Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 26


__ADS_3

Cessa menahan tangisnya yang akan lepas, ia menguatkan hatinya dan berbalik ke arah Zino yang sudah menghentikan ceritanya.


"Benarkah itu?" Cicit Cessa dengan senyum palsunya.


Zino meneliti senyum dan wajah Cessa apakah Cessa berusaha berbohong. Dan yang Zino temukan adalah kebohongan dari Cessa, ya.. mana ada ibu yang senang saat kandungannya pergi selama lamanya bahkan belum sempat melihat seperti apa wajah dari anak yang ia kandung.


"Iya.. Tapi kini dengan atau tanpa anakmu, kamu akan mendapat yang terbaik dariku. Karna itu sudah tugasku." Zino tersenyum dengan sangat manis, Cessa malah terkejut dengan senyum tiba tiba Zino itu. Cessa merasa kehangatan seolah mengalir mengikuti senyuman Zino. Senyum itu bukan sembarang senyum itu senyum yang paling tulus Zino untuk Cessa, Zino memang ingin memberikan yang terbaik untuk Cessa dengan atau tanpa bayinya.


Cessa memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan dilihatnya lagi kebun yang sangat besar, ada beberapa rumah kebun, dan jauh lagi dari pandangan Cessa ada banyak pepohonan yang berjejer rapi. Cessa ingin tau itu kebun apa lagi.


"Zi.. kalau yang di sana itu kebun apa lagi, apa boleh aku kesana sekarang?" Cicit Cessa minta.


"Aaahh maaf kali ini aku tidak memperbolehkan karna sekarang waktu jalan jalannya sudag habis, kamu harus beristirahat di kamarmu. Nanti kalau ada waktu aku akan membawamu ke sana lagi pula sekarang bukan saat panen nanti bila saatnya panen maka aku akan membawamu langsung ke sana dan kita akan memanennya bersama, bagaimana apa kamu mau?" Ucap Zino penuh bersemangat.


"Panen? Apanya yang di panen?" Cessa tak mengerti dengan apa yang di maksud dengan panen memanen itu.


"Hemm begini, di kebun yang kamu tunjuk tadi itu, itu adalah kebun buah buahan, nanti kalau sudah panennya maka kita akan ke sana untuk memanennya oke.. " Zino menjelaskan apa yang di panen.


Ting..


Pintu lift terbuka dan sampailah mereka berdua di depan kamar Cessa. Mereka berdua keluar dari dalam lift dan Cessa berjalan menuju ke arah kamarnya.


Semantara Zino ia menunggu Cessa masuk dalam kamarnya.


Cklek..


Cessa membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam kamarnya tanpa melihat ke arah laki laki yang sedang menatapnya tak henti.


Melihat Cessa sudah masuk ke dalam kamarnya Zino pun mengusap rambutnya dengan perlahan


"Kau akan menjadi ratuku. Dan aku jadi rajanya. camkan itu Cessa Allexsandra" Zino pergi dari depan kamar Cessa dan berjalan ke arah kamarnya sendiri, yang sebenarnya adalah kamar tamu. Dan kamar yang Cessa tempati adalah kamar Zino yang asli. Tapi Zino dengan senang hati memberikan kamarnya itu untuk Cessa tempati.

__ADS_1


Cessa masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar tersebut, sejenak Cessa menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Akhirnya aku bebas, tapi jujur aku masih ingin tahu seperti apa lagi ceritanya, aku tidak percaya kalau dia memiliki cerita hidup seperti itu. Aku kira dia masuk dalam dunia gelap itu karna masalah uang, tapi rupanya karna para saudara saudarinya. Apa masih ada lagi cerita seru dari dia ya???" Cessa menolog sendiri di balik pintu itu (readers pengen tau juga gk ini??) .


"Aaah untuk apa aku pikirkan tentang dia, haaahh.. rasanya gerah sekali, aku ingin mandi dululah" Cessa berlalu dan berjalan ke arah kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Cessa teringat bila dirinya tidak memiliki baju ganti, maka Cessa urungkan niat untuk mandi menyegarkan tubuhnya. Kini Cessa berada di tempat tidurnya sambil mengoyang goyangkan kakinya.


"Eehhh kenapa aku tidak mencoba membuka lemari itu" ucap Cessa saat menyadari keberadaan lemari besar yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.


Cessa bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah lemari itu. Cessa menarik membuka pintu lemari itu dan Cessa malah mendapati banyak baju untuk wanita, mulai dari baju, celana, rok, jaket, switer, kaos kaki, sarung tangan, dan jangan tanyakan tentang dalaman, entah atas atau bawah. Lengkap, semua ada.


"Waahh kayak sudah di tokonya nih. Lengkap" Cessa berguman sendiri sambil mengambil satu persatu baju dan lainya bergantian.


