Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 105


__ADS_3

Bella tersenyum melihat Zino yang sedang mendekati Baby Karsa.


"Zino..." Panggil Bella.


"Eeeeemm.... Mommy.." Zino baru ingat kalau masih ada Bella ibu Karen.


"Ya nak.. Kamu tentu Boleh jadi Daddynya. karsa pasti senang banget. Sudah ada Mommy sekarang ada Daddy juga.." Zino menoleh ke arah Cessa.


"Kamu boleh jadi Daddynya nak.." Bella mengelus Pipi Zino.


"Oke dan mulai sekarang.. Aku Daddymu.." Cessa mendekati mereka.


"Eeemm ya ayo kita pergi. Ini sudah terlalu siang. Kasian Baby Karsa nanti." Ajak Bella.


Semuanya setuju. Anak buah yang di bawa Zino pun membuat barisan yang rapi untuk di lewati Zino berserta yang lainnya nanti.


"Ayo aku gendong.." Zino membungkuk agar Cessa naik ke atas punggungnya.


Cessa menatap sekelilingnya. Anak buah Zino semuanya di sana. Bagaimana mungkin ia akan tenang naik di punggung Zino.


Anak Buah Zino dan Karen memberikan hormat pada mereka dengan membungkuk pada mereka. Dan kenapa Zino harus membungkuk dan bahkan di pakai Cessa untuk turun dari bukit ini.


"Gak usah Zi.. Aku akan jalan sama Baby Karsa aja.." alasan Cessa menolaknya.


Ternyata Zino sudah menyiapkan kereta bayi khusus untuk Baby Karsa. Jadi gak perlu repot repot memikirkan Baby Karsa.


"Eeeemmm?" Zino mendekati Cessa lagi.


"Zi.. Kamu lagi luka.. Masa kamu gendong aku..?"Alasan penolakannya lagi.


"Tapi Rindu bisa aja tuhh.." Zino menunjuk Rindu yang sudah di gendong Lorent.


"Rindu lagi hamil Zi..." Cessa mendorong tubuh Zino. "Ayo kita jalan Zi.." Bujuknya.


"Gak aku mau gendong kamu.." Zino tetap kekeh.


"Tapi nanti..." Cessa memegangi dada Zino.


"Ini bukan apa apa sayang.." Zino memegang juga tangan Cessa di dadanya mayakinkan Cessa ia baik baik saja.


"Zino..." Cessa kehabisan kata kata untuk menolaknya.


Zino membungkuk lagi dan Cessa naik ke punggungnya.


"Aku akan tetap mencintainya.." Jawaban Zino dalam hatinya. Mengingat pertanyaan terakhir yan Karen lontarkan padanya.


Setiap di perjalanan Zino dan Cessa. Para anak buah itu memberi hormat pada mereka. Saat baby Karsa yang dengan keretanya lewat juga di beri hormat.


Mereka menginap lagi di Vila tempat Karen dan Cessa beberaa waktu lalu menginap.

__ADS_1


Cessa membersihkan dirinya. Baby Karsa juga sedang di jaga pengasuhnya. Zino dan Lorent sedang bersama anak buahnya.


"Aku senang bisa melihat kalian. Kalian yang paling Karen andalkan. Aku sebenarnya gak tahu mau ngapain lagi habis ini semua. Kalian tahu kan aku sudah menjadi Daddy.. Ya Daddy Karsa. Tapi... Ada yang menganggu pikiran aku sebenarnya." Zino mengambil sesatu di dalam sakunya.


Sapu tangan dari tas Cessa yang ia temukan itu. Saput tangan Zina, dan sapu tangan buatan Karen. Ia memperlihatkan pada anak buahnya.


"Karen menitipkan ini pada Cessa. Dia bilang hadiah untukku. Tapi berani sekali dia gak bilang langsung sama aku.." Zino sebenarnya masih sangat sedih tapi ia tetap berusaha untuk tetap kuat.


"Karen titipkan sapu tangan ini. Sapu tangan Elang dan tulip hitam." Zino mengangkat satu sapu tangan dan memperlihatkannya.


"Ini buatan Karen.." Zino mengelusnya. Meski tidak terlalu tegas dan lantang seperti tadi. Anak buahnya pasti tahu apa yanh Zino katakan.


"Dengan ini aku.. Zino Louis Smith mempersatukan kalian mata Elang dan Tulip hitam." Lantangnya lagi. Meski dengan airmata yang berjatuhan.


"Hormat kami Tuan..." ucap semuanya bersamaan.


Zino teringat sesuatu. " Akan aku panggilkan nyonya kalian dan juga nona muda.." Zino berbalik dari hadapan anak buahnya dan menuju kamar Cessa.


***


"Ooowww anak mommy pintar ya..." Cessa sedang mengendong Karsa dan seolah sedang memberikan asupan gizi terbaik untuk Baby Karsa.


Mau tak mau Cessa memberikannya karna Baby Karsa sangat menyukainya. Tanpa Cessa sadari Zino melihat semuanya.


"Cessa..?" Zino sangat terkejut.


