
Siapa yang tak terharu melihatnya. Pertama kali dan terakhir kalinya Baby Karsa akan bertemu dengan sang ayah kandung, dan setalah ini maka jangankan kecupan pipi, memanggil nama Karsa saja Karen tidak akan bisa lagi.
"Maaf kita akan muai Kremasinya..." Seorang penjaga datang lagi dan akan membawa peti berserta Karen kedalam ruangan Kremasi.
"Tunggu..." Cessa menahan lagi.
"Karen.. Aku harap kamu bahagia di sana. Karsa akan aku jaga seperti anak aku sendiri. Karen... Biasanya kamu duluan yang kecup atau cium aku, tapi kali ini izinkan aku duluan yang kecup kamu.."
Cessa mulai mengecup Karen mulai dari bibir dan seluruh inci wajah Karen dan kembali ke awalnya ya itu bibir Karen.
"Aku akan sangat merindukan kamu Karen... Selalu.." Cessa melihat Baby Karsa di gendongannya. "Lihat bayi cantik ini. Sangat mirip kamu Karen.." Cessa berusaha untuk tetap tegar dengan keberadaan Baby Karsanya.
"Silahkan..." Cessa melihat Bella juga ingin mengucapkan kata kata terakhir untuj Karen, sebelum selamanya ia tidak akan melihat Karen lagi.
"Nak.. Istirahatlah ya nak.. Kamu sudah terlalu letih untuk bermain. Kamu dulu begitukan..?? Tidurlah nak.." Bella mwngingat masa masa kecil Karen yang mudah letih dn Lelah. Maka jika sang anak telah seperti itu maka Bella pasti akan mengatakan demikian dan Karen pasti akan menurut dan tidur pulas.
"Zino..." Cessa memanggil Zino.
Zino pasti punya banyak hal yang ingin disampaikan pada Karen.
"Karen... Kamu bodoh..." Zino menangis lagi.
"Kamu orang terbodoh yang aku kenal. Kenapa kamu gak mau bagi bodoh kamu sama aku.. Biar kita dua sama sama bodoh..." Zino tak sanggup berdiri dan terduduk di lantai.
Sedangkan Lorent tetap di tempatnya dan memberikan hormat terakhirnya pada Karen.
Peti Karen pun di bawa dan semua orang di tempat itu bisa merasakan panasnya api yang membara.
Cessa yang sibuk dengan baby Karsa sampai sampai tas yang di tentengnya jatuh dari pegangannya.
Zino memutik tas tersebut. Tapi malah menjatuhkan sesuatu dari dalam tas itu.
"Apa ini..?" Zino sepertinya mengenali benda itu.
"Ini..." Zino memutiknya dan melihatnya.
"Zino..?" Cessa mendekati Zino.
"Ooohh itu... Itu sapu tangan Ina yang mau Karen berikan sama kamu tapi gak sempat. Dia mau kasih sapu tangan Ina kalau sudah selesai misinya, dan bukan cuma saput tangan Ina, dia juga mau kasih saput tangannya dan lambang elangnya sama kamu Zi.." Cessa menyerahkan baby Karsa kepada Lorent lagi dan membuka sapu tangan yang satunya lagi.
Sapu tangan dengan elang dan bunga tulip hitam di paruhnya. "Ini Karen mau kamu memilikinya.." Zino menatap nanar sapu tangan itu.
"Karen.. Kenapa kamu selalu satu langkah di depan aku..." Zino menerima kedua sapu tangan itu dan meremasnya lalu meletakannya di dada.
Cukup lama terdiam, tiba tiba Zino bangkit dengan mata yang berbeda pula.
"Aku akan balas kematian Karen.. Stev.. Kamu cari mati denganku.." Zino menghapus air matanya dengan sapu tangan barunya dari Karen.
"Ini lambang kita Karen..." Zino menyukai gambar pada sapu tangan itu.
__ADS_1
"Zi... Kamu mau ke mana..?" Zino hendak pergi dari tempat ini.
"Kamu tunggu di sini.. Aku ada keperluan sebentar..." Zino mengusap pipi Cessa dab kembali berlalu.
"Tunggu...!!" Lorent menghentikan Zino.
"Aku tahu kamu mau kemana, maka sebagai bawahan Tuan Karen aku akan ikut kemana pun tuan Zino pergi. Karna itu perintah Tuan Karen sendiri." Lorent memberi hormatnya dan Zino mengangguk.
Maka pergilah keduanya dari area kremasi itu. Meninggalkan bara api panas Karen.
"Zino..." Cessa menatap punggung Zino yang semakin menjauh.
Tiba tiba Zino terhenti. Ia berlari kebelakang ke arah Cessa dan Baby Karsa.
Zino berhenti tepat di depan Cessa.
"Hai.. Kamu dukung aku kan...?" Zino mengajak Baby Karsa bicara.
"Kamu mau di bawakan apa untuk Daddy kamu nanti...?" Sepertinya pertanyaan itu semakin ngaur.
Bayi yang di ajak bicara tapi ia masih tisur pasti terganggu. Maka bayi kecil itu mengerakan tangannya dan mengangkat tanganya dan tangan itu di turunkan perlahan di kepala mungilnya.
