Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 38


__ADS_3

Karen mendudukkan Cessa di ranjang. Dan setelah itu Karen masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar gemericikan air.


Cessa menghembuskan nafasnya lega.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku kabur aja sekarang ya..? Tapi... Di depan banyak banget penjaganya kayak apa aku mau keluar. Oohh tuhan bantu aku." Cessa kebingungan dan mulai panik memikirkan caranya keluar.


"Aku lompat aja kali ya?" Cessa membuka jendela. Dan melihat kebawah, mungkin ada 2 sampai 3 meter kebawah.


"Kalau aku lompat mungkin hanya akan sakit sedikit saja, mungkin sedikit pincang kayaknya." Guman Cessa sambil terus melihat ke bawah.


Cessa tak menyadari sedari tadi Karen sudah selesai mandi dan juga ikut Cessa mengamati keluar jendela tepat di samping Cessa dan mendengar semua yang Cessa katakan. Mungkin karna terlalu fokus dengan pikirannya Cessa tidak menyadari Karen sudah ada di sampingnya.


Karen mengulum senyumnya sendiri, ingin rasanya Karen tertawa terbahak bahak mendengarnya.


"Baiklah..." Cessa mengulurkan kakinya keluar jendela, tapi dengan cepat Karen memegangi baju Cessa di bagian tengkuknya.


"Mau kemana kucing nakal....?" Ucap Karen dengan senyumnya yang semakin melebar.


"Ka... Kamu... Aku..."


"Turun!" Titah Karen menghilangkan senyum di bibirnnya dan melototkan matanya.


Karna takut dengan Karen Cessa kembali mengurungkan niatnya dan memasukan lagi kakinya ke dalam kamar itu.


Karen melihat bekas luka di tengkuk Cessa. Bekas yang sedikit memerah entah karna apa.


"Ini kenapa?" Karen menekan bekas merah itu.


"Aahh?? Memang ada apa di sini?" Cessa juga memegangi tengkuknya yang di tekan Karen.


"Coba lihat di cermin itu... Baru kamu bisa lihat apa yang ada di situ." Karen berbalik dan meninggalkan Cessa di depan Jendela itu tadi.


Cessa berjalan ke arah cermin dan mencoba melihat pantulan dirinya di cermin.


"Eh apa ini?" Cessa akhirnya menemukan bekar memerah yang di maksud Karen tadi.


Cessa mencoba mengingat ingat. Tapi ia tidak pernah merasa ada terkena benda tajam di tengkuknya.


Cessa mengelengkan kepalanya karna merasa tidak pernah melukai dirinya sendiri.


Bukan hanya Cessa yang berpikir dan mengingat ingat. Karen juga melakukan hal yang sama. Karen tidak pernah membuat bekas di tengkuk Cessa.


"Sini aku lihat lagi" Karen benar benar penasaran dengan bekas itu.


Mungkin hanya bekas biasa bagi Cessa tapi Karen tidak ingin ada bekas bekas aneg di tubuh Cessa. Apalagi yang Karen pikirkan itu adalah bekas dari Zino. Mengingat Cessa sebelumnya adalah milik Zino. Mungkin sajakan.. Pikir Karen.

__ADS_1


"Tidak usah nanti juga hilang sendiri." Cessa menutupi lagi tengkuknya dan menepuk nepuk tangkuknya sendiri agar bekas hilang pikirnya.


"Kamu mau buka tengkukmu itu atau harus aku buka semuanya?" Karen bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Cessa dengan langkah besarnya.


Takut akan ancaman dari Karen mau tak mau Cessa menuruti Karen.


Karen membuka sedikit baju Cessa di bagian tengkuk dan meneliti dengan sangat.


Karen akhirnya menemukan sebuah titik kecil di tengah bekas memerah itu. Karen mulai mengerti bekas apa ini.


Ini adalah bekas suntikan bius Cessa tadi saat akan di bawa Karen dan anak buahnya. Rupanya kulit Cessa sensitif dengan obat bius itu dan membuat bekas iritasi seperti ini.


Bibir Karen kembali melengkung, "Baguslah. Aku pikir bekas laki laki brengsek itu." Gumannya senang.


"Apa yang tuan temukan?" Cessa akhirnya bersuara setelah lama tak ada pergerakan Karen di tengkuknya.


"Ah ini rupanya hanya bekas suntikan tadi, suntikan untuk membiusmu.." Karen menjelaskan sedikit kepada Cessa tentang bekas merah itu.


"Ooohh iya..ya.." Cessa juga mengangguk anggukan kepalanya.


TOK TOK TOK..


Pintu kamar Karen dan Cessa di ketuk. Karen menutup lagi tengkuk Cessa dengan rapi lalu membukakan Pintunya.


"Tuan ini pesanan anda..." Karen menerima semua paperbag itu dan menutup pintunya lagi.


"Ini untukmu." Karen memberikan semua paperbag itu ada Cessa.


"Apa ini tuan?" Cessa malah balik bertanya pada Karen.


"Buka sendirilah..." ucap Karen dengan ketus, tapu tetap menunggu Cessa membuka paperbag itu semua.


Dengan perlahan lahan Cessa membuka paperbag di depanya. Mungkin karna takut, Cessa membukanya sangat pelan.


Cessa sedikit terkejut mengetahui rupanya isi dari paperbag itu pakaian. Dan Cessa menduga kalau itu pakaian untuknya. Karna semuanya pakaian wanita. Dan hanya Cessa wanita di tempat ini. Selebihnya laki laki.