"Aaahh..?" Apalagi Cessa yang baru sadar akn keberadaan Zino. Ia lebih terkejut lagi


"Zino tutup pintunya..!" Pinta Cessa.


Dengan sekali gerak Zino menutup pintu kamar Cessa. Lalu Zino mendekati Cessa dan Baby Karsa.


"Kamu sedang menyusui Baby Karsa..?" tatapan Zini hanya satu arah.


"Dia sangat suka padahal mana ada asinya.." Jawab Cessa dengan ragu ragu.


"Tadi dia nangis. Jadi harus di kasih tenang gini.. Terus kalau dia sudah tenang dan ngantuk baru deh di kasih susu formulanya.." jelas Cessa sambil menatap baby Karsa lalu setelah menjelaskan itu Cessa menatap Zino.


Cessa melihat tatapan Zino hanya pada Baby Karsa dan mainanya. "Pasti Enak.." Gumam Zino.


"Zi.." Cessa mengangkat dagu Zino agar menatapnya saja. Bukan menatap yang lainnya.


"Ya..?" Zino menatap Cessa lalu menatap Baby Karsa lagi lalu balik menatap Cessa.


"Kamu ke sini kenapa..?" Cessa mengalihkan pembicaraan.


"Eeemm untuk apa ya tadi.. Tadi aku.. Anak buah.. Aaahh.. Ya anak buah Karen dari Canada mau ketemu kamu dan Baby Karsa. Bagaimana pun juga kamu sudah tercatat sebagai nyonya mereka. Datanglah dan biarkan mereka memberikan hormat mereka pada kalian berdua.." Setelah mengatakan itu Zino langsung menatap baby Karsa lagi.


Bibir imut Baby Karsa bergerak kecil seperti sedang menghisap isinya. Zino mengamatinya dengan sangat dekat membuat Cessa terganggu.

__ADS_1


"Zi..." Cessa mendorong wajah Zino.


"Apa.. Aku cuma mau liat.. Kayaknya manis gitu.. Enak.." Zino mengangguk yakin..


"Aku juga mau coba..." Sarkasnya.


"Zino.." Cessa mencubit bahu Zino.


"Ya gak deh.. Kan punya Karsa.. Daddy ambil mommynya aja deh.." Zino segera memeluk Cessa.


"Ya ampun Zino itu... Bisa gak sih..?" Cessa merasakan ada yang bangun di antara kakinya dan kaki Zino.


"Gak bisa... Tunggu aku tenang dulu.." Zino terus memeluk Cessa.


Perlahan tapi pasti Baby Karsa melepaskan bibir kecilnya. Cessa tenang ia bisa menyimpan barangnya itu.


"Zi.. Aku tidurkan Baby Karsa di tempat tidur dulu.." Akhirnya Zino juga melepaskan peluknya pada Cessa.


Cessa menidurkan Karsa di tempat tidurnya. Bayi kecil itu mencari lagi, tapi Cessa memberinya susu formula saja agar setelah ini Baby Karsa akan tertidur.


Baby Karsa semakin larut dalam tidurnya, Cessa duduk dengan tenang lalu menyimpannya rapi rapi. Cessa menoleh pada Zino yang ternyata masih memandanginya.


"Baby Karsa sudah tidur..?" Zino mendekati Cessa yang masih salah tingkah.


"Eeemm ya sudah.." Jawabnya.


Zino langsung memeluk Cessa lagi lebih intim. "Kalau gitu gantian.. Aku lagi yang jadi baby.."


"Zi.. Apa.. Aaahh.." Zino membuka baju Cessa dan memainkan mainan baby Karsa tadi.


"Ooohhh..." Suara Zini dari balik tubuh Cessa.


***


"Aku panggil Bibi dulu.." Cessa berusaha mengatur nafasnya yang tadi tak beraturan.


"Biar aku aja kamu tunggu di sini sayang.." Zino mengerti yang Cessa rasakan. Ini juga salahnya maka seharunya ia yang tanggung jawab.


Cessa masih duduk di sofa dan menganggukkan kepalanya. Zino keluar dari kamar dan setelah itu barulah Cessa menghela nafas panjang.


"Apa yang terjadi padaku.. Kenapa aku terhanyut..." Cessa memegangi rambutnya.


Lalu turun ke bibirnya. Lalu turun lagi ke dadanya. Awal mula kajadiannya dan Zino.


"Isssshhh.." Cessa kembali mengingat apa yang baru saja terjadi. Rasanya ia malu sekali.


"Sayang.. Apa Mommy tadi mengotori pendengaran kamu kah..?" Cessa mendekati Baby Karsa yang masih tertidur. Cessa rasa tadi ia sangat ribut. Pasti jika Baby Karsa lebih besar dari ini ia akan protes dengan kegaduhan yang di buatnya dan Zino.


Zino...

__ADS_1


Off.. Aaaahh mantap.. Selamat datang pembaca baru dan pembaca setia... Senang liat jejak yang kalian tinggalkan untuk Author.. Makasih ya.. Love you all..


__ADS_2