Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 161


__ADS_3

Jake menyingkirkan tangan Lilen dengan mudah dan melakukan apa yang ia inginkan.


Cup cup cup cup cup cup..


Berkali kali Jake mengecup perut Lilen yang baru akan berbentuk bulat. Lilen terpaku, baru pertama kali ada yang mengecup perutnya lembut seperti itu.


Tangan Lilen pun turun dan mengelus rambut tebal Jake.


"Dia milikku.. Aku sayang dia.." Lirih Jake.


"Kamu milik aku.. Gak ada yang boleh lirik lirik" Sergah Lilen juga.


"Oke oke.. Tapi nanti, jujur aja.. Nanti kasih sayang aku terbagi lhooo.. Terbagi dua lagi" Tambah Jake ingin menggodai Lilen.


"Kok gitu?" Protes Lilen.


"Iya donk.. Masa Mamanya aja yang aku sayang.. Anaknya gimana?" Lilen tersentak mengerti.


"Isshh kamu ini..!" Lilen langsung bermanja manja di lengan kekar Jake.


"Rasa nyaman ini, gak akan tergantikan.." Hati Lilen bercicit sendirinya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Cessa selalu menamani Baby Karsa. Dengan penuh kasih sayang dan perhatiannya.


Bughhhh bugghh buughhhh..


Terdengar suara pukulan yang cukup keras di pendengaran Cessa.


"Ada apa itu sayang.." Cessa tentu langsung di landa kepanikkan melihat Zino datang dengan sempoyongan dan bersandar di salah satu pilar.


"Zino!?" Pekik Cessa.


"Jangan mendekat Sayang.." Teriak Zino.


"Zino siapa yang..?" Tiba tiba muncullah seorang berpakaian serba hitam dan bertutup wajah pula.


Sat set sat set. Dan mungkin kerena kondisi Zino yang tak memungkinkan, Zino kalah. Laki laki tak di kenali itu langsung mengangkat sebuah belati dan menusuknya di pinggan Zino.


"Arrrghhhhhhhhh!" Teriak Zino.


"Zino!!!" Pekik Cessa juga.


"Oohh ya ampun Nyonya Cessa. Saya tak ingin berhadapan dengan anda" Bisik laki laki itu.


Bukannya menghadapi Cessa atau sekedar melumpuhkannya, pria serba hitam itu melarikan diri meski ia melewati Baby Karsa dan seorang Bibi, ia tak memperdulikannya.


"Eehh kok kabur?" Cessa sendiri heran melihatnya.


"Cessa.!" panggil Zino sambil memegangi pinggangnya yang sedang sakit dan terluka mengeluarkan darah.


"Astaga Zino, kenapa sih.. Kamu itu.. Isshhh" Cessa menitikkan air matanya sambil membantu Zino bangkit.


"Aku gak apa apa kok sayang.." Akting Zino sepertinya meningkat.


"Gak apa apa konon..!" Bentak Cessa.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


Lilen dan Jake baru keluar dari mobil, berpapasan pula dengan seorang pria dengan wajah tertutup dan serba hitam.


"Eeeehhh! Siapa kamu!" Secepat kilat Jake langsung menghadangnya.


"Jake.. Ini aku.." Pria itu membuka penutup wajahnya. "Ini aku.. Lorent.." Ucapnya sambil terengah engah.


"Hah? Kamu ngapain sih..?" Jake yang bak Polos dan naif.


"Nanti aku cerita.. Sekarang ikut aku.. Lewat sini aja kalian berdua.." Ajak Lorent.


Yahhhh pria serba hitam itu adalah Lorent sendiri yang di perintah Zino untuk neradi akting bersamanya, demi mendapatkan cinta Cessa.


Lorent hendak menolak tapi dengan paksaan Zino, dna karena Zino juga adalah bosnya, mau tak mau Lorent mengikuti perintah Bos bodohnya yang meminta agar di tusuk menggunakan belati di pingganya sama dengan bekas yang kemarin.


Bodoh bukan..


Dan benar saja Cessa jadi sangat perhatian pada Zino. Dan apa pun yang Zino pinta akan di berikan oleh Cessa.


Yahhh seperti kata Zino, demi apa? demi cinta. Demi cinta seorang Cessa, Zino rela melukai tubuhnya sendiri.


Pov Author..

__ADS_1


Demi apa? Demi cuan..


Nextttt.. Guys..


__ADS_2