Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 69


__ADS_3

Zino bingung kenapa Karen seolah tak mencari sang adik dan hanya meminta Lorent mengirimkan surat surat aneh ini.


Apa Karen juga tak menyayangi ia Lilen seperti ibunya. Tapi mau bagaimana pun Karen dan Lilen sedarah karna Karen pernah mendonorkan darahnya untuk Lilen. Dan darah Lilen kini mengikuti darah Karen.


Zino menatap paper bag besar di tangannnya, ingin rasanya Zino membakar saja semua surat surat itu. Sementara itu Jake berdecih kesal dan masuk dengan amarahnya.


***


"Jadi kamu sudah tahu di mana Zino dan adikmu?" Kini Karen menceritakannya pada Cessa tentang Rencaba Lorent yang berhasil memancing Jake.


"Iya.. Lorent sudah aku suruh untuk mengantar surat surat itu tadi.." Ucap Karen lagi. Tapi Cessa malah menaikan satu alisnya.


"Memangnya itu tadi surat surat apa Karen, kenapa banyak sekali?" Betul sekali yang di ucapkan Cessa.


Karen tertawa mendengar pertanyaan Cessa yang terdengar seperti meledek Surat yang sangat banyak itu tadi.


"Itu bukan sembarangan surat Cessa sayang." Karen mencubit hidung Cessa dan otomatis pemiliknya menepiskan tangan nakal itu.


"Iihh apa sih." Ucap Cessa menyingkirkan tangan Karen dari hidungnya.


"Ya memang betul kok itu bukan sembarangan surat. Itu adalah surat untuk mengeluarkan Zino dari tempat persembunyiannya dan dia sendiri yang akan menemuiku, jadi aku gak mau susah susah ketemu sama dia karna kalau di membaca satu saja surat itu maka di jamin ia akan datang ke sini Sayang..." Kali ini rencana Karen yang bergerak. Jika tadi memancing Jake adalah rencana Lorent, kini gantian Karen juga mengeluarkan taktiknya.


Karen sengaja mengirimkan sesuatu di dalam surat tersebut. Sesuatu yang pastinya sangat ingin di ketahui oleh Zino tentunya. Jika Zino membuka suratnya dan membacanya maka Zino pasti tidakah tahan untuk tidak mencari Karen.


***


"Cih pake kirim kirim surat segala..." Satu persatu surat itu Zino masukan kedalam bak yang berisi api menyala dan habislah semua surat itu terbakar.


Tiba tiba terlintas sesuatu di kepala Zino, ia mengingat bagaimana cara Karen memancing Jake, dan membuat Jake terpedaya dan tempat persembunyiannya terbongkar.

__ADS_1


Zino secepatnya pergi dari tempat pembakaran Suratnya itu yang masih tersisa sekitar dua atau tiga lembar surat lagi yang masih utuh di dalam Paper Bag tersebut.


Zino segera menuju kamar Lilen dan Zino masuk dengan perlahan dan melihat Lilen masih tak sadarkan diri. Zino melihat jam di pergelangan tangannya, seharusnya 30 menit lagi Lilen akan tersadar dan secepatnya Zino harus melakukannya saat Lilen tertidur.


Pasti rencana Zino bisa di tebak siapapun, kini Zino membawa sebuah kamera. Dan pastinya ingin meniru Karen dan Lorent memamerkan wanita di sampingnya.


Tapi sebelumnya Zino membuka baju Lilen terlebih dahulu, Zino membuka atasannya juga dan kini membuka rok yang di pakai Lilen. Kadang kadang Zin menelan Salivanya melihat rupanya bentuk tubuh Lilen sangatlah indah.


Atasannya, kakinya, kulit putihnya juga sangat mendukung otak kotor Zino melayang layang. Beberapa kali Zino mengelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri.


Tapi matanya pasti nakal dan selalu mencuri pandang pada pemandamgan di depannya. Ada rasa ingin mencoba yang Zino rasakan tapi ia berusaha untuk tidak melakukan apa apa karna ia yakin dirinya hanya untuk Cessa seorang.


Zino berusah membayangkan Cessa saja dari pada melihat tubuh Lilen. Tapi membayangkan Cessa malah mengingatkan Zino pada malam panas mereka untuk pertama kalinya. Dan hal itu tentu saja sangat berpengaruh pada Zino kecil.


Zino turun dari tempat tidur Lilen dan memilih melanjutkan rencananya. Zino membuka bajunya dan terus menatap Lilen yang kini sudah tidak mengenkan apa pun. Salivanya masih susah untuk di telan.


