Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 78


__ADS_3

Karen dan Rino sudah menggores lengannya masing-masing dan tentu saja ada Darah segar yang keluar. Cessa menatap keduanya satu persatu, keduanya memberikan senyum manis seakan meminta sesuatu kepada Cessa. Cessa tidak ingin mendengar permintaan mereka dan segera berlalu dari tempat itu


"Luka sendiri obati sendiri..." Cessa menaiki tangga dan meninggalkan keduanya.


Lilen mengamati Zino dan Karen dan Masih pada posisinya.


"Mereka berdua rela melukai diri sendiri hanya demi mendapat perhatian dari Cesa, Kenapa Aceh sangat istimewa bagi mereka?" gumam Lilem dalam hati sambil mengamati kedua laki-laki tersebut.


"Zino Kenapa kamu ikut ikutan kamu baik-baik saja..." Karen mendorong bahu Zino.


"Loh kamu juga baik-baik saja kenapa sok sok sakit?" keduanya saling melempar tatapan tak suka dan setelah itu karena teringat sesuatu.


"Tapi aku kan sekamar dengan Cessa hehehe..." gumam Karen dan langsung berlari menaiki tangga menyusul Cessa.


Zino melihat Karen yang menaiki tangga dan tentu saja ia mengikutinya. Keduanya sampai di depan pintu kamar Cessa, keduanya mulai lagi pertengkaran kecil.


"Kamu ngapain ke sini ini kamar aku sana kamarmu di seberang... " Karen menunjukkan sebuah kamar yang terlihat dari seberang kamar karena karena rumah itu sangatlah besar.


"Siapa yang ikut kamu? Aku ke sini mau menemui Cessa enggak usah ikut campur deh... " Zino juga tak kalah pintar menjawab pertanyaan Karen.


Karen tidak bisa masuk dan Zino juga tidak bisa masuk karena keduanya saling menghalangi.


Sementara itu Loren dan juga Rindu di kamar mereka, Lorent sedang berusaha membuka bajunya tapi tangannya, badannya, dan beberapa bagian lainnya sangat sakit saat ia bergerak.


Tentu saja dengan luka yang seperti itu siapa yang bisa bergerak bebas. Mau tak mau Rindu membantunya membukakan baju Lorent.


Awalnya Rindu ragu untuk membuka baju Lorent tapi ia tidak tega melihat Lorent yang terlihat sangat kesakitan dengan luka yang ada di tubuhnya.


"Terima kasih..." ucap Lorent setelah Rindu membantunya melepaskan baju yang penuh dengan bercak darah itu.


Setelah baju Lorent terbuka semua, terlihatlah beberapa luka yang Lorent alami.


Itu luka yang cukup serius untuk orang biasa tapi Entahlah karena yang terluka ini adalah seorang anggota mafia, mungkin beda rasanya sehingga Lorent bisa menahannya dengan semudah itu.


Senyum di bibirnya terus-menerus timbul melihat Rindu yang setia membantunya, jika tadi Rindu membantu Lorent membuka bajunya maka sekarang rindu membantu Lorentz membersihkan luka-lukanya. Dengan perlahan Rindu membersihkan luka Lorentz yang terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak tahan melihatnya biarkan aku saja yang obati..." Lorent melihat Rindu Yang sepertinya tidak mampu melihat darah kental yang terus mengalir keluar.


Karena memang tidak sanggup melihat darah tersebut maka Rindu meletakkan kapas yang ia gunakan untuk membersihkan luka Lorent.


"Kamu istirahat saja aku akan mengobati lukaku ini juga masih malam lebih baik untuk kamu istirahat, kasihan kan anak kita... " saran Lorent kepada Rindu.


Sebenarnya ingin menolak dan tetap membantu Lorent meskipun hanya bantu lihat, Tapi Lorent tidak tega mengingat ini masih malam tidak baik untuk seorang ibu hamil seperti Rindu menghabiskan malamnya dengan begadang.


"Aku tidak mau tidur Aku akan melihat nya saja..." Jawab Rindu.


Sementara itu Jake, memilih untuk keluar dari rumah tersebut tak ingin terus melihat kemesraan antara Lorent dan juga Rindu. Rasa yang ia miliki untuk Rindu sangatlah besar memang, tapi Jake tidak bisa menerima anak yang rindu kandung. Jake mengambil satu puntung rokok dan menyalakannya, di resepnya dalam-dalam rasa dari rokok tersebut, asap Yang meluap dari pernapasannya Dan buang dengan kasar dengan harapan menghilangkan semua rasa sakit hatinya.


Dari belakang Jake tiba-tiba datang seseorang, dengan nafasnya yang tak teratur mungkin karena emosi atau sebagainya.


