
Karen menunjuk matanya dengan dua jari telunjuk dan jari tenganya lalu menunjuk mata Lorent. Dan semua orang tahu itu artinya 'Aku mangawasimu'.
"Lorent... Cuci matamu itu, dengan matamu itu kamu tidak berhak memandang ratuku seperti tadi, aku melihatmu sangat dalam menatap Ratuku. Jadi cuci sana.. Jangan sisakan kecantikkan Ratuku di matamu." Karen menoleh pada semua anak buahnya juga yang kini ada di sana, di setiap penjuru hotel itu.
"Kalian juga cuci mata kalian, kalia juga tidak boleh memandang Ratuku. Jika kalian tadi melihat atau memandangnya maka sekarang segera cuci mata kalian!" Setelah mendengar titah Tuanya maka para pria berbaju hitam itu berlalu dengan tergesa gesa dan begitu pula dengan Lorent yang berlalu mengikuti anak buah yang lainnya.
Satu persatu pun anak buah Karen kembali dengan wajah yang basah, Lorent pun kembali dengan wajah yang basah juga, Cessa menganga tak percaya mereka semua mencuci wajah dan mata mereka hanya karna memandangnya.
Cessa menoleh pada Karen, dilihatnya wajah Karen benar benar serius kepada anak buahnya. Cessa pun menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau makan tadi kan.. Ayo.. Tapi kita makannya di kamar ya.. Pelayan.. Antar makananku dan Ratuku ke kamar." Karen pun membawa Cessa yang masih ia rangkul pinggangnya dengan posesif ala Karen.
Sesampai di kamar Cessa masih di rangkul Karen dan di ajak duduk di sofa dengan laptop dan gawai Karen yang masih menyala di tinggalnya tadi.
"Ck" Cessa berdecak dan menunjuk dengan matanya ke arah Laptop dan gawai di depannya. Karen yang paham langsung mematikan dan membereskan kedua benda itu.
Kini Karen tersenyum melihat Cessa di hadapannya. "Apa?" Tanya Cessa dengan wajah yang sangat menyeramkan menurut Karen.
"Maaf..." Ucap Karen dengan memegangi tangan Cessa. Karen rupanya paham Cessa yang marah karna Karen tak ingin makan dengannya malah memilih pekerjaannya yang tak ada habisnya itu, mencari ini mencari itu.. Hah tak ada habisnya. Dan Karen yang baru saja menyombongkan cintanya dan rela memberikan segalanya malah langsung melupakannya saat gawai itu sampai di depannya.
"Maaf ya.. Aku mohon.." Karen mengedipkan matanya beberapa kali di depan Cessa yang terus memandangnya juga.
"Cihh.." Cessa menahan tawanya dan hanya membuat senyum geli di bibirnya. Apakah ini laki laki yang tadi berwajah serius di depan anak buahnya dan menyuruh mereka mencuci mata mereka?
Karen mendekat dan merangkul seluruh tubuh Cessa "Maaf.. Aku tadi lupa akan ratuku karna kabar dari anak buahku di luar negri.. Maaf ya.. Aku janji aku akan menebusnya." Ucap Karen meyakikan Cessa.
Cessa memutar matanya malas dan kembali menatap Karen di depannya. "Awas saja... Sarapan dulu baru kerja... Kalau perut lapar bisa buat emosi kita semakin tinggi." Ucap Cessa dan Karen langsung patuh dan menganggukan kepalanya. Pintu kamar pun di ketuk, Karen pun bangkit dan membukakan pintu dan mengambil makanan yang ia pinta bawa ke kamar tadi.
Kini di depan Karen dan Cessa sudah tersedia sarapan pagi mereka, cukup beragam macamnya. Ada Churros, Frangollo, Bocadillo de queso dan kawan kawannya yang lain. Cessa lebih tertarik pada Frangollo yaitu adalah makanan klasik orang spanyol yang berasal dari kepulauan Canary yang terbuat dari tepung millet, susu, telur, gula mentega, kulit lemon, kismis, almond dan kayu manis. Sarapan ini sangat sehat.
__ADS_1
"Aku mau yang itu.." Tunjuk Cessa.
"Oke.. Aku suapi ya.." Karen mengambil mangkok itu dan akan menyuapi Cessa dengan senyum di bibirnya dan lesung pipinya yang sangat indah. Siapa pun yang melihatnya pasti ingin juga di suapi.
"Aaaaa.." Karen membuka mulutnya mempraktekkan apa yang harus Cessa lakukan.
Bukanya membuka mulutnya Cessa malah mencubit hidung mancung Karen. Bukanya kesal atau semacamnya Karen malah tertawa kecil.
