Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 27


__ADS_3

Pisau itu melesat ke arah Rindu dan dengan cepatnya Rindu menghindar.


"Waahh kamu cukup cepat juga memahaminya, ini cukup bagus dari pada percobaan yang sebelumnya. Ingat bila musuhmu menyerang menggunakan senjata seperti ini yang pertama harus kamu lakukan adalah.. " ucap Jake potong dan Rindu menjawab...


"Menghindar"


"Yap tepat, bukan karna kita takut oleh sebab itu kita menghindar, tapi itu namanya menyelamatkan diri terlebih dahulu, memangnya kamu apaan kalau bisa di tikam menggunakan pisau tapi bisa tidak luka, wahh itu namanya lain lagi, itu namanya tenaga dalam hehehehe.. " Jake dan Rindu sama sama tertawa mendengarkan guyonan Jake yang sedikit nyeleneh.


"Jaman sekarang mana ada tenaga tenaga dalam lagi. sekarang itu kita harus pintar pintar jaga diri sendiri, dengan ilmu bela diri yang betul, oke... Kita lanjut ke tahap yang berikutnya. Kita gantian, kamu yang tikam, aku yang menghindar, sekalian aku melanjutkan pelajaran kita tadi, selain menghindar kita juga harus bisa melawan dan melumpuhkan musuh kita ayo kita mulai"


Tampak wajah ragu ragu Rindu saat mendengar bahwa dirinya harus menikam Jake dan di lawan, dan di lumpuhkan oleh Jake juga, wah mimpi apa Rindu semalam.


"Hei kenapa kamu bingung begitu? ini pisaumu sudah menunggu ayo tidak apa apa kok" bujuk Jake lagi.


"Oke ayo kita coba, tunggu...." Saat pisau di tangan Rindu, Rindu baru sadar bila pisau yang sedari tadi Jake dan dirinya mainkan adalag pisau sungguhan.


Mata Rindu menelisik dari ujung ke ujung pisau di tangannya sejenak Rindu menoleh ke arah Jake untuk mencari jawaban.


"Kenapa kamu melihat aku begitu? Ada utang?" Jake tak paham dengan tatapan Rindu padanya.


"Ini pisau asli??" Tanya Rindu


Hanya di jawab dengan anggukan oleh Jake dengan santainya dan biasa biasa saja.


Rindu melotot melihat gaya jawab Jake yang biasa biasa saja seakan ingin menerkam Jake saat itu juga.


Rindu menghempaskan pisau dari tangannya dan menyerang Jake dengan membabi buta dan ternyata Rindu berhasil mengunci kaki Jake dan membuat Jake mengerang karna sakit.


"Kau dari tadi menyerangku dengan pisau sungguhan???? Kau benar benar keterlaluan apa kau ingin aku mati hari ini juga di sini haahh...??? Kauu... " Rindu terus menekan nekan kaki Jake, membuat Jake makin berteriak kesakitan.


"Heeiii kau rupanya hebat juga waahh aku bangga'aaaaaaaa" teriaknya makin keras.

__ADS_1


"Kau ini masih mengada ngada saja." Rindu makin kesal dengan ke tingkah Jake yang acuh tak acuh masalah pisau yang sedari tadi Rindu mengarah ke arah Rindu entah itu dengan cepat maupun lambat, bila salah salah, bisa bisa nyawa melayang. Tapi apa? Jake dengan santai melakukan itu kepada Rindu tanpa memikirkan apa bahayanya. Sungguh membuat Rindu murka.


Jake tau itu akan terjadi, maka ia mendapat ide bagaimanakah reaksi Rindu apakah ia akan murka atau ia akan biasa biasa saja atau bahkan Rindu akan mengeluarkan gerakan gerakan yang tak terduga oleh Jake, oleh karna itu Jake hanya pasrah saat Rindu menyerangnya, Jake pun mengerti bela diri yang Rindu pahami. Ternyata Rindu sudah lihai dalam melumpuhkan lawanya. Jake sangat senang dengan apa yang kini terjadi, ia tak was was lagi bila nanti nantinya, Cessa dan Rindu berjalan sendiri dan ada musuh yang ingin menyerang mereka. Ada Rindu yang dapat melindungi Cessa.


"Hei lepaskan aku dulu Ndu... " cicit Jake lagi.


Rindu pun melepaskan kunciannya dan berlajalan mundur beberapa langkah Jake pun bangkit dari tidurannya di lantai karna kuncian Rindu.


"Maafkan aku, aku lupa bilang kalau itu pisau betulan, tapi dengan begitukan aku bisa melihat kehebatan yang aslinya hehehe... Rupanya kamu hebat juga. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hebat dalam kunci mengunci seperti tadi?" Ucap Jake sambil meneguk minuman dalam botol air minumnya.


"Aku sering menonton tinju bebas di televisi, jadi ya... Aku mencoba mempratekan padamu barusan ya walaupun aku tidak tahu apakah betul atau salah." Ucap Rindu menceritakan hobinya tentang tinju bebas.


