tak ingin menyimpanya, bukan karna tak sayang.. Tapi Mommy gak rela. Gak rela menahan Karen bersama Mommy terus. Dulu waktu Karen kecil, dia pernah ngambek sama Mommy, hanya karna dia gak boleh keluar rumah untuk liat anak buah Daddynya latihan, dia ngambek 3 hari dan gak mau makan apa pun. Dari situ saya tahu. Karen mau bebas juga seperti yang lainnya. Makanya Mommy serahkan ini sama kamu Cessa." Cessa menatap guci putih itu.
"Aku juga takut simpan itu Mommy. Takut aku gak akan ikhlas kepergian dia.. Dia begitu berarti untuk aku..." Cessa tak lelah memandangi guci itu.
"Kalau gitu kita tabur aja gimana.. Apa kamu setuju sayang..?" saran Bella.
"Tabur..? Tapi di mana..?" Cessa menatap Bella balik.
"Itu dia yang Mommy pikirkan.. Eeeemm tempat apa yang Karen sukai..?" Bella mencoba mengingat ingat.
__ADS_1
Cessa juga seperti itu. Ia berpikir apa pernah Karen mengatakan tempat kesukaannya. Cessa malah mengingat yang lainnya, saat di mana Karen bercinta dengannya. Tempat favorit yang Karen katakan pada Cessa setelah bercinta dengannya. Gunung dua. Cessa mengeleng cepat
"Apa yang aku pikirkan.. Iissshh"
"Kayaknya gak ada Mommy.." Cessa mengeleng.
"Saya juga kurang tahu karna setelah Karen dewasa, dia gakĀ pernah ajak aku jalan jalan lagi atau sekedar piknik di depan rumah.." Ucap Bella mengingat lagi masa lalunya dan Karen.
"Piknik..?" Tiba tiba Cessa teringat sesuatu.
"Apa kamu tahu sesuatu sayang..?" Bella melihat ekspresi terkejut Cessa.
"Kayaknya aku tahu... Ya aku tahu.." Cessa mengangguk yakin.
***
Setelah perjalanan cukup panjang, Cessa dan yang lainnya sampai di bukit tempat Karen membawa Cessa untuk piknik saat masih menyekap Cessa di vila tak jauh dari sini. Vila di depan kebun teh dan di sebrangnya bukit menjulang.
Di sinilah mereka. Cessa menatap bukit bukit yang ada di depannya lagi. Tempat yang pernah Karen ukir untuk masa depan mereka bersama. Cessa menutup matanya.
"Nanti kita akan bangun rumah yang besar di sini.. Kita akan punya anak yang banyak, tapi anak pertama kita harus perempuan Cessa. Lalu setelah perempuan baru laki laki.. Indah kan.." Karen tersenyum membanyangkannya.
"Iissshhh indah apanya..?" Cessa berdecih.
"Indah..? Tentulah, itu cita cita terindah aku.. Cita cita terindah pertamaku tercapai, aku bisa berjalan dengan kaki ini. Itu pun berkat orang lain.. Jadi gak salah kan aku berjuang untuk cita cita aku ini.." Cessa termenung mendengar jawabab Karen. Memang tak ada salahnya Karen memimpikannya. Itu cita cita yang baik.
Itu masa masa saat Cessa dan Karen masih piknik di gungung ini.
Cessa membuka matanya, bayangan itu langsung hilang dari padangannya.
"Dulu Karen mau bangun rumah besar di sini. Dia mau di depan rumahnya kebun teh besar dan tampak asli ini. Dan di belakangnya bukit indah berjejeran.." Cessa mengatakan itu pada semua orang yang ada di sana sekarang.
"Kapan kamu sama Karen ke sini..?" Bella penasaran.
"Saat waktu yang indah.." Jawab Cessa tanpa sadar. Bella tersenyum mendengarnya.
"Tapi Zino dan yang lainnya belunm datang.." Rindu bersuara. Tak salah yang ia rasakan, ia juga mengkhawatirkan Lorent juga.
***
__ADS_1
Off dulu kawan.. Aaahh asik guys..