Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 85


__ADS_3

Zino pun sama kini jadinya gugup di depan Lilen. Lilen juga malam ini berpenampilan cantik, dengan rambutnya yang terurai, piama pink muda. Zino bingung membicarakan apa lagi.


Sebenarnya ingin sekali Zino membentak bentak Karen di depan Lilen sekarang juga. Tapi Zino juga tidak enak di depan Lilen.


Zino tak ingin semakin lama berhadapan dengan Lilen memilih untuk pulang e kamarnya saja. Lilen menghela nafasnya lega karna Zino sudah pergi dari hadapannya.


Lilen menatapi tempat tidur Karen yang kosong tak ada yang menempatinya. Tiba tiba Lilen membayangkan Karen dan Cessa pasti sedang melakukannya. Secera tak langsung Lilen malah mengingat di mana ia terbangun melihat dirinya dan Zino sedang bersatu.


Tapi persatuan itu tidaklah senikmat yang Lilen harapkan, Zino terus mengucapkan nama wanita lain dan membuat kegiatan itu yang seharusnya menyenangkan malah rusak parah. Lilen sebenarnya menyukai Zino sepenuhnya tapi setelah tahu kalau Zini dekat dengannya hanya untuk mencari Karen dan Wanita yang Zino sebut sebut namanya itu juga ada di sini sekarang.


Lilen melihat dengan jelas cinta yang Zino dan Karen punya untuk Cessa sangatlah besar. Apalah Lilen yang hanya angin lalu di mata Zino.


Dengan perasaan yang berkecamuk, Lilen pulang ke kamarnya juga dan beristirahat.


Pagi menyambut semuanya. Hari ini Zino yang lebih dulu bangun dari yang lainnya. Zino sudah duduk di depan meja makan menunggu penghuni lainnya datang juga.


Setelah beberapa menit kemudian Cessa datang, Cessa sudah mandi dan tampak sangat segar pagi ini. Zino yakin sesuatu, Cessa pastu sudah di manjakan oleh Karen makanya Cessa lebih cerah pagi ini.


"Eeehh Zino kamu sudah bangun?" Cessa tak menyangka Zino sudah berada di dapur.


"Eemm.. Kamu semalam tidur dengan siapa?" Zino langsung saja dengan inti yang mengganggunya sejak semalam.


"Hah...?" Cessa mulai bingung harus menjawab pertanyaan Zino. Cessa tak mau menyakiti perasaan Zino karna semalam Karen memaksa tidur dengannya.


"Eeeemm... Aku tidur dengan Karen... Dia memaksa tidur dengan aku.." Cessa mengaku saja dari pada berbohong pada Zino.


Zino senang Cessa yang jujur padanya taoi Zino juga tidak suka dengan jawaban jujur itu yang jelas jelas ia merasa kalah dari Karen.


"Kalau begitu... Malam besok aku akan memaksa juga agar bisa tidur sama kamu.. Kamu harus terima aku sama seperti kamu terima Karen...!" Ucap Zin dengan tegas.

__ADS_1


"Hahhhh?" Cessa tak percaya.


Zino memandang Cessa dengan dalam dalaam.


"Aku tida mau ada penolakkan" Zino menyeruput teh hangatnya.


"Iya iya... Huuuhh.. Kenapa hidup aku ini.. Ada yang bisa tolong aku kah...?" Gumam Cessa sambil megambil makanan yang sudah tersedia di meja makan itu.


"Kenapa kamu gak suka aku juga tidur sama kamu kayak Karen.. Dan kamu lebih suka Karen yang tidur sama kamu.." Zino sensitif sekali.


"Bukan gitu Zi..." Zino mengalihkan pandangannya ke arah Cessa yang baru saja memaggilnya dengan sebutan 'Zi'


Sudah lama Zino tidak mendengar Cessa memanggilnya seperti itu. Rasa rindu mendengar suara Cessa yang memanggilnya membuat emosinya tadi dan kesensitifnya hilang seketika.


