
Cessa menyipitkan matanya. "Karen ini semua anak buahmu?" Cessa menunjuk pria pria di depannya.
"Iya mereka aku bawa dari Spanyol dan mereka akan mengawal kita sampai tujuan, karna bisa saja sesuatu terjadi di jalan." Karen terus memegangi tangan Cessa dan keduanya turun bersamaan di tanga pesawat itu.
***
Zino dan Lilen masih di caffe tempat mereka makan siang bersama. Tidak ada reaksi Lilen terbius ataupun merasa pusing pun tak ada.
"Apa obatnya kurang banyak atau wanita ini memang sudah meminum penawarnya?" Zino menduga duga karna rencananya tidak begitu terlihat berjalan dengan lancar. Apakah rencananya ini akan gagal.
"Lilen.. Aku sangat ingin makan es krim lagi. Apa kamu mau menemani aku?" Tawar Zino dan tentu saja ada maksud tertentunya.
"Oohh aku kira tuan tidak suka Es krim, sejak tadi aku juga menginginkan hal yang sama tuan." Ucap Lilen.
"Tuh kan kamu panggil aku tuan lagi... Zino ingat Zino.." Tegur Zino pada Lilen yang terus memanggilnya dengan sebutan Tuan padahal tadi Zini sudah katakan kalau Lilen harus memanggil namanya saja.
"Ups.. Maaf.. Baiklah Zino ayo kita pesan Es krimnya." Lilen pun memanggil lagi pelayan caffe tersebut dan memesan Es krim yang ia inginkan.
"Zino kamu mau es krim rasa apa ini beragam rasa es krimnya!?" Tanya Lilen terus membolak balik menu dessert caffe tersebut.
"Kamu pesan rasa apa?" Zino ingin menyamakan saja es krimnya karna Zino sebenarnya tidak terlalu suka Es krim dan tak tahu apa saja es krim yang enak.
"Eeemm aku es krim coklat dan juga vanila di tengahnya." Lilen menoleh pada Zino dan Zino saat itu tengah memperhatikan Lilen juga.
Zino memangkat alisnya di hadapan Lilen dan Lilen sangat tersipu dan malu.
"Samakan saja pesanannya, sepertinya pesananmu enak juga." Ucap Zino dan Lilen menyetujuinya pelayan pun segera membuat pesanan mereka.
"Heeemm.. Sejak tadi pagi aku mau hubungi kak Karen tapi nomernya tidak aktif terus." Lilen mengambil ponselnya dan mengutak ngatiknya.
__ADS_1
"Kenapa?" Zino penasaran.
"Hari ini hasil DNA anak yang wanita Kak Karen punya keluar aku juga mau tahu hasilnya." Zino menyerngitkan alisnya.
"Maksudnya apa?" Kali inu Zino benar bemar penasaran.
"Begini.. Kak Karen punya wanita penghibur, kamu juga pasti punyakan..? Nah wanita wanitanya ini mengaku lagi hamil anaknya kak Karen, kalau gak salah ada dua wanita yang ngakunya gitu, nah salah satu dari mereka berdua itu udah lahiran beberapa minggu yang lalu, dan kak Karen tentunya harus Tes DNAnya dulu baru boleh percaya kalau itu anak kak Karen. Dan itu hari ini hasilnya keluar. Aku gak mau hubungi Mommy karna kau gak terlalu dekat sama dia, sedangkan Daddy pasti masih perawatan jam segini." Tutur cerita Lilen tentang sang kakak.
"Kalau anak itu benar benar anak Karen, maka bertambah targetku." Zino mulai melancarkan strateginya.
"Lalu.. Wanita yang satunya lagi sudah melahirkan jugakah?"
"Belum Zino.. mungkin 2 bulan kedepan barulah wanita itu melahirkan. Yang aku dengar anak yang sudah lahir ini laki laki. Dan sangat imut, jika dia benar benar anak kak Karen maka aku akan sangat senang, aku sangat suka bayi.." Ucap Lilen lagi antusias masalah Bayi.
"Kenapa kamu gak nikah aja biar bisa dapat bayi juga?" Goda Zino.
"Hah?" Lilen tak percaya yang ia dengar barusan.
