
Karen di kamarnya kini, entah kenapa pikiranya kosong, berapa kali pun ia berusaha memikirkan strategi untuk menyerang Stev besok.
"Aku kenapa..?" Hati Karen sangat sedih
Ia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ia merasa sangat sedih, ia selalu ingin memeluk Zino. Ia sangat rindu pada Cessa. Ia ingin memeluk Lorent yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Aku rindu kalian.." Padahal beberapa orang yang di rindukan Karen ada di dekatnya.
Alhasil Keren keluar dari kamarnya. Ia mulai mencari Lorent terlebih dahulu. Karen melihat Lorent sedang mengetik pesan di ponselnya.
"Lorent.." panggil Karen.
"Eh Karen.. Kamu belum tidur..?" Lorent dengan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Gak usah sembunyi sembunyi. Aku tahu kok kamu ngapain.." Karen melipat tangannya di dada.
"Kenapa hah..?" Lorent tahu kalau ada yang menggagu Karen kalau sampai ia tidak dapat tidur.
"Aku kangen kamu..!" Karen langsung memeluk Lorent tiba tiba.
"Aku doakan kamu menjadi Daddy yang baik.. Di sayang calon istrimu, dan segera launching yang berikutnya.." Lorent menepuk punggung Karen.
Karen tertawa mendapat balasan Lorent tentang ucapannya. Saat yang bersamaan Zino dan Jake lewat di hadapan Keduanya.
"Mereka sedang apa..?" Zino memiringkan kepalanya.
"Sayang sayangan kayaknya..!" Sambung Jake.
Mendengar ada yang berbicara keduanya melepas pelukkan mereka.
"Eh kalian berdua.." Lorent malu apalagi tadi sepertinya Zino dan Jake melihat semuanya.
"Wah... Ada kalian juga.." Karen mengahampiri Zino dan memeluknya juga.
"Eeemmm nyamannya di peluk kamu Zino..." Gumam Karen sambil memeluk Zino.
"Eh apa ini.. Kenapa peluk peluk...?" Zino gerah dengan pelukkan Karen.
"Aku mohon Zino aku mau peluk kamu dulu.. Jangan lepas..." Karen memejamkan matanya.
"Eh.. Mata empat ini kenapa bosmu..? Salah makan kah..?" Zino meledek. Tapi Karen tak memperdulikannya dan tetap memeluknya.
__ADS_1
"Entahlah, aku dddd/ gak tahu.." Lorent menganggat bahunya.
"Apa salahnya sih aku peluk kamu Zi..." Karen masih saja memeluk Zino dan bahkan makin erat pelukkanya.
Zino juga merasa aneh di peluk oleh Karen seperti ini. Ada rasa yang berbeda. Tapi Egonya menguasainya.
"Iihh Karen lepas..!" Zino mendorong Karen dengan pelan, melepas tangannya terlebih Dahulu.
"Jake...!!!" Karen beralih ke Jake. Sama seperti Zino dan Lorent Karen memeluk Jake dengan Erat.
"Oh ya ampun.. Lorent tolong aku bawa Karen ke kamarnya, kayaknya dia memang salah makan..." Zino menarik Karen agar lepas dari Jake.
"Apa Zi.. Mau aku peluk lagi kah...?" Karen memeluk Zino. Dengan susah payah pun Zino membawa Karen ke kamarnya.
"Uuhhh.." Zino meletakan Karen di tempat tidurnya. Karna tadi Karen di gendong di punggung Zino maka tak sulit untuk Zino membawanya.
"Kamu kenapa sih Karen..?" Zino menatap Karen dengan penuh penasaran.
"Aku.. Gak tahu Zi.. Tapi aku kepengen banget peluk kamu.. Dan pelukannya itu memang enak banget.." Karen memeluk dadanya sendiri. Zino menyipitkan satu matanya.
"Sudah ah.. Aku mau balik ke kamar aku.." Zino bangkit tapi Karen menahannya.
"Zino.. Aku mohon.. Malam ini tidur sama aku... Mau ya.." Karen memelas pada Zino matanya berkaca kaca seakan ingin menangis.
"Aku hanya ingin tidur sama kamu kok gak boleh.. Ayolah Zino.. Mau ya.. Aku mohon.. Abis ini aku gak minta yang aneh aneh lagi kok.. Aku janji.." Pinta Karen lagi.
