
Melihat semua menu yang di sediakan hampir habis seseorang mengulas senyum puas.
FLASHBACK ON
Setelah meninggalkan Cessa dengan tidurnya. Zino masih bingung apa yang pas untuk sarapan Cessa dan sebenarnya Zino tak rela saat Cessa memeluk dirinya meminta kehangatan dari tubuhnya Zino malah meninggalkan Cessa sendiri di ruangan. Tiba tiba Zino memdapat ide yang sangat brilian.
Kini Zino berada di dapur rumah sakit, beberapa kali ia keluar masuk dapur itu hanya untuk meminta izin dari kepala koki dan malangnya kepala koki itu menyuruh Zino untuk meminta izin pemilik dari rumah sakit itu. Setelah mendapat izin dari keduanya akhirnya kini Zino berada di dapur.
Dan kini ia tengah bergulat dengan alat alat masak yang ada di dapur walaupun kurang lengkap tapi Zino juga tidak kurang lengkap ide. Zino meminta para anak buahnya untuk mencari bahan bahan dan peralatan yang ia perlukan karna yang Zino perlukan dan inginkan semuanya berkualitas premium.
Setelah mendapat semua yang ia perlukan Zino memasak dengan waktu yang singkat. saat Kini hanya tinggal 1 jam sebelum sarapan pagi di rumah sakit ini. Semuanya harus jadi sebelum jam sarapan pagi.
Zino hanya bisa memerawang dan kira kira apa yang Cessa sukai. Dengan bakat terpendam yang Zino miliki ia mencoba memasakan Cessa sup. Sederhana tapi tetap elegan dan tak lupa nutrisinya. Sayur sayuran yang Zino gunakan adalah sayur sayur yang sangat segar dan tanpa menggunakan pestisida. Karna Zino hanya ingin yang tebaik untuk sang pujaan hati. Tak lupa juga ayamnya yang masih segar bahkan saat Zino memotongnya darah ayam itu masih sangat segar. Jangan lupa dengan hiasan berbentuk bunga yang terbuat dari tomat yang cantik seperti hatinya saat ini yang sudah di hiasi banyak bunga bunga karna bisa memasakan sarapan untuk Cessa, mungkin dulu hanya bisa memimpikan tapi kini ia sedang melakukannya bahkan di pagi pagi buta bukan lagi malam malam buta.
Haahh emang ada namanya malam buta??
Setelah memasak makanan utama kini tinggal buah buahan dan juga dessert manisnya. Zino pun menggunakan kemampuannya lagi untuk membentuk buah buahan dengan bentuk yang lucu dan imut pula tak lupa ia juga membuat cake rasa sesuai dengan rasa susu yang Cessa suka Coklat.
Sudah sangat lama Zino tak memasak tapi bakatnya itu tidak pernah hilang dan punah. Meski jarang membuat cake tapi Zino cukup handal mengadon adonan dan menakar takaran yang pas untuk rasa manis, Zino membuat cakenya tidak manis sedangkan coklat leleh di dalam cake akan menutupinya kekurangan manis tadi.
Sempurnalah apa yang Zino siapkan tepat waktu. Ketika sampai waktu untuk sarapan, seharusnya Zino merasa tenang karna semuanya sudah siap tapi kini Zino merasa sangat gugup bak seorang chef muda yang sedang mengikuti lomba memasak tinggal menanti keputusan juri.
Makanan pun diantarkan, Zino menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan menghilangkan kegugupan. Zino mengintip dari balik pintu kamar di lihatnya Cessa sedang membuka satu parsatu makanan di depannya. Zino hanya bisa menelan salivanya takut bila Cessa tidak menyukai apa saja yang sudah di sajikan di depannya.
Zino memilih duduk di sofa dan memperhatika apakah ada gelagat tidak suka dengan makanannya. Bila tidak suka maka Zino harus kembali berlari ke dapur dan kembali memasak.
__ADS_1
Saat Cessa memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya. Cessa tampak sedang mencari rasa dengan memincingkan matanya lalu mengakat alisnya seperti keheranan dengan rasanya.
Hendak bangkit. Hendak berlari tapi Zino tahan dulu. Belum saatnya mungkin. Keringat Zino bercucuran tak seperti biasanya keringat Zino bercucuran dengan bulir yang besar sebesar biji jangung.