"Zino sadar Zino.." Zino menampar dirinya sendiri. "Kamu milik Cessa dan aku yakin Cessa sedang menunggu aku menjemputnya. Zino mengambil kameranya dan hendak menghidupkannya dan mulai merekam.


Dengan perlahan Zino naik ke atas ranjang bersama Lilen, Zino ingin berbaring di samping Lilen dan seakan sedang melakukannya dengan Lilen, adik musuhnya itu.


Kulit lembut Lilen bertemu dengan kulit Zino, seluruh tubuh Zino seolah mendapatkan aliran listrik yang menjalar di tubuhnya. Bahkan tak sengaja Zin mende*sah sekali. Zino terus menatap Lilen dari atas sampai bawah.


Zino khilaf, dia tidak dapat berpikir dengan benar.


"Aku seorang mafia kan? Terserah aku lah..." Zino tersenyum penuh arti dan langsung mengecup punggung Lilen. Dan Zino juga tak lupa dengan rencananya dan mulai merekamnya.


Tangan Zino mulai nakal dan menjalar ke sana kemari. Dan semua itu tentu saja terekam sempurna di kameranya.


"Karen... Lihatlah apa yang aku lakukan dengan adikmu... Oh tubuhnya yang indah, kulit putihnya, dan barang barang aset yang berharga pun semakin menambah sempurnanya malam ini. Maaf ya.. Aku sedikit nakal malam ini.." Zino m***** P****ra Lilen dengan rakusnya dan masih tetap di rekam.

__ADS_1


"Apa aku boleh malakukan lebih?" Zino tersenyum penuh arti dan kali ini ia turun ke tempat lain. Jika tadi ia masih di bagian ata maka kini Zino di bagian bawah.


Ia tidak memperlihatkan apa yang ia mainkan, dari tanganya sudah terlihat kalau Zino benar benar memainkannya dan bahkan menyentuhnya dengan lidahnya.


"Sebagai kakaknya Aku bertanya lagi padamu.. Boleeehh ya..!?" Ucap Zino dan setelah itu kamera itu ia taruh sembarangan dan melancarkan aksinya. Terdengar dari dalam video kalau Zino mende***h dan sangat menikmati permainannya.


Tiba tiba terdengar juga suara Lilen yang terkejut dan langaung berteriak saat itu juga, menandakan Lilen telah sadar dan mendapati Zino yang sedang bermain dengannya.


***


Di tempat lain Cessa sedang mandi dan membersihkan dirinya. Sedangkan Karen tentu saja masih fokus pada Laptopnya.


Cessa keluar dari kamar mandi dan melihat Karen sangat fokus ke layar monitor laptopnya. Dengan tangan yang mengusap usap bibirnya. Kadang juga Karen mengelengkan kepalanya dan mengusap rambutnya gusar.


Rasa penasaran pasti ada di hati Cessa tapi ia tidak ingin mengganggu dan lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya.


Karen menoleh pada Cessa yang baru saja keluar daru kamar mandi, Karen juga memiliki rasa ingin tapi ia berusaha menahannya. Siapa yang tidak akan tergoda jika melihat seorang wanita cantik di depannya hanya sedang meliitkan handuk di tubuhnya dan sibuk mencari baju dengan mendunduk nunduk seperti yang sedang Cessa lakukan saat ini.


Cessa akhirnya menyadari tatapan nakal Karen dan segera berlalu ke tempat lain agar tak terus di tatap.


Karen yag sudah hampir tak terkendali pum memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan yang harus ia tuntaskan seorang diri kalau bisa.


"Cessa aku mau mandi dulu, kamu tolong lihat laptopku. Kalau ada yang mengirim pesan atau apa pun cepat beritahu aku ya..." Karen pun masuk ke dalam kamar mandi.


Off dulu kawan..


koment ya.. Dan ini sudah masuk part part serunya looo.. gak penasaran kah kayak apa kelanjutannya, apa Cessa akan sama Karen atau sama Zino? Kalau readers mau koment pun boleh, author persilahkan, apa sih yang enggak buat readers.. Dan jangan lupa Like juga karna itu sangat membantu loooo...


Maaf ya ini udah lewat tgl 21 tapi blum crazy up, soalnya NT masih sibuk banget kayaknya.. makanya belun ada info lagi, author gak bisa sembarangan crazy up kalau belum ada info dari NT langsung.

__ADS_1


satu bab dulu ya..


Hai hai.. Readers mampir donk ramaikan novel baru author, butuh banget pembaca, sangat sepi, author cuma mau ajak readers untuk mampir walaupun baru baca satu bab pun gpp.. Mau ya.. Judulunya, Dendam 100 Kilogram.. Author tunggu looo.. Udah ada 10 bab say... Mampir ya.. Author tunggu...


__ADS_2