
"Aku tidak ingin anak buahku melihat apa yang tidak patut mereka lihat. Mereka masih bocah.."
Cessa tertegun dengan apa yang Karen lakukan padanya. "Apa benar yang di depanku ini seorang mafia. Kenapa mafia mafia ini aneh aneh semua ya... Zino aneh, orang ini juga aneh..." Cessa berbicara pada dirinya sendiri di dalam hatinya.
Karen berjalan mendahului Cessa, sedangkan Cessa sibuk dengam pikirannya sendiri juga. Saat menuruni tangga Cessa melihat banyak sekali orang orang berbaju serba hitam bak seorang pelayat. Tapi saat Cessa melihat satu persatu orang orang itu Cessa menemukan satu kesamaan. Semua orang orang itu bermata elang.
Mungkin karna itu kelompok Karen di sebut kelompok mata elang. Cessa melihat lagi ada meja makan di tengah orang orang itu. "Apa kita akan makan di depan itu?" Hati Cessa terus berbicara sendiri.
"Jadi karna itu tadi dia mengenkan aku jasnya ini, takut anak buahnya melihat apa yang tak patut di lihat. Tapi bagaimana tidak lihat sedangkan mereka mengamati tempat makan itu. Dimana otak orang ini sebenarnya?" Berbagai umpatan Cessa keluarkan dalam hatinya.
"Tuan kenapa kita makan di depan mereka tuan?" Cessa memberanikan diri membuka suaranya yang terdengar imut menurut Karen.
Karen tersenyum pada Cessa lagi. "Iya.. Kita makan di depan mereka aku ingin penjagaan ketat untukmu mau saat makankah atu saat apapun. Kalau makan di dalam kamar, takutnya bukan kenyang makanan tapi kenyang yang lain." Seringai nakal Karen muncul lagi.
Karna tidak ingin Karen meneruskan ucapan ucapan bodohnya Cessa memilih mendudukkan dirinya di kursi itu.
Karen menepuk tangannya beberapa kali memberikan isyarat pada anak buahnya. Datanglah anak buah Karen membawakan makanan untuk Karen dan juga Cessa.
"Periksa.." Titah Kareb pada kedua orang yang ada di depan mereka saat ini.
Kedua orang itu laki laki dan perempuan. Bisa dibillang kelinci percobaan.
Keduanya menyuapkan makanan yang ada di depan Cessa dan Karen itu. Mengunyahnya dan menelanya. Karen menunggu beberapa menit mungkun sekitar 5 menit. Kedua orang itu baik baik saja, melihat keduanya baik baik saja Karen menyuruh mereka mundur menjauh dari menja makannya.
"Makanlah.." Perintah Karen pada Cessa. Karen pun memasukan beberapa makanan ke piringnya dan mulai memakannya.
__ADS_1
Sedangkan Cessa masih mematung di depan Karen yang sudah lahap makan. "Ada apa? Ini makanan semuanya aman, kamu lihat sendiri tadi kedua orang itu baik baik saja. Berarti tidak ada racunnya. Atau kamu mau aku suapi?" Karen mengarahkan sendok bekasnya ke depan Cessa dengan beberapa lauk di dalamnya.
Dengan cepat Cessa mengeleng. Dengan perlahan pun Cessa mengambil makanan di depanya. Mulai dengan suapan pertama, Cessa mencari rasa yang tidak beres, tidak ada. Cessa pun melanjutkan makannya meski sedikit tak berselera. Banyak orang orang yang sedang menatapnya membuat Cessa sendiri salah tingkah saat makan.
Diam Diam Karen memperhatikan Cessa yang tengah makan dengan terpaksa. Ada sedikit ke senangan di mata Karen melihat seorang wanita seperti Cessa di depanya. Apalagi jika mengingat ini adalah wanita Zino musuhnya, wah bertambah senang Karen.
"Aku yakin Zino pasti sedang kalang kabut mencarimu. Atau bahkan dia tidak dapat berpikir dengan jernih saat ini. Dengan begitu aku mudah mencari celah lagi untuk menghancurkanmu Zino. Dan lihat saja nanti wanita ini akan jatuh ke pelukanku." Karen terus mengunyah makanannya membayangkan makanan itu adalah Zino yang akan dia habisi sehabis habisnya.
***
"Tuan Zino tenang dulu. Kami semua juga tidak dapat perpikir, dengan jernih jika tuan seperti ini." ucap Ronal pada Zino.
Benar yang di pikirkan Karen, Zino tidak tenang sekarang. Tidak dapat memikirkan Strategi yang tepat untuk menyerang Karen dan menyelamatkan Cessa lagi.