Pelayan penghantar es krim itu mengedipkan matanya dan Zino mengangguk samar pada pelayan itu, karna sang pelayan adalah anak buah Zino sendiri.
"Silahkan di nikmati nona, tuan.." Pelayan itu memundurkan dirinya dan kembali ke tempatnya dan terus mengamati intruksi dari tuannya. Tadi ia di minta menambah takaran biusnya karna sang target tidak bereaksi. Zino menggunakan isyarat tangannya untuk berkomunikasi dengan para anak buahnya di dalam caffe tersebut karna sedari tadi caffe ini di penuhi oleh anak buah Zino saja, mereka bukanlah orang orang biasa melainkan anggota Zino yang menjalankan peran sebagai pembeli, pelayan, koki dan sebagainya agar terlihat nyata. Padahal mereka satu server.
"Eemm es krimnya enak.." Lilen mencicipi Es krim yang tiba di depannya tanpa Ragu. Zino pun tersenyum mendengarnya, Lilen melihat Zino tak menyentuh es krimnya.
"Kenapa gak di coba es krimnya Zino.." Lilen menghenitkan geraknya dan fokus bertanya pada Zino.
"Aahh iya aku akan memakan es krimnya." Zino mencoba meyuapkan satu suapan kecil ke dalam mulutnya.
Dengan ekspresi yang datar Zino merasai seluruh es krim yang meleleh do dalam mulutnya dan dingin menyebar.
__ADS_1
"Eeemm.. Enak juga.." Gumam Zino pelan hampir tak terdengar.
"Kenapa?" Lilen tak jelas mendengar apa yang Zino ucapkan sangkin pelannya.
"Es krimnya enak.. Aku baru pertama ini merasakan es krim yang enak seperti ini." Zino memasang wajah yang sangat imut dan kembali memakan es krimnya lagi dengan lebih lahap dari sebelumnya Lilen menatap lucu laki laki di depannya.
Zino memakan es krim dan tak sadar ada es krim yang menempel di sudut bibirnya. Lilen melihat es krim yang menempel itu dan sedikit merasa iri dengan es krim itu yang dapat menikmati sensai bibir tebal Zino.
Zino sadar dengan tatapan Lilen yang tak lepas darinya pun mendongak.
"Kenapa?" Tanyanya dengan polos dan juga bibirnya yang ber'es krim manis di bibirnya.
Lilen tertawa lucu, "Itu Zino... Ada es krim di sudut bibirmu.. Kamu kelihatan lucu" Ucap Lilen sambil terus tertawa.
"Iyakah?" Zino mengelap bibirmya sembarangan.
"Itu masih ada Zino.." Lilen gemas melihat Es krim itu semakin kemana mana hingga ke pipi Zino.
"Sudah..?" Zino memperlihatkan wajahnya yang kini ber'es krim.
"Masih... Boleh aku yang bersihkan?" Tanya Sopan Lilen meminta izin Zino. Zino mengangguk dan menyodorkan wajahnya semakin dekat dengan Lilen.
Jantung Lilen berdetak dengan cepat, darahnya berdesir hebat tangannya mulai menyentuh pipi Zino dan mengelapnya dengan tisu yang ada di depanya.
Dari Pipi Lilen turun ke bibir Zino dan mengelapnya hingga bersih dan memperlihatkan lagi bibir seksi Zino. "Su.. Sudah.." Lilen semakin gugup dan menarik tangannya dengan cepat dan pura pura sibuk mencari tempat membuang tisunya karna tak menemukan tempatnya maka Lilen memasukan tisu itu ke dalam tasnya.
Zino melihat jelas salah tingkah dari Lilen, di dalam hatinya ia tertawa kecil. Dan kini Zino rasa saatnya obat bius itu beraksi.
Dan benar saja sejak rasa aneh saat Lilen mengelap bibir Zino, Lilen semakin tidak dapat mengendalikan dirinya untuk berpikiran liar. Kini Lilen malah memikirkan bagaimana rasanya bila bibir itu mengecup bibirnya. Dan masih banyak lagi pikiran nakal Lilen.
__ADS_1
Hoo'oo.. Part Zino dan Lilen.. Selamat menikmati ya.. Jngan lupa koment dan like dan pencet lambang lovenya ya..