
Cessa menganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar langsung dari mulut Zino.
"Kamu Gila Zino.. Kamu menyentuh Lilen Setelah itu kamu minta Jake untuk meneruskannya...? Kenapa Zino...?" Cessa yang malah terpancing emosi mendengar ketidak adilan yang menimpa Lilen. Malah sang kakak tampak biasa saja mendengarnya.
"Maaf Cessa aku tahu ini menyakitkan kamu tapi aku..." Zino belum selesai bicara Cessa sudah memotongnya dengan mengangkat telapak tangannya di depan Zino.
"Bukan itu Zino... Kamu jahat dengan Begitu sama Lilen. Apa salahnya..? Dia gak salah Zino. Kenapa kamu sama Jake jahat sekali sama dia... Aku gak masalah kamu mau berhubungan sama wanita mana pun.. Asal kamu gak gak sakitinya..." Cessa benar benar emosi sebagai seorang wanita yang mengetahui wanita lainnya yang di lecehkan dan di sakiti seperti yang di alami Lilen.
"Cessa aku juga gak bermaksud kayak gitu cuma waktu itu aku..." Lagi lagi Cesaa menghentikan ucapan Zino.
"Zino... Aku kira kamu adalah laki laki yang baik tapi ternyata....??" Cessa membuat Zino panik seketika mendengar ucapan kekecewaan Cessa.
"Cessa maafkan aku... Aku khilaf.. Aku tanpa sadar melakukannya Cessa..." Zino berusaha menjelaskan.
Sedangkan Karen menikmati pertengkaran di antara keduanya. Tadinya Karen juga sedih mengetahui kenyataan tentang adiknya tapi setelah melihat reaksi Cessa kesedihan itu hilang seketika, melihat Cessa yang semakin kesal dengan Zino Karen semakin menjadi dan memilih untuk diam dan menjadi pendengar setia.
"Zino... Aku gak akan maafkan kamu sebelum kamu minta maaf sama Lilen dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu perbuat sama dia." Ponis akhir dari Cessa pada Zino.
"Cessa kalau aku bertanggung jawab pada Lilen maka kamu..." Zino melihat ke Cessa setelah itu melihat lagi pada Karen yang sejak tadi terdiam di antara mereka.
"Itu gak penting Zino yang penting aku mau kamu tanggung jawab sama Lilen.." Terus memponis.
"Gak Cessa itu gak adil.." Zino masih tidak terima ponis dari Cessa.
"Zini aku mohon. Kalau dulu kamu begitu gigih mencari aku karna aku yang sudah kamu nodai, lalu kenapa kamu tidak mempertanggung jawabkan Lilen yang sudah ada di depan matamu Zino.. Apa perbedaan aku dan Lilen...?" Yang di katakan Cessa memang ada benarnya.
Kenapa Zino pilih kasih antara Lilen dan Cessa. Dulu Cessa pergi meninggalkan Zino dan Zino susah payah mencarinya. Sedangkan sekarang Lilen yang barusaja Zino nodai juga sudah ada di depan Zino bahkan ikut Zino, lalu mengapa Zino tidak melakukan hal yang sama pada Lilen seperti Cessa dulu.
"Ya bedalah Cessa... Dulu akj benar benar cinta kamu.. Dan aku siap tanggung jawab apa pun yang terjadi sama kamu. Tapi Lilen? Aku gak cinta sama dia Sa.." Zino membela dirinya sendiri.
"Lalu kalau gak cinta kenapa kamu coba coba..? Kamu kira enak di coba coba gitu..?" Cessa maju dengan berani ke depan Zino.
"Cessa aku Khilaf Cessa.. Aku Khilaf.." Mesih berusaha menyangkal
__ADS_1
"Lalu kalau khilaf gak bisa tanggung jawab. Patutnya kalau khilaflah kamu tanggung jawab karna kekhilafan kamu.." Bantah Cessa tak habis habis.
Zino tidak bisa berkata kata lagi dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Karen juga sedih melihat itu terjadi pada Zino tapi di sisi lain juga ia senang.
"Eeemm Cessa bagaimana kalau kamu tunggulah dulu.. Kan mungkin aja Lilen gak mengandung anak Zino dan Zini juga bisa memperjuangkannya cintanya sama kamu..." Akhirnya Karen bersuara.
"Karen kamu juga dukung Zino...?" Nada amarah Cessa masih membara.
"Gak gak...." Dengan cepat Karen mengeleng gelengkan kepalanya takut di marahi Cessa juga.
