Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 12


__ADS_3

Setelah meninggalkan ruangan Cessa karena Rindu memberi kode kepada mereka berempat untuk pergi dulu karena Cessa sudah sadar dan hanya pura pura sedang pingsan.


Zino pun uring uringan di luar ruangan dia ingin masuk tapi teman temannya tidak memperbolehkan Zino untuk masuk karna mungkin Cessa ingin menghabiskan waktu dengan Rindu dulu.


"Aku sangat ingin menemuainya, kenapa kalian melarangku? Apa kalian tidak ingin aku dan wanitaku bertemu? Aku sudah sangat menrindukan dia" Keluh kesah terus keluar dari mulut Zino


"Dengar Zi.. Ini mungkin agak sulit karna jujur aku takut kalau kalau wanitamu syok berat. Mengingat cara kau bertemu dengan dia, kau menghamilinya, dia menjaga anaknya, berusaha sebisa mungkin menghidupi janinnya dengan meminum susu dan dia juga kerja mati matian demi membeli susu dan perlengkapan lainnya. Tadi aku dengar dari temannya itu bahwa Cessa baru mendapat uang gajihnya dua hari yang lalu oleh karena itu baru hari ini dia membeli susunya. Tapi malah.. "Johan tidak melanjutkan kalimatnya dan melirik Zino yang langsung terduduk lesu menempel di dinding rumah sakit.


"Apa yang sudah aku perbuat? Dia pasti akan sangat sedih, apa yang harus aku lakukan? " Isak tangis Zino pun pecah kala mendengar ucapan Johan. Johan memang ada benarnya dan sangat benar. Cessa akan sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi padanya selama tiga bulan ini. Apakah Cessa akan menerima kenyataan pahit ini. Hanya itu yang Zino pikirkan ia takut Cessa tidak dapat menerima kenyataan ini. Isak tangis Zino terus menerus.


Baru kali ini ketiga sahabatnya melihat seorang Zino Louis Smith yang mereka kenal handal dalam segala hal, Bos dari para mafia terbesar di Negara ini dapat menangis terisak. Mereka hanya bisa mengelus punggung sahabatnya itu, mencoba menenangkan Zino kala itu.


"Zi..Kau harus kuat, karna kalau kau tidak kuat dan menangis seperti ini, siapa yang akan menenangkan Cessa nanti bila ia menangis sepertimu? Kau harus ada untuk dia menenangkan dia dan memberi dia rasa aman, bukan malah membuat dia terdorong jauh dalam kepedihan" Ucap Rico dengan sangat lembut dan entah sepertinya wejangan dari Rico itu berhasil mneghentikan tangisan Zino dan membuat Zino langsung menghapus air matanya yang masih membasahi pipinya.


"Benar. Sangat benar, aku harus ada untuknya aku akan slalu ada di sampingnya dan melindunginya" Zino benar benar menanamkan wajangan dari Rico itu di otaknya.


Sementara itu


"Rindu apa yang terjadi padaku kenapa aku berada di sini, bukankah tadi kita akan ke rumah sakit? Ini dimana? Dan Rindu, kenapa perutku rasanya nyeri?" Rentetan partanyaan Cessa terlontar satu demi satu.

__ADS_1


"Cessa..Itu... " Belum Rindu menjawab Cessa sudah bertanya lagi


"Siapa laki laki yang membentak tadi? Apa dia mengenalku? Kenapa dia ada di sini di ruanganku? " Masih terus bertanya dengan keadaan sekarang ini.


Rindu yang binging harus menjawab dari mana tidak mendapat kesempatan untuk berpikir. Rindu pun menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya pelan pelan.


"Sa... Se.. See...Sebenarnya kamu... Kamu mengalami ke.. Gu.. Gu..Ran" karna terlalu gugup untuk memberi tahu yang sebenarnya Rindu sampai berbicara dengan sangat belepotan bak makan.


