Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 147


__ADS_3

Jake menatap Lilen dengan takut. "Lilen kita mau ngapain..?"


"Kenapa.. Kamu takutkah?" Lilen menatap Jake.


"Eehh gaknya gitu.. Cuma penasaran kita mau ngapain.." Jake pura pura tenang.


"Masuk..!" Lilen memerintahkan Jake untuk masuk kamarnya.


"Iiaayaahh.." Jake mulai panik.


"Masuk Jake..!" Lilen menunjuk kamarnya.


"Oke.. Sip.." Jake masuk dengan tenang.


"Gak apa apa Jake kamu gak perlu takut. Dulu kamu pernah rasa kok.. Enak kok.." Jake bergumam dalam hatinya. Apa yang di pikirkan Jake ini adalah benar..?


"Tunggu di situ ya..!" Lilen berlalu ke lemari bajunya dan bilik ganti bajunya.


"Astaga.. Apa dia sudah menyiapkan semuanya.. Semuanya..?" Jake bergumam.


"Apa..?"


"Aahh..?" Jake terkejut. Rupanya Lilen bisa mendengar yang Jake gumamkan.


"Apa.. Kamu bilang apa Jake..?" Lilen keluar dari bilik ganti bajunya yang hanya di tutupi tirai sepanjang 2 meter dan tinggi 1 meter setengah.


"Aaahh..?" Jake mendesah panik lagi.

__ADS_1


"Kamu tuu kenapa..?" Lilen duduk di samping Jake.


"Gak apa.." Jake menggeleng cepat.


***


Zino sengat menikmati saat saat bersama Karsa. Rasanya ia sangat bebas tanpa beban lagi. Tak ada yang menggangu pikirannya. Satu masalahnya selesai.


"Senangnya.." Cessa datang membawa segelas jus di tangannya.


"Apa..?" Zino tersenyum lebar sekali.


"Ya senanglah.. Kenapa.. Masalah..?" Zino malah balik meledek Cessa.


"Issshhh gak tahu malu.." Cicit Cessa.


"Eehhh kan belun tentu.. Kamu bilang kan kalau itu anak kamu, kamu yang tanggung jawab.."


"Ya.. Tapi aku yakin itu anak Jake.. Aku gak ada ikatan apa apa sama Lilen dan kandungannya, sementara Jake punya. Aku dari tiga hari yang lalu juga perhatikan Jake. Dia khawatir sama Lilen. Dan asal kamu tahu Sayang.. Kenapa Jake tadi luka kayak gitu..?" Zino bertanya dengan riang.


"Kenapa.. Apa kamu tahu.. Aku tadi lupa tanya sama Jake kenapa dia luka gitu.." Cessa berpikir juga.


"Aku tahu dia kenapa.." Zino sombong.


"Kenapa..?" Cessa memicingkan mata.


"Dia..

__ADS_1


***


"Aahhwww..."


"Sakit..?" Lilen menatap mata Jake.


"Gak.. Gak sakit kok.. Uuhh.." Jake meringis lagi.


"Issshh makanya jangan aneh aneh.. Udah di bilang kalai ngapain aja itu hati hati.. Jangan main remeh aja.. Sakit kan.." Lilen lanjut mengobati Jake.


"Iya ya.. Maaf.. Aku yang gak hati hati.." Jake mengaku salah.


"Sekarang sudah selesai.." Lilen membalut lagi luka Jake, di letakkannya obat obatan agar lebih cepat sembuh dan mengurangi rasa sakitnya.


Pengobatan di lakukan Slink pada Jake sudah benar, itu adalah pertolongan pertama, bukan perawatan luka. Oleh larna itu Lilen berinisiatif untuk mengobati luka Jake lagi.


Tapi Jake kira Lilen mengganti baju atau yang lainnya, ternyata Lilen hanya mencari kotak obatnya.


Jake salah sangka pada Lilen hingga memikirkan Lilen akan membawanya jalan jalan ke dalam keindahan surga dunia seperti kemarin.


"Jadi coba cerita kenapa bisa luka seperti ini..?" Setelah selesai Lilen menyimpan semua obat yang ia gunakan ke dalam kotaknya lagi sambil bertanya pada Jake.


"Eemm itu aku.." Jake ragu mengatakannya.


"Apa..? Kamu manjat pohon terus jatuh gitu..?" Lilen menebak, karna tadi Jake sudah bilang kalau ia jatuh dari pohon. Tapi yang Lilen inginkan yang lebih spesifik lagi.


Jake..

__ADS_1


__ADS_2