Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 16


__ADS_3

Cessa masih tak percaya dengan Zino memilih untuk menundukan kepala saja. Tak ingin menolak tapi juga tak ingin menerima.


"Kau tak harus menjawab sekarang, kini kau hanya harus selalu di sisiku, atau biarkan aku yang di sisimu." Zino paham akan ketakutan yang kini Cessa alami. Tapi Zino dengan senang hati menunggu Cessa dan Zino takkan patah semangat untuk mendapatkan hati Cessa.


"Aku... Aku..."


TOK TOK TOK


Pintu pun terbuka, ternyata Johan, Billy, Rico dan tambah lagi satu orang, Rindu. Suasana yang canggung pun berubah, Cessa sangat senang saat Rindu datang.


Rindu menghampiri Cessa dan langsung memeluk Cessa tanpa memperdulikan orang yang tadi ada di samping dipan. Mata Cessa berkaca kaca hendak menetes tapi Rindu langsung menghapus air yang akan melewati pipi itu.


"Sudahlah. Kau kuat Cessa, kau kuat. " Kata Rindu. Zino yang tadinya berdiri di situ pun mundur teratur menuju teman temannya yang berada tak jauh dari dipan Cessa.


"Bagaimana kata dokter? Apakah wanitamu baik baik saja?" Tanya Billy saat Zino sudah berada di sampingnya.


"Wanita apanya? Dia akan menjadi istriku. Nyonya Zino Louis Smith" Ralat ya ralat, Zino kekeh Cessa itu istrinya. Padahal nikah aja belum tentu Zi.. Zi..


"Oohhh ya kenapa kalian bawa itu cewek?"


"Zi tadi aku pikir akan lebih baik kalau aku bawa itu cewek. Karna pasti kalau sama kamu Cessa akan tertekan, tapikan kalau ada tu cewek Cessa akan merasa tenang dan lagi Cessa tu butuh temen curhat biar Cessa meluapkan apa yang kini dia rasain. Gak pendam sendiri gitu. Takutnya nanti malah Cessa banyak pikiran dan sakit lagi, emang kamu mau gitu calon istrimu sakit Zi? " Johan menjelaskan dan akhirnya bertanya hal yang membuat Zino mengeleng sangat cepat dan berkali kali.


"Tapi ngomong ngomong itu cewek, kemarin namanya siapa ya, aku lupa" Rico angkat suara juga.


"itu.. Kalau gak salah Kangen" Kata Johan menjawab asal.


"Haaahh iyakah? Masa Kangen? " Rico protes. Seburuk itukah ingatan cowo cowo Jaman sekarang.


"Hehh kamu yang di sana" Rindu dan Cessa kaget dan langsung menoleh kearah suara berasal.


"Nama kamu siapa ya? "Billy bertanya dan Rindu langsung menoleh ke arah Cessa yang hanya di sambut anggkat bahu dari Cessa.


Rindu lalu menujuk batang hidungnya sendiri, apakah yang dimaksud mereka adalah ia.


"Eemmm kamu, yang ikut kami tadi. " Tukas Billy.

__ADS_1


Bibir Rindu menjawab dengan mengerucutkan bibirnya membentuk o.


"Nama saya Rindu tuan." Jawab Rindu dengan suara yang membuat ketiganya mangut mangut paham


"Tuuu kan namanya kangen Co.. " Johan merasa nama yang ia sebutkan benar.


"Iisss Rindulah bukan kangen, main ubah ubah aja nama orang" Rico juga protes


"Heeiii apa apalah ni orang namaku kok di ubah ubah." Batin Rindu meronta tapi tak berani di sampaikan.


Zino hanya geleng geleng kepala melihat tingkah konyol temannya.


"Aahh sudah sudah. Kami akan pulang hari ini tadi dokter mengatakan Cessa boleh pulang hari ini, kalian tunggulah di luar dulu. " Zino mengatakan kabar kepulangan Cessa pada teman temannya dan juga Rindu yang ada di sana.


Zino menoleh ke arah Cessa yang sedang tersenyum pada Rindu, rasa lega akan takut tak dapat menemukan wanita yang mengusiknya beberapa bulan ini dan rasa takut Cessa akan mengelami syok sirna ketika melihat ada senyum melengkung di bibir yang tadinya pucat kini mulai cerah meski tak secerah saat Zino mengecupnya dulu. Tapi ini pun sudah cukuo membuat Zino senang.


"Kau bersiaplah, aku akan menunggu di luar bersama yang lain. Akan ada Kangen yang menemanimu" Zino keluar dari ruangan Cessa meninggalkan Cessa bersama Rindu, Zino yakin Cessa akan merasa lebih aman jika bersama Rindu ketimbang bersiap bersamanya. Dan Zino juga takut ia tak bisa menahan dirinya, padahal ia sudah berjanji tidak akan melakukan pemaksaan terhadap Cessa tapi Zino tetaplah lelaki normal. Takut keblablasan.