"Kenapa harus aku Zi... Bukannya kalian berdua itu adalah orang orang Hebat.. Kalian gak sepatutnya merebutkan satu wanita seperti aku ini.. Di luar sana lebih banyak wanita cantik dan berpendidikan, bukannya seperti aku. Ingat pertama kali kita bertemu...? Kamu menemukan aku di tempat laknat, padahal kamu bisa mencari wanita yang lebih baik dari aku. Lalu Karen... Dia juga seorang bos besar di beberapa negara. Pastilah di suatu negara itu ada wanita cantik yang pastinya bisa mencuri hatinya tapi kenapa harus wanita yang ia culik dari adiknya...?" Cessa sekarang malah curhat di depan Zino.


Zino melongo mendengar ocehan ocehan Cessa tak jauh dari situ juga Lilen mendengarnya. Ia juga tak menyangka kisah pertemuan Zino dan Cessa seperti itu.


"Benar.. Dengan kondisi saat ini juga sebenarnya tidak memungkinkan aku dan Zino bersaing mendapatkan kamj karna kami punya misi yang sama kali ini. Karja sama kami juga sangat di perlukan, tapi jika semua ini sudah berakhir barulah persaingan aku dan Zino di mulai." Sambung Karen tiba tiba dari belakang Zino.


"Karen..?" Zino terkejut.


Kemarin setelah diskusi penyerangan rupanya Zino dan Karen juga mendiskusikan masalah mereka sendiri. Dan itulah hasil diskusi mereka. Maka Cessa harus bersiap siap jika masalah dengan Stev Paul sudah selesai maka masih ada yang harus di selesaikan lagi ya itu masalah Karen dan Zino.


"Wahh.. Adikku sudah dewasa.." Karen menyingkut Zino.


"Heh.. Gini gini.. Cuma beda 2 tahun kita dua.." Zino tak terima di katakan baru dewasa.


"Uuuuuu..." Karen menutup mulutnya tak percaya lebay.

__ADS_1


"Eehh Lilen sini ayo kita makan..." Cessa menoleh dan mendapati Lilen berdiri tak jauh dari meja makan.


"Ah Iya..." Lilen pun bergabung.


"Ha... Ini dia Lilen.. Ilen.. Nanti kamu jadi medis ya... Mau kan...?" Karen mulai membicarakan hal penting yang ingin ia katakan pada Lilen.


"Bisa tidak nanti saja bicaranya... Lilen mau makan.." Cessa berkacak pinggang setelah memasukan lauk pauk dan sayuran untuk Lilen.


"Eeehh.. Kakak iparnya yang marah..." Karen menggaruk garuk tengkuknya dan tak melajutkan ucapannya.


Lilen sedikit terpukau pada Cessa yang baru saja membantunya. Jujur Lilen malu jika berbicara dengan Karen dan di hadapan Zino dan yang lainnya.


Dengan Cessa yang mengatakan dirinya ingin makan maka Lilen jelas tak perlu menganggapi ucapan Karen. Semua pun kini sudah di meja makan termasuk Rindu dan Lorent bahkan Jake juga. Karen menatapi selilingnya.


"Senangnya aku tapi kenapa aku malah ingin menagis sekencang kencangnya melihat ini semua... Ada ada ini sebenarnya. Zino apa kamu juga merasakannya...?" Karen menoleh pada Zino yang tampak biasa saja.


Sebisa mungkin Karen menyembunyikan apa yang ia rasakan.


Di tempat lain..


Stev dan anak buahnya yang ratusan sedang bersiap dan mengulang rencana awal.


Seperti yang Karen dan Zino pikirkan kalau target Stev adalah Cessa dan kini yang Stev pikirkan adalah cara mendapatkan Cessa.


"Aku akan mendapatkannya... Dan lihat saja kedua orang itu akan hancur seketika.." Stev yakin dengan rencananya yang baru ini.


"Kita mulai penyerangannya... Dan dapatkan apa yang aku inginnkan.."


Semua orang orang itu memberi hormat dan pergi satu persatu dari hadapan Stev yang kini duduk indah di kursi kebesarannya.

__ADS_1


off dlu... udah mulai nih... Mana ini suaranya.. Likenya mana nih...


__ADS_2