Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 110


__ADS_3

Keduanya saling pandang. Mau bagaimana lagi kini Cessa sudah seperti bos bagi mereka. Lain juga Zino yang selalu membela Cessa.


"Lalu aku harus gimana..?" Rindu semakin bingung.


"Rindu.. Urus dulu diri kamu baik baik.. Jaga kandungan kamu.. Aku mau liat mereka nanti main sama Karsa.. Kasian kan Karsa gak ada teman nih.. Masih sendiri aja.." Cessa memainkan tangan baby Karsa.


"Looohhh kan ada aku.. Mau kah sayang..?" kapan..? Berapa?" Zino langsung menganggu pembicaraan Cessa dan Rindu.


"Kamu ini.. Datang datang langsung nyahut aja.. Buat kaget.." Cessa sangat tak suka perangai Zino yang satu ini seperti setan saja tiba tiba datang tak di undang.


"Ya kan aku dengar sayang.. Jadi kamu mau Baby Karsa segera punya teman. Teman main gitu ya.. Mau.. Ya aku bantu nanti.. Secepatnya malah.." Cessa memutar bola matanya jengah.


"Sudah Zi.. Rindu lagi perlu aku.. Nih kamu main sama Baby.." Cessa langsung memberikan baby Karsa pada Zino.


"Oke sayang.. Ayo kita main.. Untuk sekarang main sama Daddy dulu ya.. Nanti kalau Daddy dan Mommy sudah punya Baby nahh itu lah teman Karsa nanti ya.." Zino membawa baby Karsa di gendongannya.


"Rindu.. Sabar ya.. Mereka benar benar.." Cessa juga benar benar kehabisan kata kata untuk semua laki laki di depanya ini.


"Aku paham Cessa. Tapi aku benar benar mau pergi dari sini. Aku gak mau.." Rindu melirik Jake dan Lorent.


"Rindu sayang kita baru mulai sayang.. Lilen? Kamu takut Lilen.. Lilen itu bukan siapa siapa aku.. Kami cuma tunangan karna aku harus lindungi dia. Bukan karna cinta kayak yang aku kasih sama kamu sayang.. Ayolah sayang.." Lorent mendekati Rindu.


"Lorent.." benar yang di katakan Lorent, Ia dan Rindu baru memulainya. Dan rasa yang ada pada Rindu ini tak bisa ia bohongi juga. Rasa yang berbeda jika bersama dengan Lorent. Meski sakti tapi rasa itu masih ada.


"Rindu.. Cobalah.. Lorent laki laki yang baik.. Percaya sama dia, Lilen juga sudah jelaskan padaku dan penjelasnnya sama seperti yang di katakan Lorent. Coba percaya padanya sekali ini saja." Pinta Cessa karna ia percaya pada Lorent yang akan menjaga Rindu dengan benar. Apalagi anak yang di kandung Rindu adalah Anak Lorent.


Jake menghela nafasnya. Ia sudah merasa kalah dengan Cessa yang mendukung Lorent dan Rindu.


"Jake.. Aku mohon.. Kita juga harus tunggu Lilen kan.. Setelah semuanya di pastikan.. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau.. Aku gak akan larang lagi." Cessa juga paham apa yang di rasakan Jake.


"Betul.." Zino da tang lagi bersama Baby Karsa.


"Aku ada tugas penting untuk kamu.. Tapi setelah semuanya di pastikan. Dan Lorent aku gak bisa maksa Cessa.. Ya udah dia ada tugasnya sendiri. Jadi satu satunya calonnya adalah kamu Jake.." Ucapan Zino sedikit berbelit belit bahkan Lorent tak mengerti.


"Maksudnya" Jake menaikan satu alisnya.

__ADS_1


"Nanti ya.. Cessa sepertinya baby Karsa PUP.." Cessa baru paham kenapa wajah Zino sedikit panik saat menuruni tangga bersama baby Karsa.


Tenyata si kecil buang air besar. Cessa pun menertawakan Zino, setelah puas tertawa Cessa membawa Baby Karsa ke kamarnya untuk di bersihkan.


***


Rindu di ajak Lorent untuk beristirahat di kamarnya.


Rasanya masih canggung. Tapi Rindu berusaha kembali netral. Tapi Lorent tidaklah sebodoh itu. Ia menawarkan perhatian perhatiannya untuk Rindu. Mulai dari makanan mungkin, pijitan pelukkan. Dan sebagainya.


Rindu sepertinya masih menjaga jarak dengan Lorent, ia memilih diam saja di banding mengikuti Lorent.


