Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 96


__ADS_3

"Stop...!!" Cessa menggigit selimut yang ada di dekatnya.


"Aaaww sayang.. Kenapa..?" Stev kembali naik dan mengecup Cessa di bibirnya.


"Bukankah sudah keluar?" Karna pelayanan yang sangat hebat dari Stev Cessa mendapat puncak hanya dengan lidah.


"Stev... Oh..." Tubuh Cessa bergetar dan rasanya tak mampu berbicara pada Stev.


"Aku lanjut ya.... Giliran aku yang puas..." Stev bersiap dengan alat baru yang akan ia kenakan.


"Stev tunggu.." Cessa menutupnya rapat rapat.


"Janji ya.. Sshh.. Setelah ini kita pergi, jangan hiraukan Zino dan Karen.. Jangan sakiti mereka.. Kamu janji..?" Cessa berusaha mengatakan meski dengan tubuh yang bergetar dan memegang bahu Stev.


"Iya sayang.. Aku janji.. Kita akan pergi.." Tanpa hitungan lagi Stev melanjutkan aksinya.


"Aaawwww......" tangan Cessa meremas Seprei dengan kuat.


Sama tapi beda mungkin itulah yang Cessa rasa. Nyeri dan sakit yang pernah ia rasakan. Nafasnya memburu, nafas Stev pun sama.


Sudah beberapa menit berlalu setelah permintaan Cessa itu.


"Oowww sayang...." Stev menggigit bibir bawahnya dan mengerang.


Cessa hanya menerimanya. Stev lemas di atas Cessa. Cessa mengelus rambut dan juga punggung Stev. Maka samakin nikmatlah apa yang Stev rasakan.


"Terima kasih sayang.." Stev mempertemukan bibir mereka lagi dengan cukup lama.


"Aku minta lagi satu kali.. Berharap nanti kembar.." Stev tersenyum, seharusnya itu senyum yang sangat manis di wajah tampan Stev. Tapi di mata Cessa itu adalah tatapan yang sangat mengerikan apa lagi ia mendengar kata "Lagi".


"Oke.. Kali ini aku yang layani kamu tapi pegang janji kamu.." Cessa berusaha duduk lalu naik ke atas Stev.


"Oke sayang.. Lakukan.." Stev juga bersemangat.


***


"Ini dia.." Gumam Zino ketika mereka sudah sampai di depan markas Stev.


"Zi.. Entah kenapa yang aku pikirkan hanyalah Stev dan Cessaa sedang di ranjang.. Apa kamu tidak memikirkannya..?" Dari tadi Karen terkesan tidak fokus pada misi ini.


"Karen kamu ini kenapa sih..? Fokua Karen fokus.." Pinta Zino. Sejak semalam memang Karen sudah aneh dan banyak sekali permintaannya.


Yang paling mengganggu Zino adalah tidur bersama Karen. Dan yang satu ini juga, yang lain lagi sibuk siapkan senjata, Karen hanya sibuk menatap langit lalu setelah itu dia pasti punya pertanyaan aneh.

__ADS_1


"Aku cuma katakan apa yang aku rasakan..." Karen memeluk Zino.


"Isss Karen..." Semua anak buah Melihat mereka yang sangat romantis itu. Benarkah itu bos mereka.


"Aku sayang kamu.." Zino tersipit mata mendengarnya. Lorent bahkan sampai memukul keningnya. Anak buah yang lain saling tatap.


"KARENNNNNNNNNNN...!!!" Zino rasanya tak sanggup dengan tingkah aneh Karen.


****


Cessa merebahkan tubuhnya, ia telungkup dan menahan apa yang ia rasa sebisanya. Stev bangkit dan mengecup punggung hingga tengkuk Cessa.


Hanya leguhan dan leguhanlah yang terdengar. "Terima kasih sayang.. Kamu sangat nikmat.. Aku suka kamu.." Stev memeluk tubuh Cessa.


Cessa masih berusaha mengatur nafasnya, tapi ia juga ingin mengingatkan Stev akan janjinya.


"Stev... Ingat janji kamu.. Jangan sakiti Zino dan Karen..." Cessa berbalik dan memeluk Stev menyalurkan yang ia rasa ke tubuh Stev.


"Oke.." Cup. Stev mengecup puncak kepala Cessa.


Cessa mangangkat wajahnya dan menatap Stev.


Laki laki dengan perawakan tampan tapi misterius itu sebenarnya memang memukau, tapi jika seperti yang Cessa pikirkan, Stev adalah laki laki yang paling menakutkan di dunia.


Cessa menggeleng. Tak mampu sebenarnya terus berbicara maka Cessa masuk lagi dalam peluk Stev dan diam.


Stev tersenyum bahagia Cessa kini sudah di dalam pelukkannya, kini tinggal menghabisi kedua tikus nakal di luar sana.