"Hei.. Kenapa kamu minum sendiri aku juga mau" Rindu merampas botol minum Jake dan meneguknya hingga tandas.


"Hei itu minuman khusus untuk laki laki untuk membentuk otot otot. " Jake melotot melihat Rindu yang dengan santai meminumnya sampai habis ya mungkin ada tapi setetes saja.


Rindu menelan susu coklat itu dengan kasar saat tegukakan yang terakhir dan menoleh ke arah Jake yang juga menatapnya dengan bingung bukan main.


"Ya tidak apa apa juga, nanti siapa tahu kamu juga tumbuh otot otot seperti aku kan" Cicit Jake juga tak mau kalah.


Sementara itu kini Cessa sudah selesai mandi dan kini sedang memilih baju untuk ia pakai di depan lemarinya.


"Haaahh koc bisa dia menyiapkan ini semua. Apa yang ia pikirkan." Cessa mengambil satu pasang baju santai lengan pendek celana panjang berbahan kain yang sangat lembut di kulitnya, baju itu sangat pas di tubuh Cessa dengan motif bunga bunga dan berwarna biru itu menambah kecantikan Cessa.


"Heeemm sangat pas di tubuhku. Dan motifnya juga cantik, kalem" Ucap Cessa bolak balik tubuhnya di depan cermin di lemarinya.


Senyum kecil pun timbul dari bibir mungil Cessa entah apa yang kini Cessa rasakan, apakah ia merasa nyaman atau apakah itu.


"Eehhh dimana Rindu ya...? Dari tadi aku tidak melihatnya. Dimana ya???" Cessa meninggalkan lemarinya dan berjalan ke arah pintu kamar hendak keluar mencari Rindu.


Cessa berjalan menuruni tangga satu persatu dengan cantiknya tanpa memperhatikan sekelilingnya, saat Cessa sudah berada di lantai bawah, barulah Cessa melihat sekelilingnya, dan ia mendapati seorang pria sedang duduk manis di atas sofa sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Zino yang tengah asik memainkan ponselnya tak sadar bahwa kini Cessa sudah berada tak jauh darinya dan memperhatikan gerak geriknya.


Kini Zino sudah mandi juga dan sudah berganti pakaian pula. Zino hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam dan kaos oblong berwarna pink lengan pendek sekali dan membuat otot lengan terlihat, rambutnya yang masih basah basah lembut membuat ketampanannya makin terpancar.


"Aaaahh kok kalah sihh.. Payah!! " Bentak Zino sendiri, rupanya Zino sedang memainkan video game membuat dirinya nampak lucu, sendiri berguman tak jelas dengan raut wajah yang kadang berubah ubah, membuat siapa pun yang melihatnya akan semakin terpesona sudah tampan, imut, lucu lagi aahhhh gemes deh...


Saat dirinya selesai berguman tidak jelas barulah Zino sadar bahwa dirinya tengah diamati, Zino menoleh dan mendapati Cessa tengah mematapnya dengan aneh, bingung dan tentu saja canggung.


Cessa kedapatan sedang menatap Zino, Cessa pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Melihat Cessa sudah berada di situ, Zino pun berjalan ke arah Cessa.


"Kamu cari temanmu yang bernama kangen itu ya?" Cicit awal Zino.


"Eehh namanya itu Rindu bukan Kangen" cicit Cessa juga.


"Iyakan artinya sama saja Sa.. " Zino memberanikan diri untuk akrab dengan Cessa dengan berbincang bincang ringan entah itu ada artinya atau tidak. Ya meskipun harus menjual nama Rindu dan mengubahnya menjadi kangen pun jadi.


"Nanti kalau dia tidak mau tinggal di sini karna kamu tidak memanggilnya dengan benar maka aku akan ikut dia keluar dari rumah ini." Wah nampaknya tak sia sia basa basi Zino tadi berhasil mengakrabkan dirinya dengan Cessa.


"Iya iya maaf oke namanya Rindu bukan kangen deh. Oohhh ya kamu cari dia ya kan??!!" Ucap Zino menambahkan basa basi ringannya


"Iya aku mencarinya aku bosan sendiri." cicit Cessa menanggapi cicitan Zino.


"Hei kan ada aku di sini kok kamu bosan mau aku temani??? " Tanya Zino coba coba saja.


"Iiihh tidak mau ahh.. Aku mau cari Rindu saja" Cessa hendak meninggalkan Zino sendiri.


"Aku sudah menyuruhnya pulang tadi, dia berteman dengan Jake tadi, makanya lupa pulang" Cicit Zino sambil kembali berjalan ke arah sofanya tadi dan mendudukkan dirinya lagi di situ.


"Bagaimana bila kita berdua main video game bersama" Tawar Zino lagi kepada Cessa yang masih termenung menatap pintu keluar rumah.

__ADS_1


off dulu kawan..


__ADS_2