"Haaahhhh Kangen lagi... " Kata Rindu saat Zino dan friend's sudah keluar dan menunggu di luar. Sementara Cessa malah tertawa ringan melihat tamannya protes akan namanya yang selalu di ubah ubah.


"Baiklah Nyonya mari bersiap, berhenti dulu ketawanya oke"


"Iiss nyonya apanya? Sudah aahh bantu aku ke toilet aku mau cuci muka dulu rasanya muka aku ada lumutnya gitu" Cessa menyudahi masalah Nyonya, Rindu dan kangen itu.


Setelah selesai di toilet kini Rindu dan Cessa sedang merapika rambut panjang Cessa yang beberapa hari ini tak terurus.


Cessa terpaksa meminta bantuaan Rindu untuk menyisisirkan rambutnya. Kini rambut Cessa sangat kusut karna saat Cessa mengamuk dan tak percaya bahwa dirinya mengelami keguguran Cessa bak orang gila yang tak ingin di kekang.


"Sa... Kenapa kamu dulu tak mencari laki laki yang telah menghamilimu itu? " Rindu bertanya di sela ia sedang menyisir rambut sahabatnya


"Siapa? Oohh laki laki yang menemani aku di sini semalam? "


"Haaaa kamu tidak tahu nama laki laki itu? Itu adalah tuan Zino, dia adalah pemilik ZL RESTO sebelumnya. Aku mengenalnya dan aku juga sangat terkejut sekali ternyata dia laki laki yang kau ceritakan" Ucap Rindu, Cessa hanya bisa memasang wajah datar.


"Rin, sekarang aku sudah tidak perlu khawatir. Dulu aku sangat takut dan khawatir karna aku tengah mengandung anaknya. Aku takut bila anakku lahir, dia akan mengambilnya dan membawanya jauh dariku. Tapi kini aku tak perlu khawatir lagi. Lahir saja belum tapi anakku sudah pergi jauh dariku dan bahkan aku belum melihatnya. " Cessa tak meneruskan kalimatnya, lidahnya kelu tidak tau harus bilang apa lagi kini anaknya sudah tenang di sana di tempat yang lebih luas dari pada dunia yang Cessa tempati.

__ADS_1


"Sa... Anakmu pasti sangat di sayang oleh sang pencipta, makanya Ia menjemput anakmu secepat ini. Tenanglah mungkin kedepannya kau akan mendapat yang lebih baik dari saat ini" Rindu terus memberi semangat kepada Cessa.


Setelah selesai menyisir rambut Cessa Rindu mengikatnya dengan rapi. Menunjukan leher jenjang dan mulus Cessa terpampang jelas.


"Baiklah sekarang temanku Cessa sudah sangat cantik pasti Tuan Zino akan sangat terpesona" Ucap Rindu memegang bahu Cessa dan menatap temannya yang sudah rapi lagi.


"Ahhh apaan sihhh mana ada terpesona apanya? Kalau cantik aku ni masih rendah, kalau dia mau dia bisa dapat yang lebih cantik dari aku Rin. Aaahh ya sudahlah ayo kita pulang aku sudah rindu sekali dengan pekerjaanku. Yukk" Cessa mendahului Rindu dan langsung keluar dari ruangan.


"Eehhh tapi bukannya kamu.. " Ucapan Rindu terpotong saat Cessa hilang dari balik pintu.


Sedangkan di luar, keempat pria sedang duduk berjejer rapi di kursi panjang menunggu seeorang datang.


TAP TAP TAP..


Terdengar suara langkah kaki dari belakang keempatnya. Sontak keempatnya menoleh dan salah seorang pria bangkit dari duduknya dan menghampiri perempuan yang baru datang itu.


"Sudah siap? " Tanya Zino pada Cessa yang baru sampai di situ dan tak lama juga Rindu datang dari belakang Cessa.


"Eemm sudah tuan. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada tuan karna tuan sudah menjaga saya selama saya dirawat di sini, saya tidak akan merepotkan tuan lagi. Sekali lagi saya ucpakan terimakasih." Ucapan Cessa yang di tanggapi Zino dengan mengangkat satu alis tebalnya.


"Siapa yang merepotkan? Dan siapa yang di repotkan? Aku justru senang bisa menjagamu. Sudahlah ayo kita pulang" Ajak Zino pada semuanya dan Zino langsung menggandeng tangan Cessa.


"Maaf tuan saya dan Rindu akan naik taksi saja. Tidak apa apa kok" Kata Cessa cepat cepat melepaskan gandengan Zino.


"Hei.. Aku akan mengantar kalian ayo.. " Zino kembali meraih tangan Cessa dan menariknya pelan.


"Tapi apa boleh Rindu ikut kita tuan? Aku ingin pulang bersama Rindu" Pinta Cessa lagi.


"Tentu saja my Queen. Apapun untukmu..''


off dulu kawan


maaf beberapa hari gk up. otor ada kegitan lain sekali lagi maaf ya...


jangan lupa komen, like, vote dan favoritkan

__ADS_1


salam dari Zino dan Cessa


__ADS_2