"Oke malam ini aja.."
Tik tok tik tok tik tok...
Jam di dinding berdenting. Zino tidur dengan Karen di kamarnya. Karen tertidur dengan sangat pulas dan masih memeluk Zino. Sedangkan Zino matanya masih melek dan terbuka lebar pula.
"Oohh ya ampun..." Keluhnya.
Karen tak memberikan Zino celah untuk pergi. Tangannya memeluk tubuh Zino, kakinya mengekang kaki Zino. Bagaimana Zino bisa tidur dalam posisi seperti ini.
***
Pagi menyambut Cessa, mata Cessa yang terpejam sangat terganggu dengan cahaya yang masuk.
Cessa pun membuka matannya ia hanya menemukan dirinya sendiri di tempat tidur, Stev sudah tidak tahu kemana. Jendela juga sudah terbuka dengan lebarnya hingga cahaya bisa masuk dengan mudahnya.
__ADS_1
Cessa bangun dari baringnya dan bersandar di headboard. "Eh..?" Cessa menutupi dadanya yang terbuka.
Semalam, Stev melakukan apa yang Cessa takutnya untungnya hanya setengah perjalanan saja, tapi tetap saja itu di sebut menyentuh.
Stev melakukan apa yang ia inginkan dengan Cessa, awanya hanya ciuman biasa tapi setelah itu lebih dari sekedar ciuman, Stev mulai turun ke tempat tempag ekstrim Cessa, seperti leher, bahu, dan dada.
Saat ingin meneruskan ke bawahnya lagi tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Stev pun berhenti memainkan mainan baru yang ia dapatkan itu, kenyal tapi menyenangkan.
"Isss mengganggu aja.." Stev bangkit dari atas tubuh Cessa dan memperbaiki bajunya dn celananya agar tak terlihat terlalu nakal.
"Apa..?" Stev mengeluarkan kepalanya saja.
Entah apa yang di katakan oleh anak buahnya itu. Stev masuk lagi dan mencari bajunya yang lain. Ia menoleh sekejap pada Cessa.
"Kamu tunggu di sini.. Kalau mau tidur tidur aja duluan.." Stev pun keluar lagi dari kamar itu dan meninggalkan Cessa yang mengatur nafasnya.
"Oohhh aku selamat...." Cessa menutupi bawahannya yang sempat di buka oleh Stev menggunakan tangannya sendiri.
Cessa membaringkan tubuhnya, matanya sayu mengantuk, ia pun terlelap tidur seorang diri di kamar itu. Saat tengah malam entah jam berapa, Cessa marasa ada yang mengganggunya di bagian dada.
Sesuatu yang sangat aneh Cessa rasa dari dalam tidurnya, jadilah Cessa tenang tidurnya. Ia membuka matanya dan melihat Stev mengulangi kegiatannya yang tadi terhenti.
"Aku ganggu kah...? Kita tidur ya.." untungnya bukannya meneruskan lagi, Stev membawa Cessa untuk kembali tidur.
Maka mereka berdua pun tidur bersama, dan semua itu masih bisa di ingat oleh Cessa.
"Tubuhku..?!" Cessa turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Ia membersihkan tubuhnya yang sempat di sentuh Stev.
Saat itu juga Stev masuk ke dalam kamar dan melihat tidak ada Cessa di tempat tidurnya. Stev yang membawa piring makanan itupun langsung menaruhnya dan mencari Cessa, ia memeriksa jendela terlebih dahulu mengira Cessa akan melompat melalui jendela karna terbuka lebar. Tapi tidak ada tanda tandanya.
Cklek..
Cessa keluar dari kamar mandi. Stev dengan cepat berbalik dan menemukan Cessa yang basah kuyub karna ia mandi tak membuka bajunya.
"Cessa.." Stev langsung menuju Cessa dan memeluk Cessa walau ia tahu Cessa dalam ke adaan Basah.
"Aku pikir kamu pergi..." Ucapnya dan merapikan rambut Cessa yang menutupi wajahnya.
Stev memajukan wajahnya dan mengecup Cessa.
__ADS_1
Off dulu guys... Like donk...