Cessa yang tak percaya hanya tersenyum seperti tidak terjadi apa apa dengan dirinya


"Ayolah Rindu kalau kamu bercanda jangan belebihan ya, ini anakku aku sangat sayang padanya tidak akanku biarkan dia pergi meninggalkan aku. Dia akan selalu bersamaku kami bedua akan seperti jarum dan benang yang tengah menjahit sedikit demi sedikit kain dan menyatukannya, kamanapun jarum pergi maka benangnya akan mengikutinya dari belakang. Begitu pula dengan aku dan dia kemana aku pergi maka ia akan mengikutiku" Ucap Cessa dengan suara yang bergetar menahan tangis tapi ia tidak ingin menangis dan mencoba menguatkan diri.


"Sa benturan yang kamu alami di jalan tadi agak keras dan itu membuat kandunganmu mengalami pendarahan, dan sayangnya bukan pendarahan biasa tetapi kandunganmu mengalami keguguran." Jelas Rindu dengan sedikit berani walau di paksa.


Cessa berusaha mencabut selang infusyang melekat di punggung tangannya dan memaksanya lepas. Rindu mencoba menghentikan Cessa dengan terus mengatakan 'jangan'


Zino yang mendengar suara ribut dari dalam ruangan Cessa karna pintu ruangan itu tidak tertutup rapat maka Zino dan teman temannya dapat mendengar suara ribut dari dalam sana. Zino pun bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke dalam ruangan


Zino berusaha melangkahkan kaki dengan pelan agar Cessa tidak mengetahui bahwa ia sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Zino melihat Cessa sedang mencoba bangun dengan menarik narik tangan dan baju Rindu, Rindu pun berusaha menenangkan Cessa tapi tak ada gunanya Cessa tetap mengamuk tak karuan.


"Rindu buatkan aku susu, anakku akan baik baik saja setelah minum susu, mana.., Mana belanjaanku tadi, cepat buatkan Rindu dia pasti sangat haus.... Cepat Rindu..." Rindu yang mendengar ucapan Cessa terus menangis memdengar permintaan temannya yang tak ada gunanya lagi.


"Aahhh mungkin dia lapar Rin... Cepat Rin buatkan aku makanan, apa saja aku akan memakannya Rindu.. Cepaaattt...... " Cessa terus berteriak dan memohon hal hal yang tak berguna.


Zino yang mendengar semua permintaan Cessa pun tidak dapat menahan tangisnya, Zino berusaha tidak bersuara dalam tangisnya dengan menggigit bibirnya sementara air matanya terus jatuh dengan mulus.


Teman teman Zino pun tak bisa berkata apa apa lagi, mereka mungkin mendengar semua yang di katakan Cessa barusan dan membuat mereka sama sama termenung Billy pun merasa matanya perih hendak mengeluarkan air matanya harus pergi meniggalkan ruangan itu dan pergi ke toilet. Sedangkan Johan dan Rico tetap menunggu di depan ruangan.Johan menutup matanya tapi kupingnya pasti tetap terbuka dan mendengar semuanya. Sedangkan Rico tertunduk lesu menatap lantai lantai rumah sakit berharap di sana ada rumput yang bergoyang untuk ia tanyakan. (santai dulu readers itu matanya kenapa? kabur ya bacanya. iyalah orang matanya penuh air kayak apa gk kabur. Hapus dulu... Baru lanjuut baca lagi oke. Tarik nafas... hembuskan...)


Zino yang melihat keadaan Cessa yang begitu terpuruk dengan kenyataan tidak dapat melakukan apa apa. Walaupun ia bergelimang harta, kekuasaan dan sabagainya tidak dapat mengembalikan apa yang sudah di ambil oleh sang pencipta.


Cessa yang meronta ronta pada Rindu memdadak terdiam kala melihat sahabatnya menatap ke belakangnya seakan mengatakan bila ada orang di sana.


Cessa


Santuy kuyyyy. aman aman.. untuk part ini jujur otor juga meneteskan air mata entah kenapa rasanya begitu sakit dan sangat mendalam otor rasa.


Cukup sampe sini dulu ya otor ngetiknya otor harap readers suka dengan semua alur dan suasana yang otor masukan di cerita ini, semoga gk ada yang menyinggung perasaan para readers ya. Cerita ini hanya hayalan semata dari otor entah kenapa otor pengen buat ceritanya gini. tapi semoga readers suka ya...

__ADS_1


Jangan lupa komen, like, favoritkan, vote dan viewers otor ya... bye bye


salam dari Zino dan Cessaa


__ADS_2