"Eehh"Cessa kaget saat mendapati ukuran yang ada di setiap baju,celana,rok,bahkan ********** juga.


"Ko..koc bisa ya?? Apa Zino punya kekasih yang ukurannya sama denganku? Koc bisa ini ukurannya??? What..? Semuanya benar benar ukuranku. Ya ampun bagaimana bisa?" Cessa malah terus menguman walaupun ia sendiri tapi tiba tiba ada tawa kecil yang Cessa dengar.


Cessa menoleh ke belakang yang ia mendapati Zino sedang tertawa kecil dan melipat tangannya didada, dan kakinya di silangkan dengan posisi duduk di sebuah sofa single tak jauh dari lemari.


"Inikan rumahku jadi aku bisa berada di mana saja aku inginkan." Cicit Zino tak kalah juga.


"Kenapa kamu bingung begitu? Ada yang aneh?" Zino bangkit dan berjalan ke arah Cessa yang masih berdiri di depan lemari.


"Maaf sebelumnya. Apa ini pakaian kekasihmu?" tanya Cessa mengutarakan apa yang ia pikirkan ketika melihat baju baju cantik di hadapannya dengan ukuran yang pas juga dengan tubuhnya.


"Apa?? Kekasih? Haahh.. aku bahkan belum menyatakan cintaku mana bisa aku memiliki kekasih." jawab Zino dan tetap melipat tangan di dadanya.


"La.. Lalu ini baju baju siapa kalau bukan untuk kekasihmu" Cessa menunjuk baju baju yang ada di depannya.


"Heeii ini baju untuk kamu. Memangnya kamu mau telanjang di sini Tanpa mengenakan sehelai benangpun. Kalau itu yang kamu mau juga tidak apa apa. Aku siap koc" Zino dengan senyum mesumnya dan otaknya jangan di tanya kemana travillingnya. Ya sudah pasti ke sana sinilah.

__ADS_1


"Haaahh ini untuk aku?? Kau bercanda" Cessa menutup kembali lemari yang telah ia buka dan berbalik menghadap Zino.


"Hei untuk apa aku bercanda, memangnya ini kontes stand up comedi gitu harus bercanda candaan dan lucu lucuan, cih tidak ada faedahnya. Mending sekarang kamu mandi biar kamu segar lihat tu di keningmu ada keringat." Zino menoel kening Cessa dengan pelan.


"Ta...tapi aku tidak memiliki baju ganti." cicit Cessa.


"Kan aku sudah bilang, baju itu untuk kamu, atau kamu memang ingin telanjang?" Zino kembali menggoda Cessa.


"Ti.. tidak mau, untuk apa aku telanjang, memang aku ini apaan? Tapi apa benar ini untukku?" masih bertanya.


"Iya sayang ini semua milikmu. Untuk kamu, karna hanya kamu yang wanita ada di dalam rumah ini. Kalau kamu masih pikir aku punya kekasih, maka kamu tidak perlu mandi saja sekalian biar saja baju baju itu menganggur di dalam lemari." Zino makin gemas dengan tingkah Cessa.


"Ya tapi kan.. Koc bisa semuan ukuranya pas di aku?"


"Aku pernah melihat tubuhmu dari atas sampai bawah, apa kamu lupa?" tangan Zino terus menunjuk nunjuk tubuh Cessa sambil berbicara.


(.....)


Hening sejenak...


Cessa menggaruk lengannya yang terasa agak gatal entah betul atau tidak.


"Baiklah aku akan mengenakannya kalau begitu. Kau boleh pergi, a.. Aku ingin mandi dulu." Cessa berbalik ke belakang dan kembali membuka lemari dan mengambil handuk yang ada di sana, saat Cessa berbalik lagi, Cessa sudah tidak menemukan Zino di dalam kamarnya, maka karna penasaran Cessa berjalan ke arah pintu dan mencoba memutar kunci pintu kamarnya dan ternyata pintu kamarnya masih terkunci, lalu bagaimana Zino bisa masuk dan keluar tadi?? Nanti otor cari tau ya gimana caranya si Zino masuk kamar Cessa meskipun terkunci rapat otor juga gk tau kayak apa Zino bisa masuk.


"Looooohh.. koc bisa ya.." Cessa terus berkeliling kamarnya mencari keberadaan Zino tapi nihil. Cessa tidak menemukan siapa siapa di dalam kamarnya.


"Aahhh sudahlah lebih baik aku mandi." Cessa berlalu dan masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan itu di tempat lain dua orang sedang bemain dengan pisau. Satu orangnya mengarahkan pisau dan yang satunya lagi sedang bersiap siap. Tangannya dengan siap siaga berada di depan seolah ingin manangkap dan mengambil pisau itu.


SHHUTTT..

__ADS_1


Pisau itu melesat dengan cepat ke arah orang kedua... Dan


off dulu kawan


__ADS_2