"Jangan kalian dua pikir kalau Lilen gak hamil Zino lepas tangan dan gak tanggung jawab gitu, bearti kemarin kalau aku gak hamil anak kamu kamu gak mai tanggung jawab dan cari aku gitu kamu cuma mungut anak yang aku kandung. Dan kamu juga gitu Karen...?" Sepertinya amarah Cessa semakin meledak ledakdi tambah lagi Karen yang tampak membela Zino.
Karen menggigit bibirnya sebelah bawahnya karna takut salah menjawab lagi.
"Baiklah Cessa kalau itu yang kami mau.. Aku akan tanggung jawab pada Lilen.." Akhirnya Zino menyerah saja dari pada membuat Cessa semakin benci padanya.
"Tuh kan mudah tinggal bilang mau tanggung jawab apa susahnya.." Cessa mulai mereda.
"Iya Cessa tapi aku akan tetap perjuangkan cinta aku juga, aku juag berhak berjuangkan cinta aku ini, dapat gaknya itu hasil akhir" Rupanya Zino masih gigih.
"Sudah Zino ayo kita pergi..." Karen langsung menyerat Zino.
"Eh tapi aku belum selesi bicara sama Cessa." Zino berusaha melawan.
"Kamu mau Cessa marah lagi sama kamu..?" Karen berbisik di telinga Zino dan sekejap Zino terdiam dan ikut apa yang Karen perintahkan.
"Hah.. Aku lupa tadi aku cerita sama kamu di depan Cessa kena marag deh sama Cessa..." Kesal Zino dengan dirinya sendiri.
"Iya makanya kalau ngomong itu ingat ingat keadaan juga. " Soroh Karen juga.
"Sudah ah ayo kita gabung sama yang lainnya pasti Lorent dan Jake sudah tunggu untuk intruksi selanjutnya Zi.." Ajak Karen dan tak ada yang bisa Zino kerjakan lainnya selain ikut Karen dan mulai menyusun rencana lagi.
***
__ADS_1
Cessa sedang di dalam kamarnya lagi sendiri.
"Cih Zino.. Kamu keterlaluan banget sih.. Kasian Lilen pantas aja sampai di rumah inj Lilen sama sekali gak banyak bicara pasti dia merasa tertekan banget sama Zino dan juga Jake. Dia juga pasti gak punya teman cerita, Karen bukan kakak aslinya dan ini semua terjadi juga karna Karen. Lilen pasti sangat malu menceritakannya.." Cessa merenungi apa yang Lilen hadapi.
"Ah iya aku akan menemui Lilen saja. Iya itu pasi rencana yang bagus. Aku juga gak terlalu dekat sama dia, semoga aja aku bisa bicara sama dia." Cessa keluar dari kamarnya dan sangat aneh di depan kamarnya, biasanya selalu ada yang berjaga di depan kamarnya tapi ini satupun tidak bisa ada.
"Aneh ya.. Ah mungki tugas dari Karen sama Zino..." Cessa tak menghiraukan kejanggal itu dan terus berjalan sendiri.
Tiba tiba...
Gelap semua.
***
Cahaya masuk perlahan ke dalam pengelihatan Cessa, dengan tenaganya yang tersisa Cessa membuka matanya.
"Eeeuuuhh" Cessa meleguh bangkit dari baringnya tapi tubuhnya terasa sangat berat.
"Eh...?" Cessa melihat tubuhnya sudah terikat di kursi dengan sangat kencang.
Cessa menoleh ke sana dan kemari, ia tidak mengenali tempat ini. Ini bukan rumah yang Karen dan dirinya tinggali beberapa minggu ini.
"Ini dimana...?" Gumam Cessa pastinya kebingungan.
"Kamu sudah sadar...?" Suara tak di kenali Cessa juga tiba tiba ada di ruangn itu.
Perasaan Cessa semakin tak karuan. Cessa mengingat pertama kali ia di tangkap Karen dan inilah yang ia rasakan. Apakah kali ini ia di culik lagi..?
Dengan ragu Cessa menoleh ke samping, ternyata ada laki laki yang mengenakan topi hitam dan baju serba hitam.
Laki laki itu perlahan membuka topinya dan terlihatlah wajahnya. Ada tato di lehernya. Laki laki itu juga membuka baju serba hitamnya itu. Tato dari lehernya merambat hingga bahu dan dada sebelah kirinya.
Semua itu terlihat jelas karna laki laki itu bertelanjang dada di depan Cessa.
__ADS_1
"Ooohh tidak lagi...!" Isi hati Cessa saat ini..
Apa isi hati kalian para pembaca...? Like donk...