"Sayang.." Panggil Lorent lagi.


"Eeemm?" Hanya itu yang nyaman di katakan Rindu.


"Apa ada cara agar kamu bisa percaya sama aku.. Aku yakin kamu gak percaya sama aku, kamu pikir aku dan Lilen itu saling cinta. Semua itu gak pernah ada sayang... Rasa cinta untuk Lilen? Cih.. Aku gak segila itu, berani cinta sam Adik dari bos aku.. Mending aku habiskan waktu aku sama cewek cewek di Klub dari pada habiskan waktu sama Lilen.." Lorent mencoba cara lain.


"Semoga cara ini berhasil membuatnya bicara pada aku.." Gumam Lorent.


"Ya.. Aku dulu di Canada sering, apa lagi kalau perayaan keberhasilan.. Pasti dj gelar di Klub malam kan" Rindu membulatkan matanya.


"Kamu..?" Rindu sepertinya terpancing.


"Ya.. Aku dulu jalankan perusahaan Mendiang Karen. Perusahaan tekstil. Jadi kalau kami berhasil mendapat keuntangan besar ya kami seru seru ke Klub gitu.. Karen yang ajak awalnya, ya udah aku juga ikut ikutan." Lorent seolah sangat polos dengan mengatakan semuany pada Rindu. Berharap Rindu memberi respon.


"Lalu kamu main sama cewe cewe di sana.. Seru..?" Dada Rindu sudah bergelora ingin mencabik tubuh Lorent.


"Eeemm gak juga paling aku ajak minum sama sama.." Mata Rindu membulat lagi dan..


"Aaaaa... Sayang maaf sayang.. Maaf.. Aku kan cuma cerita.. Aaaaaaa" Rindu mengigit tangan Lorent sekuat tenaganya.


"Sayang ampun.." Lorent semakin kesakitan.


Setelah puas barulah Rindu melepas gigitannya. Ia segera berbaring dan mencoba tidur. Lorent menatap punggung Rindu. Ia yaki Rindu pasti marah padanya.

__ADS_1


"Sayang.. Aku cuma cinta kamu.. Kamu yang terbaik.." Lorent memeluk Rindu dari belakang. Rindu terus melepaskan tangan Lorent tapi seperti Rindu, Lorent terus kembali memeluk pinggang Rindu.


"Aku kira kamu baik.. Tenyata.." Gumam Rindu bosan melepaskan tangan Lorent.


"Aku memang jahat.. Aku dulu suka nonton film.. Buka bukaan.. Aku suka dengarnya.." Rindu menoleh pada Lorent.


"Buka bukaan..?" Rindu mengulanginya.


"Iya.." Lorent memperbaiki posisi Rindu agar menatapnya.


"Aku mau jujur semuanya sama kamu sayang.. Aku gak mau kamu marah lagi sama aku. Aku harap dengan jujurnya aku, kamu bisa menerima aku apa adanya." Lorent menatap mata Rindu dalam dalam.


"Aku suka nonton.. Film itu. Film.. Ya Film laki laki lah" Lorent menutup matanya. " Aku.. Senang aja liatnya. Dan itu buat aku juga mau.. Kamu ingat pas aku sekap kamu di gudang itu..?" Lorent membuka matanya lagi.


"Ya.." Rindu mengangguk.


"Aku yaki kamu ingat semuanya.. Dari awal kamu di bawa sampai kita bercinta."


"Cih.. Bercinta..? Itu namanya pemerko***an" Rindu membenarkan. Dan yang di katakannya memanglah benar.


"Ya sayang itu betul juga. Dan itu semua


Karna aku.. Nonton itu, aku tergoda untim mencobanya juga makanya aku.. Coba sama kamu.." Lorent menggaruk kepalanya.


"Tapi apa sebelum sama aku kamu pernah main sama cewek lain.. Ooh pasti ada lah." Rindu rasa itu adalah pertanyaan yang bodoh.


"Ya.. Ada.." Lorent siap mengaku. Rindu terdiam lagi. "Dan aku membunuhnya.." Rindu menjauhkan tubuhnya dari Lorent.


"Kamu kok jauh jauh.. Kan aku cuma jujur.." Lorent tak ingin Rindu takut padanya tapi malah benar benar membuatnya takut.


"Rindu dengarkan aku dulu.. Akan aku ceritakan.. Tapi aku mohon kamu ai dengar.. Dan jangan takut sama aku.. Mau ya.." Lorent menarik Rindu ke dekatnya lagi.


Flashback on (Lorent)


.....

__ADS_1


Off dulu ya..


__ADS_2