"Oohh pakaian.. Terima kasih tuan" ucapnya.


"Hei apa aku ini terlihat sangat tua? Sehingga kamu memanggilku dengan sebutan tuan? Atau kamu mau berkerja denganku dan menjadi anggota kolompokku?" sepertinya Karen protes dengan Cessa yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'tuan'.


"Eemm saya tidak tahu tuan.." Sangat polos tapi itulah Cessa.


"Haduh... Dengar ya aku ini hanya tua delapan tahun dari kamu. Harus kamu tahu itu. Dan berhenti panggil aku tuanmu. Yang memanggilku tuan hanya anak buahku. Kalau kmu masih juga memanggilku tuan, akan aku masukan namamu sebagai daftar anak buahku. Mau kamu, aku suruh melakukan yang di lakukan anak buahku? Seperti membunuh, menembak, membantai?" Kata Karen lagi sambil terus mendekatkan wajahnya ke wajah Cessa.


Dengan tubuh condong ke belakang Cessa mengelengkan kepalanya dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Sudahlah... Kamu ganti bajumu itu, bau!" Ejek Karen pada Cessa lagi. Padahal tadi Cessa sudah membersihkan tubuhnya, tidak ada aroma yang tak sedap dari tubuhnya tapi laki laki aneh di depannya mengatakan dia bau.


Tidak berani menjawab Cessa hanya mengganggukan kepalanya. Karen pun sama, dengan sekali mengangguk dan setelah itu Karen berlalu dari depan Cessa, Karen mengambil laptopnya dan membukanya mengecek pekerjaannya yabg lainnya lagi.


Dengan cepat Cessa berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa semua paperbag tadi. Karen yang melihatnya hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Mau di apakan semuanya itu? Di pakai?" Karen kemudian mengambil kotak kacamatanya dan mengenakan kacamatanya menambah daya tarik tersendiri dari para penggemarnya di luar sana.


Tak lama Cessa di karmar mandi, Cessa keluar lagi dan berjalan sedikit mendekati Karen yang sedang duduk di sofa.


"Kenapa?" Tanya Karen menyadari Cessa keluar dari kamar mandi tanpa menoleh pada Cessa.


"Handuknya cuma satu.." Ucap Cessa dengan tanggung dan membuat Karen tak mengerti apa yang di maksud Cessa sehingga membuat konsentrasinya menghilang.


Karen menoleh pada Cessa di sampingnya. "Maksudnya apa?" Tanya Karen.


"Iya itu... Handuk di kamar mandi hanya ada satu, aku cari di dalam paperbag gak ada juga handuk yang lain." Jelas Cessa sedikit bingung juga dengan yang ia ucapkan.


"Pakai saja yang ada di situ..." Karen kembali fokus pada Laptopnya.


"Tapi itukan punya tuab tadi, masih agak lembab gitu." Cessa meremaa remas jarinya sendiri karna tadi di kamar mandi Cessa sudah menyentuh handuk yang ia maksud itu.


"Pakai saja atau aku juga harus mandi bersamamj begitu? Lalu kita mengunakan satu handuk bersamaan?" Lagi lagi Karen mengancam Cessa dengan ancaman yang tak main main.


"Baiklah. Aku mandi" Cessa berlalu lagi dan masuk ke kamar mandi lagi.


Sementara itu Tim yang Zino kirim menemukan jejak Rindu. Rindu do sekap di salah satu gudang yang sangat tua, terlihat banyak bekas kekerasan padanya.


Saat tim Zino ingin menyelamatkan Rindu rupanya ada kelompok Mata elang yang menjaga Rindu di tempat itu. Mereka hanya bersembunyi, tapi saat tim Zino ingin bergerak barulah mereka keluar dari tempat persembunyiannya.


Terjadilah apa yang seharusnya terjadi di antara kedua kubu yang berbeda itu. Zino yang mendapat kabar dari anak buahnya juga kembali mengirim bala bantuan, berharap bukan hanya Rindu yang ada di situ, Cessa pun seharusnya ada di situ.


Pertarungan pun di menangkan oleh tim Zino, kelompok mata elang kalah jumlah dari tim Zino. Menyerah adalah jalan akhirnya. Tapi pastinya mereka mengirim info dulu pada tuannya.


Karen mengetahui bahwa anak buah Zino sudah mendapatkan rekan dari Cessa menyunggingkan senyum manisnya.


"Baiklah umpan pertama di makan. Mari makan lagi umpan yang lain Zino..." Karen bangga akan rencana liciknya.


Karen mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Siapkan tiket untukku dan satu lagi untuk wanitaku. Pesan saja di pesawat nasional, ingat namaku jangan terlupakan dan pasang juga nama nyonya Karen Stone!" Ucap Karen di telpon yang tersambung itu.


Tidak terdengar apa jawaban dari orang yang di sebrang telpon itu, yang pasti orang itu mengiyakan apapun yang Karen ucapkan.


Sementara itu Zino kembali mengumpulkan anak buahnya, dan tak lupa juga teman temannya. Zino minta Rico untuk mengamati jejak jejak di alat transfortasi udara, siapa tahu Karen akan bepergian melalui udara. Dan begitu juga semua teman temannya yang lain, Zino sangat membutuhkan mereka Sekarang.


Zino..

__ADS_1


__ADS_2