
Sementara itu, Zino dan yang lainnya akhirnya dapat melacak keberadaan orang yang mereka cari itu.
"Kamu pintar juga ya.. Tapi aku senang liat kamu masih hidup rupanya.." Ucap Zino.
"Aku gak akan mati semudah itu Zino Louis Smith.." Laki laki dengan masker penutup mulut dan hidungnya berdiri tegak di depan Zino.
"Aku dengar kakak laki lakimu.. Ohh bukan.. Musuh laki laki kamu mati tertembak untuk selamatkan kamu.. Ck ck ck kasian.. Aku kira Seorang Zino Louis Smith bisa melakukan semua hal tanpa adanya kesalahan." ledeknya.
"Itu bukan urusan kamu.. Kami ke sini untuk habisi kamu.." Zino yang sekarang bukanlah Zino yang penuh kasih sayang seperti biasanya.
Zino ini tidak memiliki hati yang luas dan cinta di mana mana. Sadis dan berbahaya yang lebih terlihat.
"Maaf.. Bukannya aku sombong tapi.. Aku mau pamer sesuatu dulu.." Laki laki itu menyalakan videonya.
"Kamu..!" Zino tak percaya Laki laki itu bergerak cukup cepat.
Tangisan Karsa di salah satu mobil membuat Zino Terdiam.
"Karsa.." Lirihnya.
"Cih. Jadi kamu itu pecundang yang bisanya lawan lewat seorang bayi..? Apa kamu juga seorang bayi..?" Untuk menutupi rasa khawatirnya pada Karsa Zino meledek laki laki tersebut.
"Bukaaann.. Aku itu suka bayi bayi kecil seperti itu.. Imut bukan.. Apalagi kalau tangan dan kakinya terpisah.
__ADS_1
Hati Zino berdenyut mendengar ucapan Marino.
Mati satu tumbuh seribu. Itulah yang menjadi masalah Zino terus menerus. Stev sudah tak ada malah muncul lagi Marino. Marino adalah adik tiri Stev. Mendengar sang kakak telah tak ada di buat Zino membuat Marino juga ingin berkuasa. Saat masih ada Stev, Marino tak bisa berkutik. Tapi kini Stev sudah tak ada maka ia bisa melakukan apa yang ia inginkan.
***
"Karsa sayang ini.." Cessa datang membawa sekeranjang pakaian Karsa.
Betapa terkejutnya Cessa mendapati pengasuh Karsa sudah tak bernyawa di lantai. Karsa juga tak ada di tempatnya.
"Karsa..? Karsa..?" Cessa seketika panik mencari Karsa yang sudah di bawa pergi.
"Bi.. Bibi.." Cessa mengguncang bibi yang sudah tak bernyawa itu.
"Tolong.. Mommy..!" Cessa cepat cepat mencari Bella dan yang lainnya.
"Lepas..!" Bella memberontak.
Orang orang itu menarik Bella.
"Mommy..!" Cessa melihat sepertinya Bella akan di bawa orang orang berpakaian serba hitam itu bahkan mengenakan penutup wajah juga.
Cessa melihat pisau dengan sarungnya untuk mengupas buah yang berada di meja tak jauh darinya. Ia mengambilnya dan membawa bersamanya. Tak ia perlihatkan langsung, tapi di simpannya di pinggangnya.
__ADS_1
"Lepaskan Mommy ku.." orang orang itu tetap menarik Bella bahkan menyeretnya kini.
"Mommy.." Cessa mengeluarkan pisaunya dengan sekali tarikkan dan menikam orang orang jahat itu.
Meski serangangan sembarag saja, salah satu di antara mereka tergores, dan satu lagi tepat mengenai dadanya.
Orang yang memegangi tangan Bella pun merintih kesakitan, sepertinya goresan di tangannya besar, begitu pula kawannya.
Bella segera bangkit dan memeluk Cessa. Kedua orang itu langsung lari dengan darah yang bercucuran.
"Mommy.." Cessa langsung memeluk Bella.
"Sayang.. Cessa.." Bella juga menangis terharu dengan yang Cessa lakukan untuk menyelamatkannya.
"Mommy.. Tolong aku.. Karsa.. Karsa gak ada Mommy.." Cessa kembali histeris mengingat Karsa tak ada bersamanya.
"Ya sayang.. Tadi mommy liat orang orang bawa dia, mommy mau kejar malah mommy yang di seret.." Keadaan Bella sangatlah kacau, luka di lengannya akibat di paksa oleh kedua orang itu tadi.
"Sekarang gimna mommy..?" Cessa tidak tahu harus berbuat apa.
"Mommy.." Lilen juga datang dengan sedikit berlari ke arah Bella dan Cessa.
"Sayang.." Bella memeluk Lilen.
__ADS_1
"Kita.. Kita masuk dulu.. Lindungi kita yang masih ada di rumah ini yang penting.." Cessa membawa Bella dan Lilen untuk kembali ke dalam rumah.
***