"Oke baiklah aku akan bawakan kepala untuk Daddymu.." Cup..
Zino mengecup Baby Karsa lalu menatap Cessa dalam dalam.
"Kamu mau apa..?" Kali ini ia bertanya pada Cessa juga.
Cup..
Zino juga mengecup Cessa, "Aku pasti kembali dengan selamat dan membawa oleh oleh untuk Karsa..." Zino tersenyum jahat dan setelah itu pergi dengan berlari lebih cepat lagi dari sebelumnya.
"Zino..." Lirih Cessa. "Semoga berhasil.." Kali ini Cessa sangat berharap Zino berhasil.
"Karsa sayang..." Cessa membawa Baby Karsa duduk di lantai begitu saja dan memainkan jari jemari Kecilnya.
"Kamu cantik.. Daddymu ganteng.. Cocok banget.." Bisiknya. Berkali kali Cessa juga mengecup Karsa dengan lembut dan gemasnya.
"Nyonya.. Terima kasih sudah membawa bayi ini.." Cessa menatap Bella.
"Cessa..." Bella mendekati Cessa.
"Rawat dia nak.. Karen menginginkan kamu untuk bayinya. Dia mau kamu yang jaga bayinya. Aku yakin, Karen pasti tersenyum bahagia lihat bayinya sekarang di pangku kamu.." Bella mengelus rambut Cessa.
"Jadi, aku Mommy Karsa..? Ya.. Aku Mommynya, hanya kurang Daddy kamu sama kita dua sayang.." Cessa mencium Karsa lagi.
***
"Stev Paul.. Kamu berhutang satu kepala dan satu Nyawa padaku.." Zino memasukan dua pistol dalam sakunya. Satunya pistol yang Karen berikan dan satunya lagi milik Karen yang di gunakan Stev.
__ADS_1
"Sekarang tidak ada rencana rencana lagi. Hanya tinggal datang dan menyerang habis habisan." ucap Zino sudah tak sabar.
"Tuan saya tetap membawa anak buah untuk berjaga jaga." Lorent setia mengikuti Zino.
"Lakukan saja yang kamu mau dan aku akan lakukan apa yang aku mau.. Hari ini kalian bebas melakukan yang kalian mau. Jika kalian ada jiwa pembunuh maka ikut aku.." Zino membawa beberaa senjata lainnya yang juga kurang di ketahui namanya.(maaf tidak bisa di ketik auhtor karna akan kena tilang sama Nt)
***
Di sisi lain, Cessa dan yang lainnya menginap di sebuah hotel tak jauh dari rumah khusus tempat Kremasi.
"Cup cup cup.." Cessa menenangkan Baby Karsa yang dari tadi menangis.
"Kayaknya dia lapar.." Ucap Cessa dan pembantu yang Bella bawa menyiapkan susu formula untuk Baby Karsa.
"Ini Nyonya.." serah pembantu itu sebuah dodot pada Cessa.
"Terima kasih.." Cessa segera memberi Baby Karsa dodotnya itu.
"Eeehh kok gak mau.." Bayi mungil itu terus menangis.
"Gak mau kah..?" Kini Bella yang mencoba.
"Looo bayi pintar kok gak mau minum susu nak.." Ucap Bella juga bingung karna ini pertama kalinya cucunya ini tidak mau minum susu.
"Eeemm, biar aku coba lagi.." Sepertinya Cessa medapat cara baru.
Bella menyerahkan Baby Karsa pada Cessa dan Cessa langsung membuka atasannya dan membiarkan Baby Karsa melakukan sisanya.
"Eeehhh..?" Bella sangat terkejut.
"Ya ampun bayi kecil ini.. Paham aja ya mana yang enak.." Bella tersenyum melihat cucunya sejak kecil sudah usil seperti ini.
Sepertinya bayi cantik ini ingin menyusu langsung dari tubuh ibunya tapi karna kondisi seperti ini maka Cessa hanya memberi apa yang ada padanya.
"Suka ya..?" Cessa menoel hidung kecil Baby Karsa.
"Eeemm nanti kalau Karsa sudah gak rewel lagi baru Cessa kasih susunya.." Jelas Cessa pada Bella.
"Iya sayang.. Kamu bingung ya panggil saya apa..?" Duga Bella.
"Eehh.. Eemmm iya.." Cessa sedikit malu.
"Gak usah ragu.. Karen dulu panggil aku dengan sebutan Mommy padahal saya gak suka di panggil Mommy. Saya maunya itu cukup di panggil Mama. Tapi karna Karen yang meminta maka mau tak mau saya turuti dia. Jadi kamu juga harus panggil saya Mommy. Sama kayak Karen." Bella tersenyum lega tidak ada lagi sedih di wajahnya.
"Saya sudah ikhlas.. Karen pergi lebih awal. Dengan adanya kamu dan Karsa saya lebih baik." Cessa mengangguk setuju.
"Aku juga begitu.. Rasanya lebih tenang. Aku yakin Karen pasti bahagia seperti yang Mommy katakan tadi sama aku. Dia pasti bahagia liat aku dan baby Karsa bersama.
***
__ADS_1
Zino...