"Sini aku makan sendiri, kamu makan juga." Cessa handak mengambil mangkok frangollo itu tap Karen justru menjauhkannya dari jangkauan Cessa.
"Gak.. Aku suapi, kan tadi kamu mau makan sama aku.." Ucap Karen membantah Cessa.
"Iya aku makan kamu juga makan..." Ucap Cessa lagi
"Ya udah kamu makan dulu ini baru aku juga makan." Cessa berdecak dan akhirnya memakan suapan dari Karen.
Setelah Cessa memakan suapan pertamanya Karen pun memakan Frangollo yang sama dengan Cessa bukan hanya makanannya yang sama, sendoknya pun sama, ya semangkok berdua, sesendok berdua.
"Kata kamukan makan sama aku, ya ini makan sama aku sayang.." Ucap Karen dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanannya.
Setelah itu Karen menyuapi Cessa lagi, Cessa mencari keberadaan sendok yang satunya lagi atau apapun yang lainnya di atas meja itu tapi ia tak menemukannya.
"Makanlah.." Ucap Karen lagi.
Mata Cessa menyipit memikirkan sesuatu di otaknya. "Baiklah aku makan tapi, setelah makan, Kamu ceritakan apa yang buat kamu sampai lupa sarapan sama aku." Tawar Cessa dan dengan cepat Karen menggangukkan kepalanya setuju.
Sementara itu Zino kembali ke rumah yang ia sewa di Amerika dan duduk bersila karna ia tidak dapat tidur dengan nyenyak, berbeda dengan malam kemarin saat di hotel bersama Jake dan Lilen. Kini jam di Amerika menunjukan pukul 2 subuh. Sementara di tempat Karen sekarang sudah pukul delapan pagi, karna perbedaan waktu Spanyol dan Amerika sekitar 6 jam. Madrid Spanyol lebih cepat 6 jam dari Washington, Distrik Kolombia Amerika Serikat.
Di otak Zino kini hanya terpikirkan Cessa, bagaimana keadaannya sekarang. Zino menghela nafasnya dan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Cessa. Aku sangat mencintaimu.."Gumam Zino dengan matanya yang berkaca kaca.
***
Beralih lagi kepada Cessa dan Karen yang sudah selesai makan dan karen baru saja selesai mandi sedangkan Cessa menonton film di laptop Karen dengan wajah lesunya.
"Karen... Aku bosan... Masa cuma nonton film kartun kayak gini..." Rupanya Karen hanya memiliki film kartun di laptopnya. Kartun dua ulat berwarna merah dan kuning yang tinggal di selokan.
"Terus kamu maunya apa?" Tanya karen dengan handuk di kepalanya dan handuk lainnya di pinggangnya. Tanganya berkacak di pinggangnya.
"Eeemm... Konser gitu, jangannya film yang kayak gini.." Ucap Cessa menekan nekan laptop Karen dan mencari, video lainnya.
"Oohh mau konser konseran.. Mau? Live?" Tanya Karen dengan segera mengenakan celananya.
Karen menghampiri Cessa tanpa mengenakan baju hanya celananya saja yang ia kenakan.
"Mana?" Tanya Cessa tak sabar.
"Oke tunggu ya.." Karem malah keluar kamarnya lagi dan meninggalkan cessa untuk beberapa menit.
Tak berselang lama Karen kembali lagi dan membawa gitar di tangannya. Dengan cerianya dan memperlihatkan gitarnya pada Cessa.
"Buat apa?" Cessa melirik Gitar di depannya.
"Kamu mau konserkan..?" Karen mencari bajunya dan mengenakkannya.
"Terus sangkutannya sama gitar ini apa?" Cessa terus memberikan pertanyaan demi pertanyaan.
Karen mengambil gitar itu dan mengedipkan matanya pada Cessa. "Ini konser ekslusif untukmu seorang."
__ADS_1
off dulu kawan.. mau tau seperti apa konsernya... Lanjut nanti malam sekitar jam 11 sampai 12 ya soalnya jam segitu anak autrho udah tidur terus author lanjut ngetik lagi.. Mohon kesabarannya ya.. Tapi tiap hari novel kita ini up terus.. Dan novel di seblah juga seperti itu. Oohh ya author punya novel baru juga looo judulnya, Mengubah takdir : Dendam 100 Kilogram. Novelnya memang baru beberapa bab dulu tapi gak salah kok kalau para readers pengen baca. Gak kalah seru sama novel ini dan novel yang satunya lagi. Cobalah..
Author belum bisa up karna masih di acc sama pihak noveltoon dan ikut lomba tema mengubah takdir. Mohon bantuannya ya.. Di baca dan di beri jejaknya ya.. Like atau Favoritkan atau koment juga.. Silahkan Author tunggu ya kunjungannya..