
"Apa kamu sudah makan siang..?" Jake mengusap puncak kepala Lilen.
Lilen menggelengkan kepalanya. Tak berani menatap mata Jake dan tetap bersembunyi di dada Jake.
"Ayo makan, aku temani ya.." Ajak Jake lembut.
Lilen tak bergeming. "Ayo.." Jake tanpa panjang lebar mengangkat wajah Lilen agar memandangnya.
"Ayo.." Sekali lagi Jake mengajak.
"Aku gak mau.." Lilen menatap Jake.
"Gak mau makan biskuit kamu..?" Jake menarik Lilen lebih dekat dengannya.
"Gak mau.." Lilen menyandar lagi di dada Jake.
"Kalau aku masakan bubur kesukaan kamu itu mau kah..?" Lilen langsung mengangkat wajahnya dan menatap Jake lagi.
"Pagi itu... Betul betul kamu yang masak..?"
"Iya aku yang masak.. Kamu suka kan.." Jake tersenyum manis.
"Kamu..?" Lilen menunjuk wajah Jake lagi.
"Iya.. Aku yang masak. Aku coba aja siapa tahu kamu suka.." Tambah Jake lagi.
Penjelasan itu sudah membuat Lilen yakin kalau Jakelah yang memasak bubur enak pagi itu, dan yang di katakan Cessa adalah benar.
"Mau kah..?" Jake mencolek hidung Lilen.
Satu colekkan itu sukses membuat Lilen tersadar. Pipinya merona, terasa sangat panas mungkin juga akan di rasakan Jake.
"Ayo kita ke dapur..." Jake bangkit membawa Lilen.
__ADS_1
"Tapi kamu kan lagi luka.." Lilen melirik bahu Jake yang terluka tadi.
"Ini gak apa apa kok.. Ayo.." Jake tetap membawa Lilen dengan menggandengnya.
"Jake.. Kayak apa kamu masak tangan kamu kan luka" Lilen tetap bercicit.
"Ssttt.. Diam"
Jake dan Lilen sampai di dapur. Hanya ada para pekerja di dapur yang sedang membersihkan peralatan di sana.
"Bantu aku ya.." Jake mengedipkan matanya.
"Ya.." Lilen bersemangat.
Jake dan Lilen bekerja sama memasak bubur ini. Sambil bercerita dan bercanda juga. Baru kali ini Lilen meruntuhkan dindingnya, rasa malunya, takutnya, ragunya. Semua itu hilang, dan rasa nyaman yang di nikmati Lilen.
Begitu pula Jake. Tak usah lagi sembunyi sembunyi. Menjaga Lilen adalah hal yang paling menyenangkan untuk Jake.
"Eeemm enaknya.. Hehehe.." Lilen tertawa malu dengan tingkahnya.
Jake menyipitkan matanya. "Ya kan aku yang masak.. Ya enaklah.." Jake bangga.
"Iya.. Aku suka.." Lilen mengakuinya.
"Ehemmm??" Bella dan Zino tiba tiba lewat.
"Mommy..?" Lilen terkejut.
"Cieeeee.." Zino ikut menimpali.
"Zi.."
Pukk..
__ADS_1
"Kamu ini.." Cessa juga datang langsung memukuki Zino yang malah meledek Jake dan Lilen.
"Hehehehe.." Zino langsung berlalu.
"Gitu donk.. Harmonis.." Bella tersenyum bahagia juga untuk Lilen dan Jake.
Lilen jadinya malu lagi. Tapi Jake cepat menyadarinya.
"Aku dan Lilen memang harmonis kok Mommy. Cuma jarang di kasih liat aja.." Jawab Jake.
"Uuuuu.. Memang mantap kalian berdua.. Mommy dukung.. Udah ayo Cessa biar mereka berduaan di sini.." Bella langsung menarik Cessa menjauh dari tempat itu.
Jake menggelengkan kepalanya. "Makanlah.." Ajaknya lagi.
"Eemm" Lilen mengangguk.
"Tapi setelah ini ada yang harus kamu lakukan..." Ucap Lilen sambil memakan buburnya.
"Aku..?" Jake menunjuk batang hidungnya sendiri.
"Ya.. Kamu siapa lagi.." Lilen meneruskan makannya. Jake berpikir tujuh keliling. Apa yang harus ia lakukan setelah ini.
"Lilen..?" Jake ingin bertanya lagi.
"Ssttt.. Aku lagi makan.. Ini enak banget.." Jake langsung diam mendengar jawaban Lilen itu.
"Apa yang harus aku lakukan setelah ini..?" hati Jake bertanya tanya.
Lilen sudah selesai makan, ia menenteng Jake dengan santainya. Sedangkan Jake lelah berpikir keras akhirnya pasrah dengan jantung yang berdetak kencang.
Arah yang mereka lewati ini adalah arah ke kamar Lilen. Sebenarnya apa yang ingin Lilen lakukan pada Jake.
Jake..
__ADS_1