Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 155


__ADS_3

Bella berlari menuju Zino dan Cessa.


"Anak anakku." Tangisnya.


"Mommy..?" Cessa melihat Bella begitu sedihnya.


"Mommy.." Zino yang pertama di peluk Bella.


"Zino.. Anakku.." Bella mengelus pipi Zino.


"Ya Mommy ini Zino.." Zino merangkuk Bella dalam rangkulannya.


"Mommy khawatir sama kalian.. Mommy.. Eehh darah..?" Bella melihat ada darah di tangan Zino.


"Zino kamu luka..?" Bella meneliti tubuh Zino.


"Ya ampun.. Zino ini luka besar sekali.. Tolong mana dokter.. Zino sayangku..." Bella sangat panik dengan keadaan Zino.


"Mommy Zino gak apa apa kok.." Elak Zino.


"Jangan gitu Zi.. Itu luka harus cepat di obati.." Cessa juga ikut mengkhawatirkan Zino.


"Ya ampun cucu ku" Bella menggendong Karsa.


"Dia baik baik aja kan..?" Bella masih panik.


"Karsa baik baik aja Mommy, tapi dia kayaknya lapar.." Cessa membantu Zino berdiri dengan baik karna sepertinya Zino masih kesakitan.


"Cessa.." Zino memeluk Cessa.


"Ya.. Aku di sini.." Baru kali ini Cessa meladeni pelukkan Cessa dan bahkan tanpa ragu Cessa Mencium Zino lagi.


"Lorent.." Rindu juga berusaha secepat mungkin menemui Lorent.


"Rindu.." Lorent berlari menghampiri Rindu, Lorent yakin Rindu sangat khawatir padanya.

__ADS_1


"Sayang.." Rindu memeluk erat Lorent.


"Sayang sudah makan..?" Lorent malah lebih mementingkan keadaan Rindu.


"Kamu ini.. Aku khawatir sama kamu kamu malah pentingin makanan aku.." Cicit Rindu dan memukul dada Lorent.


"Maaf sayang tapi gak ada yang lebih buat aku khawatir selain kamu.." Lorent mengecup pelipis Rindu.


"Lorent.." Rindu makin menguatkan pelukkannya.


"Sayang.. Kasian si kembar.." Lorent berusaha mengendurkan pelukkan Rindu.


"Aku kangen.." Rindu tak peduli dengan ocehan Lorent.


Yang lain sedang menghilangkan rasa khawatir dengan memeluk pasangan masing masing. Dan itu membuat Lilen sedih, Jake tidak terlihat batang hidungnya.


"Jake mana ya..?" Lilen mencubit cubit jari telunjuknya.


"Lilen cari Jake..?" Cessa mendekati Lilen.


"Tadi Jake.." Cessa ragu mengatakannya pada Lilen. Karna tadi Jake melarang mereka membuat Lilen khawatir padanya.


"Mana Jake..?!" Lilen sudah tak sabar.


"Jake di bawa kerumah sakit terdekat tadi.." Zino langsung mengatakan yang sebenarnya pada Lilen.


"Zino..!" Cessa kesal pada Zino yang tak bisa mengatakan perlahan pada Lilen.


"Toh memang itu yang terjadi sama Jake.. Dia terluka parah dan di bawa ke rumah sakit.." Mata Lilen membulat medengar penuturan Zino.


"Parah...?" Kekhawatiran Lilen semakin jadi.


"Aa.. Antarkan aku ke Jake.." Lilen tak kuasa menahan tangisnya.


"Ck.. Zino..!" Cessa menatap tajam Zino.

__ADS_1


"Oohh oke.. Gampang aja.. Nanti di anak buah aku antar kamu.." Zino meyakinkan Lilen.


"Jake.." Lilen memegangi dadanya.


"Lilen.. Jake cuma luka tadi. Di dadanya dan sepertinya bahunya juga luka lagi akibat beberapa hari yang lalu.. Tapi untuk kesadaran dia masih sadar dan baik baik aja, tadi dia titip salam buat kamu.." Cessa memeluk Lilen.


"Jake.." Lilen menagis dalam pelukkan Cessa.


"Siapkan Mobil untuk Lilen..!" titah Zino pada anak buahnya yang lainnya.


.


.


.


.


"Sebentar ya tuan.." Seorang perawat mengobati luka di dada Jake.


"Jake..!!" Teriak seorang wanita mengagetkan semua yang ada di ruangan itu.


"Lilen..?" Jake tak menyangka Lilen akan datang secepat ini.


"Jake.." Lilen sedikit berlari dan memeluk Jake. Masuk ke sela lehar dan dada Jake.


"Lilen..? Jangan lari lari.. Kamu di sini hah..?" Jake mengusap kepala Lilen dengan satu tangannya yang lain.


"Jake.. Hikss hikss.." Lilen menangis histeris membuat hati Jake menghangat.


"Lilen.. Aku baik baik aja cuma luka gini aja.. Gak usah khawatir.." Cup Jake mengecup kening Lilen berkali kali.


"Gak usah Khawatir..?" Lilen melepaskan pelukkannya dan menatap tajam Jake.


"Iya, aku kan gak apa apa.. Sudah ya jangan nangis.." Jake manarik Lilen lagi agar memeluknya.

__ADS_1


Lilen..


__ADS_2