Walaupun dengan wajah yang aneh saat mencoba makanan di depannya tapi Cessa menghabiskan satu mangkok sup itu entah karna enak atau memang lapar. Ketika melirik buah buahan di depannya senyum kecil timbul di bibir Cessa. Cessa mengambil satu parsatu buah yang terpotong lucu itu dan memasukannya ke dalam mulut, Zino juga mengulas senyum lega, Cessa menyukainya. Betapa lega Zino melihat senyum Cessa saat menatap buah buahan yang ia potong lucu dan imut itu.
Setelah selesai dengan buah buahan, kini Cessa penasaran dengan dessert di depannya yang masih tertutup itu. Melihat Cessa mulai tertarik dengan dessert yang ada di depannya membuat Zino kembali panik, bagaiman kalau Cessa tidak menyukai cake tapi menyukai kue kue lainnya? Apakah benar pilihan Zino dengan membuat cake? Haaaahhhh kembali di buat gelisah lagi.
Cessa yang membuka penutup saji itu pun sumringah saat menemuka ada cake cantik di dalamnya. Tapi ada pisau kecil terbuat dari perak, Cessa pikir berarti cake ini harus di potong. Maka dengan pelan Cessa membelah cake tesebut dan mendapati ada lelehan coklat yang sangat menggoda di dalam cakenya.
"Waahhhh" pekik Cessa saat melihat ada cake cantik di balik penutup saji kini tengah melelehakan coklat yang nampak menggoda.
Cessa pun menyendokkan cake itu kedalam mulutnya dan nyammmm. Sangat nikmat. Semua masalah Cessa seakan hilang hanya ada rasa manis yang menyelimutinya.
FLASHBACK OFF
Ekor mata Cessa yang menangkap ada pergerakan dari sampingnya pun menoleh dan alangkah terkejutnya Cessa serasa ingin copot jantungnya saat mendapati laki laki yang nampak sangat dingin sedingin Antartika saat memintanya menemaninya untuk semalam itu tengah menari dan bergoyang tak jelas. Dan tanpa sadar Cessa menganga dengan lebarnya.
Zino yang akhirnya sadar ia sedang di tatap Cessa menghentikan goyangnya yang sedang asyik itu.
Hening seketika... Malu gak? Malu gak? Malu gak? Malulah masa enggak.
"Ehemm" Zino derdehem menenangkan dirinya sendiri. Cessa yang sadar juga langsung berpaling ke arah lain.
Tak lama kemudian pintu kembali di ketuk, perawat rumah sakit datang untuk mengambil alat makan dan datang bersama dokter untuk memeriksakan kondisi Cessa.
__ADS_1
"Kondisi Nyonya Cessa sudah membaik, tekanan darahnya juga normal, sudah tidak ada rasa nyeri di bagian perut. Jadi Nyonya Cessa bisa pulang hari ini juga dan ini tuan Zino resep obatnya untuk pemulihan lebih baik lagi." Jelas sang Dokter yang menangani Cessa.
"Terimakasih Dok. " Ucap Zino. Sang Dokter dan para perawatnya keluar dari ruangan Cessa, meninggalkan Zino dan Cessa di dalamnya.
"Kenapa mereka memanggilku Nyonya, aku kan masih single." Protes Cessa dengan ucapan dari dokter yang memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
Zino yang mendengar protes Cessa hanya senyum senyum sendiri.
"Kamu masih tidak paham ya kenapa mereka memanggilmu dengan sebutan Nyonya?" tanya Zino sambil berjalan ke arah Cessa
"Aahhhh"
"Kamu ini.. belum apa apa sudah mendesah. Aku belum ngapa ngapain juga." Zino tersenyum senyum dengan penuh arti.
Cessa yang mengerti apa yang tengah Zino pikirkan hanya bisa meremas selimutnya.
Takut Cessa mulai takut.
Zino sangat pengertian, ia paham dia baru saja membuat Cessa kembali takut padanya.
Zino tetap maju dan saat sudah di depan Cessa Zino mengambil tangan Cessa dan meletakannya di dadanya.
"Aku tak akan menyakitimu. Kumohon izinkan aku memulainya dari awal beri aku kesempatan sekali lagi, izinkan aku menjagamu. Aku tidak akan melakukan apa yang baru saja kau pikirkan, aku akan mendapatkan hatimu dengan cara yang benar, tidak dengan paksaan. Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi "
Cessa
__ADS_1
off dulu kawan. Besok lanjut lagi ya.. tenang aja mulai sekarangkan otor janji up terus tiap hari meski gk janji bisa 2 bab langsung tapi paling tidak 1 tiap hari akan selalu up. Janji readers ku sayang. janagn lupa komen, like, favoritkan, dan juga vote otor ya...
Salam dari Zino dan Cessa... Love love...