"Kamu sedang apa...?" Rupanya itu adalah Zino yang datang dengan keadaan marah. Entah apa yang terjadi padanya dan juga Keren saat di depan pintu kamar Cessa tadi yang membuat Zino nampaknya kesal.


"Tuan di sini..?" Jake malah balik bertanya.


Zino hanya memandang kepulan asap dari sisa sisa bom yang tadi, dan juga kepulan asap roko Jake.


"Ada lagi kah.. Aku mau merokok juga.." Ucap Zino masih menahan amarah.


Zino mengambil satu puntung Rokok dan Jake juga menyerahkan penitiknya, dan puntung rokok itu menyala. Zino pun juga meresap rasa Rokok itu.


"Tuan kenapa di luar.. Bukannya tadi tuan bersama dengan Cessa da juga Karen..?" Tanya Jake mengalihkan perhatiannya.


"Aku dan Karen di usir Cessa...." Jawab Zino sedih. "Dan yang lebih parahnya lagi masa iya Cessa meminta kami untuk tidur bersama..." Omel Zino lagi.


Flashback on


Karen dan Zino masih terus saling menjelekkan satu sama lain agar bisa masuk kedalam kamar Cessa.


Cessa di dalam kamar pun tak tahan terus mendengar keduanya seperti ayam betina yang bertelur sebiji rinut sekampung.


Akhirnya Cessa keluar dan menengagi keduanya lagi. "Zino.. Karen... Sudah..." Ucap Cessa saat membuka pintu.

__ADS_1


"Cessa.. Aku luka....!!" Keduanya sontak bersama sama lagi.


"Isss kamu ini.. Ikut ikutan aku terus..." Karen malah meneriaki Zino...


"Eeehh kamu juga sama kok... Cessa..." Zino tak mau kalah dengan Karen.


"Dengar... Kalian berdua luka karna kalian berdua sendiri. Lorent di obati Rindi karna ia memang luka karna melawan musuh... Jadi gak usah sok sok sakit atau luka kayak gini... Aku gak buta ya... Aku tadi lihat kok kalian gores sendiri kaca di lengan kalian itu.. Hiiissss.." Cessa benar benar stres dengan kedua laki laki ini.


"Tapi Cessa..." Belum sempat Karen memohon Cessa sudah memotong pembicaraan Karen


"Karen... Kamu malam ini tidur dengan Zino di kamar sebrang... Dan Zino itu kamarmu dan Karen.. Aku gak mau ada penolakan... Titik.." Ucap Cessa seolah dialah ratu di rumah ini.


"Hah...? Sama Zino..?" Karen tak percaya perintah yang Cessa berikan.


"Iidiihh siapa yang mau sama dia Cessa..." Zino juga menolaknya telak.


"Eh Cessa mau aja tuh beberapa hari kemarin.. Bahkan kami dua juga tiru yabg kamu lakukan sama Lilen... Seru loo..." Soroh Karen membuat Cessa membulatkan matanya.


Bisa bisanya Karen mengatakan hal sensitif seperti itu du depan Zino. Cessa menatap Zino tidak ada tanda tanda marah atau kesal darinya.


"Biarin aja, aku mah cinta Sama Cessa apa adanya. Biarpun ada jejak kamu juga aku gak masalah... Yang penting Cessa sama aku..." ucap Sombong Zino.


"Lalu adikku Lilen bagaimana? Kamu sama Lilen kan udah pernah..." Belum sempat selesai Zino sudah mendekap mulut Karen dengan kasar dan Cessa hanya memijit tulang hidungnya tak mampu mengikuti alur cerita Zino dan Karen.


"Sudah ya... Aku ngantuk sekali.. Kalau kalian ribut terus mana bisa aku tidur.." Cessa masuk ke dalam kamarnya meninggalkan keduanya memmatung.


"Cih...Aku hanya kasian sama Cessa, dan aku akan menjadi laki laki yang penurut padanya. Maka aku juga akan tidur saja.." Ucap Karen dan berlalu meninggalkan Zino.


"Heh aku juga penurut dan aku tahu juga kasian sama Cessa ini masih jam malam, jam tidur.." Ucap Zino melihat Karen yang pergi menuju kamar yang di tunjuk Cessa tadi.


Zino tak ingin bergabung dengan Karen pun memilih untuk mancari Jake saja.


Flashback off


"Lalu tuan Dengan Nona Lilen bagaimana?" Tanya Jake tiba tiba.

__ADS_1


Zino membulatkan matanya, tapi ia juga tak bisa menjawab pertanyaan Jake.


Jake...


__ADS_2