Setelah Zino tenang kembali, lagi lagi ucapan dan ancaman Karen terngiang ngiang di otaknya.
"Kali ini dia tidak akan keguguran lagi..."
"Ranjang akan menjadi saksi bisunya.."
"Apa kau suka?"
Beberapa ucapan ucapn itu terus mengganggu Zino sejak tadi. Karna ketidak fokusnya Zino memilih untuk beristirahat lagi untuk yang ketiga kalinya dalam Satu jam ini.
"Bacakan lagi data dari Karen Stone...!" Titah Zino pada anak buah pencari datanya yang sangat dia andalkan.
__ADS_1
"Baiklah tuan... Karen Stone, Anak dari Betras Stone. Anak satu satunya yang diakui oleh sang ibu ya itu Bella Stone. Umur 29 tahun, Hobby tidak ada. Pada dua tahun yang lalu Karen Stone menjadi penerus perusahaan sang ibu yaitu tekstil, memjadi penerus dari kelompok mata elang, menjalankan beberapa bisnis gelap lainnya. Catatan medis mengatakan Karen Stone pernah operasi tulang belakang untuk sang adik yaitu Lilen Robiana. Lilen Robiana adalah adik Karen Stone yang satu ayah tapi berbeda ibu. Lilen Robiana tidak di akui Bella Stone sebagai anaknya walaupun Betras Stone memintanya. Tapi tetap saja Bella Stone tidak dapat menerima Lilen, oleh karna itu di belakang nama Lilen tidak ada nama Stone. Lilen pernah mengalami leukimia, dan Karenlah yang mendonorkan sum sum tulang belakangnya untuk adiknya itu Karen Stone menerima sang adik dengan baik dan tidak ada pilih kasih padanya. Lilen dan Karen hanya berbeda lima tahun. Mingkin itu yang membuat Karen menyayangi adiknya itu. Itu informasi yang kita dapatkan tuan Zino..." Jelas sejelas jelasnya sang anak buah, mulai dari bibit bebet dan bobot Karen Stone.
Zino menyerngitkan satu alisnya, "Lilen Robiana? Sekarang dimana gadis itu?" Tanya Zino penasaran dengan sosok adik Karen Stone.
"Lilen Robiana sedang berada di Amerika menempuh kuliahnya. Lilen memilih untuk menjadi penerus sang ibu untuk menjadi seorang medis tunggal. Dari data yang kita dapatkan rupanya ibu dari Lilen hanyalah korban dari pemerkosaan Betras, Betras malah jatuh cinta lagi pada ibu dari Lilen dam oleh karna itu Lilen bisa lahir di dunia ini, kalau tidak mungkin.. Sudah di gugurkan oleh Betras Stone sendiri. Dan oleh karna itu Lilen berusaha melanjutkan jejak sang ibu" Jelas anak buah Zino itu lagi.
"Apa sesayang itu Karen dan Betras pada gadis itu?" Zino mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan fakta baru yang ia dapatkan tentang keluarga Karen.
"Benar tuan. Bahkan saat Bella ibu dari Karen memarahi Lilen, Karen dengan siapnya membela sang adik, Karen selalu memperhatikan sang adik dengan telaten saat sakit. Bahkan Karen juga pernah membatalkan persetujuannya dengan kelompok hitam lainnya demi sang adik yang di ketahui mengalami kecelakaan." ujarnya lagi.
"Baiklah aku punya sedikit rencana licik untuknya. Aku ingin kalian juga membantuku dengan benar. Dan jangan lupa cari terus keberadaan Karen sekarang ini dan temukan segera Cessaku." Titah Zino pada Anak buanya yang tersisa.
"Tuan Zino aku sebenarnya sudah masang GPS pada Rindu tapi sepertinya GPS itu sudah di lepaskan oleh orang orang Karen, ini titik terakhirnya." Jake memberikan laptopnya kepada Zino.
Zino melihat titik itu memang sedikit jauh dari mereka sekarang. Tapi apa salahnya untuk mencoba mencarinya.
Beberapa anggota pun di kirim Zino untuk memastikan keberadaam Rindu. Mungkin saja mereka memdapat informasi lain dari situ.
Sementara itu Cessa masih canggung dengan Karen yang malah membawa Cessa ke kamar yang tadi. Cessa ingin memberontak tapi takut.
Karen mengendong Cessa gaya Bridal, menaiki tangga dan kini masuk dalam kamar tersebut.
Cessa sangat takut jika Karen melakukan hal yang sama seperti tengah hari tadi.
Karen...
__ADS_1