
Lilen masuk lagi ke dalam pelukkan Jake. Tanpa terasa Lilen mengecup leher Jake.
Membuat desiran yang sangat besar dari atas hingga bawah Jake. "Li..Lilen.." Jake mengusap puncak kepala Lilen.
Sedangkan Lilen tetap menempatkan bibirnya di kulit leher Jake.
"Baiklah tuan sudah ya.. Saya tinggal dulu.. Nanti akan ada yang mengantar obat obatan untuk mengurangi rasa sakitnya." Ucap perawat cantik itu.
Jake mengangguk mengerti dan tak bisa mengatakan satu patah kata pun.
Perawat itu pun meninggalkan kedua pasangan itu.
"Eeemm tapi kayaknya gak perlu obat pereda nyerinya.. Karna ada..." Jake mengecup kening Lilen lagi.
Bukanya menjawab atau memarahi Jake lagi, tapi Lilen makin menekankan wajahnya makin dalam.
"Aaahh Lilen.." Jake tak bisa menahan mulutnya untuk bersuara.
"Jake." Lilen mengangkat wajahnya dan menatap Jake.
"Apa sayang..?" Suara magnetis Jake itu berhasil membuat jantung Lilen berdetak kencang.
"Aku.. Aku.." Cup.. Jake langsung menarik tengkuk Lilen dan menyatukan kedua bibir mereka.
Lilen tak menolak, ia menerima apa yang Jake lakukan padanya. Bibir lembut Jake membuat Lilen tak berdaya.
__ADS_1
Saling meneguk satu sama lain. Menikmati manisnya, bahkan Jake tak tahan untuk tak menggigit bibir Lilen.
"Eeemmhh.." Lilen meleguh.
"Itu obat terbaik untuk aku Lilen.." Jake mengelus bibir Lilen yang basah akibat aksinya.
"Jangan di hapus.." Lilen menahan tangan Jake yang mengusap bibir basahnya.
"Aku gak mau pria lain liat bibir basah kamu.. Nanti mereka tergoda juga kayak aku.." Jake mengecup lagi sekilas bibir Lilen.
"Jake.." Lilen sangat gemas pada laki laki yang tengah terluka ini.
"Apa kamu sudah makan.. Atau mau aku yang suapi..?" Jake semakin membuat rasa nyaman untuk Lilen.
"Aku gak mau makan.. Aku mau di peluk aja.." Lilen memeluk Jake lagi.
"Gini aja.. Kita pesan makanan, nanti makan sama sama sambil pelukkan.. Mau..?" Itu berhasil membuat Lilen mengangguk setuju.
Tanpa di ucapkan dengan kata kata, keduanya pasti tahu rasa yang mereka rasakan saat ini adalah cinta.
Jake di rawat di rumah sakit sedangkan Zino di rawat di rumah. Zino menolak rencana Bella dan Cess yang ingin membawanya ke rumah sakit. Dengan keras kepalanya Zino menolak.
Cessa dab Bella tak bisa berbuat apa apa lagi selain mengikuti kemauan laki laki usia 29 tahun tapi seperti anak umur 10 tahun.
"Apa masih sakit...?" Cessa datang membawa sup untuk Zino.
__ADS_1
Zino beberapa hari ini tidak di perbolehkan banyak bergerak karna luka di pinggangnya. Jadi makanan dan segala keperluan Zino akan di antar ke kamarnya.
Di kamar ia tak sendiri. Zino di temani si Kecil Karsa, sejak kejadian itu, Zino tak bisa meninggalkan Karsa. Ia juga ingin seperti Cessa yang menjaga Karsa langsung.
"Sudah gak terlalu sakit.. Tapi ada lah.. Reaksi obatnya juga sudah mau habis.. Makanya mulai ada rasanya.." Zino memperbaiki posisinya di bantu Cessa.
"Ya udah makan dulu ya.." Cessa meniup nuip sup itu untuk di suapkan pada Zino.
"Bisa gak aku makan dari bibir kamu..?" Zino menatap Cessa yang tengah sibuk dengan sesuap supnya.
"Apa sih..?" Cessa tak peduli.
"Ck gini.. Minta itu.." Zino menunjuk penitik api di atas nakas.
"Ini kenapa ada di sini..?" Cessa meneliti benda itu.
"Tadi punya Lorent kayaknya.. Ketinggalan.." Sahut Zino dan mengambil penitik itu dari tangan Cessa.
"Lorent merokok...?" Cessa membulatkan matanya.
"Ya kadang katanya.., udahlah jangan bahas Lorent.. Bahas aku dan kamu aja.." Zino mengedipkan matanya sebelah.
"Gini sayang.. Coba tiup api ini.. Apa akan mati atau makin menyala..?" Zino menitik api dari penitik itu.
"Apa sih..?" Cessa tak mengerti.
__ADS_1
"Tiup aja.." Zino tetap memberi perintah.
"Puuuhhhppppmmm.."