"Aku gak akan biarkan kalian sentuh punya aku ini, dia punya aku.. Sepertinya aku memang harus membasminya dengan benar baru aku bisa hidup tenang dengan milikku." Gumam Stev sambil memainkam rambut Cessa yang kini sepertinya terlelap dalam kelelahannya, apalagi tadi saat main, entah berapa kali, Cessa terkuras energinya karna mendesah dan mengerang dengan apa yang Stev lakukan.


Stev bangkit dan memandang wajah Cessa yang sudah terpejam dan masuk alam mimpinya. Stev mengelus pipi dan rambut Cessa. Lalu setelah itu ia mengecup lagi Cessa di seluruh inci wajahnya.


Setelah puas menganggu Cessa, Stev pun bangun dan mengenakan pakaiannya lagi lalu keluar dari kamar itu. Stev mengelap sisa sisa peluh di keningnya hingga dadanya juga.


Nicolas baru saja ingin menuju kamar Stev, selain sudah lebih dari 30 menit ada yang ingin di sampaikan Nicolas pada Stev.


"Tuan...?" Nicolas sudah tahu apa yang terjadi pada tuannya yang penuh peluh ini.


"Apa...?" Stev masih mengelap peluh di sekitar tubuhnya.


"Ada beberapa info baru. Eeem" Nicolas jadinya tak fokus karna melihat peluh Stev yang banyak itu.


"Apa..?" Stev berkacak pinggang.

__ADS_1


"Maaf Tuan.." Nicolas mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.


"Ayo.. Jangan di sini, nanti kamu ganggu.." Stev menoleh ke kamar yang memang tertutup rapat, tapi tetap saja Stev takut tidur Cessa terganggu.


Entah berapa lama Cessa tertidur, kini ia baru membuka matanya, Ia langsung duduk dan menoleh ke seluruh penjuru kamar, tidak ada Stev sekarang.


Rasa lega tapi rasa bersalah juga melandanya, baru saja ia sudah bersetubuh lagi dengan seorang laki laki. Bahkan bisa di bilang yang ketiga. Sungguh Cessa malu pada dirinya sendiri.


Cessa kemudian mencari baju yang tadi ia kenakan. Sedikit robek karna ketidak sabaran Stev membukanya tadi, tapi Cessa tetap memakainya.


Cessa ingin sekali keluar dari kamar ini, tapi ia juga takut.


Sementara itu, anak buah KaZi dan Stev sedang saling bertarung, yang menggunakan pistol, bom, tangan kosong pun ada.


Zino dan Karen menyelinap masuk, untuk di benteng pertahanan sudah ada Lorent dan Jake yang berjaga.


"Ooo'hhooo.. Ini dia.." suara seseorang memberhentikan Zino dan Karen.


"Stev..?" Karen dan Zino sama sama terkejut.


Mereka kira Stev berada di sekitar anak buahnya, tadi sepengetahuan mereka seperti itu, mereka melihat dengan Jelas kalau Stev bersama anak buahnya yang lain. Tapi kini Stev sudah ada di belakang mereka.


"Kamu.." Zino sangat kesal ketika melihat Stev.


"Hei jangan marah marah.. Kan bsru sampai.. Mari aku sambut dengan baik, mau minum jus atau Wine..?" Ledek Stev.


"Dimana Cessa..?" Zino tak sabaran.


"Cessa..?" Stev pura pura tak mengenalnya, padahal baru saja menanam benih. Ck ck ck..


"Kamu culik dia, dimana Cessa?" Karen juga ikut berbicara tapi lebih santai dari pada Zino.


"Ooohhh maaf aku luruskan, itu bukan Cessa, itu nyonya Paul.." Stev tersenyum jahatnya.


"Kamu..." Zino ingin langsung menerkam Stev.


"Zino tahan dulu.." Karen memegangi Zino dan dadanya.


"Aku mohon bebaskan Cessa. Dia gak ada sangkut pautnya sama kita, permusuhan ini cuma di antara kita, jadi aku minta bebaskan dia..." Karen terus berbicara pada Stev dengan tenang.


"Wahhh.. Tapi Nyonya Paul sudah membuat kesepakatan dengan aku, dia minta untuk tidak menyakiti kalian, tapi dia akan ikut aku, lalu kamu minta tawaran juga untuk melepaskannya. Heeemm? Penawaran yang mana yang akan aku ambil ya.. Dari Cessa atau dari kalian, tapi Cessa sudah kasih DPnya sih... Heemm..? Jadi bingung.." Stev ingin pamer dengan apa yang sudah ia lakukan dengan Cessa.


Karen dan Zino...

__ADS_1


Off dulu.. Like dan komen ya..


__ADS_2