Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 138


__ADS_3

"Oke ayo kita pulang gak ada lagi yang mau kamu cari..?" Tanya Jake. Ia sedikit melirik Lilen sambil mengenakan sabuk pengamannya.


"Gak ada.." Jawab Lilen yakin.


"Oke.. Ayo pulang.." Jake menyalakan mobilnya dan berbalik arah dari jalur yag tadi mereka lewati.


Banyak lagi toko toko yang mereka berdua lewati. Tiba tiba toko parfum tertangkap mata Lilen, ia pun sadar akan parfum yang di kenakan Jake ini. Ia ingin tahu apa nama parfumnya. Tapi jujur Lilen sangat malu menanyakannya, tapi di sisi lain ia sangat ingin.


"Jake..?" Lilen mencoba.


"Eemm?" Jake tetap fokus menyetir mobilnya.


"Eeemmm itu.. Mantel ini.." Lilen bingung harus mulai dari mana. Maka ia memilih mantel ini sebegai alasan.


"Kenapa mantelnya. Aneh kah..?" Jake melirik Lilen dari ekor matanya.


"Eeemm bukan.. Itu.. Wanginya bagus.. Boleh tahu parfumnya..?" Sangat aneh tapi mau tak mau. Dan sudah terlanjut juga. Lilen sampai menggigit bibirnya takut ia salah berucap.


Jake malah terkekeh. "Gak ada namanya.." Lilen melirik Jake.


"Gak ada namanya..?" Ulang Lilen.

__ADS_1


"Ya gak ada.. Aku juga gak tahu apa namanya.." Jake sedikit tersenyum.


"Gitu ya.." Lilen jadi malu.


"Ya.. Aku seorang snaiper.. Aku gak pakai yang namanya parfum.. Bahkan kadang kalau lagi bertugas, aku gak mandi. Tapi karna sekarang aku kerjanya di rumah aja, aku sering mandi kok.." Lilen tersemyum mendengar cerita Jake. Jake juga merasa lucu dengan ceritanya yang tak mandi itu.


"Dan mantel itu wangi kata kamu...?" Jake malah balik bertanya.


"Eemm. Iya.. Wangi.. Wanginya lembut tapi ya gitu lah.." Lilen malu mengakuinya.


Jake mengangguk paham.


"Jadi aku wangi ya.." pikir Jake dalam hatinya.


Lilen memberanikan diri juga menatap Jake. "Betul..?" Jake mengangguk menjawab pertanyaan Lilen.


"Oke.." Lilen tak bisa menolak tawaran Jake itu karna memang ia suka wanginya.


"Tapi nanti lama lama wanginya hilang..." Lilen tak sadar kalau ia mengatakannya langsung dan di dengar Jake.


Jake menahan senyumnya sekuat tenaga. Ia sebenarnya ingin tersenyum lebar mendengar ucapan Lilen barusan. Tapi sebisa mungkin Jake bertahan.

__ADS_1


Sedangkan Lilen berpikir keras bagaimana ia mempertahankan wangi itu di mantel ini sedangkan hampir setiap saat ia menciuminya.


"Betulan gak ada parfumnya Jake..?" Lilen bersikeras ingin tahu.


"Gak ada Lilen.. Itu.." Jake malu mengatakannya.


Sedangkan Lilen masih belum paham dari penjelasan Jake tadi, sebenarnya wangi yang ia suka ciumi itu adalah aroma asli tubuh Jake setelah mandi yang tadi langsung menempel di mantelnya. Seperti mantelnya yang saat ini, dalamnya Jake tak mengenakan baju atau pun kaos, sehingga aroma tubuh Jake menempel sempurna di mantel itu.


Lilen dengan gerakan kecilnya ia menciumi mantel yang ia kenakan, Jake tidaklah payah dalam mengamati, ia tahu Lilen sedang menciumi mantelnya yang Lilen bilang wangi itu. Jake juga malu mengakui kalau itu adalah aroma tubuhnya.


Kelihatannya Lilen sangat senang mendapat Mantel itu. Lebih teatnya karna wangi yang menempel di mantelnya. Sudah lewat dari waktu makan siang, Jake melirik Lilen.


"Kamu gak mau makan siang gitu..?" Siapa tahu ada yang Lilen inginkan, dan mumpung keduanya masih di jalan, banyak restoran yang bisa mereka singgahi.


"Eemm kayaknya gak.. Aku gak tahu mau makan apa.." Sahut Lilen. Lilen juga meneliti pinggiran jalan siapa tahu ada yang menarik perhatiannya. Tapi sejak tadi tidak ada.


"Aku mungkin mau biskuit aku aja nanti di Rumah.." Tambah Lilen Lagi.


"Oke.." Jake melirik sedikit Lilen dan fokus lagi pada jalan.


Aaauu cinta dalam diam. Bolehlah...

__ADS_1


off dulu ya..


__ADS_2