
"Bagaimana kabar tuan belakangan ini. Masih sibuk memburu musuh?" Zino sedikit terkejut dengan pertanyaan Lilen yang seperti mengetahui apa yang Zino lakukan beberapa hari belakangan ini.
"Aaahh iya.. Masih cari beberapa lagi. Aku ke sini dan ajak kamu makan siang karna mungkin besok atau lusa aku akan pulang ke negaraku." Ucap Zino hanya sedikit jujur tentang kepulanngannya.
"Oohh tuan dari negara mana ya?" tanya Lilen lagi.
"Aku dari Spanyol. Tapi aslinya Australia, aku hanya sementara di Spanyol." Ucap Zino dan tentu saja Lilen percaya.
"Aku juga sebenarnya dari Spanyol karna kakak dan orang tuaku di sana sebenarnya." Zino menyipitkan matanya.
"Benarkah.. Bukankah Karen Stone dari Canada?" Zino bertanya karna hal itu tidak sama dengan datanya. Setahu Zino, Karen tinggal di Canada.
"Haha.. Iya kak Karen memang dari Canada tapi itu hanya saat ia menempuh pendidikannya Saja, satu tahun belakangan ini Karen pulang ke Spanyol entah karna apa, sedangkan Daddy kini sudah renta dan banyak penyakit yang menyeranganya jadi agar mempermudah pengobatannya Daddy dan Mommy memilih untuk tinggal di singapura." Zino tercengang dengan apa yang baru saja ia dengar, rupanya selama ini Karen sudah memata matainya karna berada di satu negara yang sama.
"Satu tahun belakangan?" Zino mengulang ucapan Lilen. Dan Lilen mengangguk anggukan kepalanya dengan ceria saja.
"Ooohh karna setahu aku Karen tinggal di Canada selama ini, tapi siapa sangka di juga satu negara denganku." Zino memasang senyumnya di bibinya.
"Iya kakak hanya ke Canada untuk belajar tentang Tekstil karna hanya dia yang akan menjadi penerus perusahaan Mommy yang berjalan di bidang Tekstil." Ucap Lilen lagi dan makanan yang mereka pesan pun tiba.
Zino menelan ludahnya susah payah karna takut Lilen tidak memakan makanannya itu. Zino dengan perlahan memakan makanannya dan terus memperhatikan Lilen.
"Kenapa tuan menatap aku terus?" Lilen sadar tentunya dengan tatapan yang Zino berikan.
"Memang salah kalau aku memandangi wanita cantik..." Zino memainkan drama serialnya.
Hati Lilen serasa di elus dengan lembut melalui kata kata Zino barusan.
__ADS_1
"Biasanya aku memandang wanita cantik tapi mereka pasti langsung takut dengan tatapan aku, apa aku semenakutkan itu? Bahkan kamu tidak ingin aku tatap tadi.." Zino terus memakan makanannya dan sengaja mengajak Lilen berbicara sebisanya agar Lilen lupa untuk memeriksa makanannya.
"Ah.. Bukanya seperti itu tuan. Aku hanya tidak enak saja tuan terus menatapku. Aku jarang di tatap laki laki.." Lilen mengaduk aduk makanannya dan tentu saja Zino semakin deg degan.
"Iiss.. Kalau wanita cantik itu wajarlah di tatap para lelaki. Aku juga jarang jarang bisa menatap wanita karna yang selalu aku tatap hanyalah pistol, pisau, data Musuh musuhku.. Ya seperti itulah.. Jadi apa salahnyakan aku menatapmu." Lagi lagi Lilen tersipu dengan ucapan Zino dan menyendokkan satu suapan untuknya.
Zino tegang sekali melihatnya.
"Berhasil gak? Berhasil gak..?" Gumam Zino dalam Hatinya sungguh dirinya gugup bukan main.
Nyam... Satu suapan Lilen berhasil masuk ke dalam mulutnya. Zino tersenyum penuh kemenangan dam tak bisa di sembunyikannya.
"Tuan.. Anda kenapa?" Lilen bingung dengan Zino di depannya yang senyum senyum sendiri.
"Hahahahaha.. Tidak apa apa... Aku hanya senang menghabiskan waktu bersamamu Lilen. Dan bisakah kamu memanggilku Zino saja.. Biar semakin akrab" Saran Zino.
"Syukurlah kamu suka, awalnya aku takut kalau makanan ini tidak cocok dengan seleramu.. Tapi mendengar ucapanmu membuatku tenang.. Karna enak, habiskan yok.." Ajak Zino dam tentu saja kedunya langsung memakan dengan lahap dan di temani cerita dan obrolan serunya.
Karen dan Cessa sudah hampir sampai di bandara Internasional Amerika. Karn sudah bangun sejak tadi sedangkan Cessa masih terlelap tidur di pelukkannya.
Karena tak lama lagi mereka akan mendarat maka secepatnya Karen mencoba menghubungi Lilen.
Saat di dalam penerbangan memang ada larangan untuk mengunakan ponsel tapi itu hanya jika pesawat sedang lepas landas dan juga mendarat. Jika Pasawat sedang stabil maka boleh menggunakan ponsel.
Karen pun mencoba menghubungi Lilen tapi ponsel Lilen tidak dapat di hubungi, padahal ini jamnya Lilen istirahat siang bila mengunakan jam Amerika.
"Cih... Pasti Zino.. Ini pasti ulahnya. Aku harus cepat." Karen menoleh pada Cessa yang mengeliat. Dengan cepat Karen memperbaiki posisi Cessa agar Cessa merasa nyaman dan tertidur lagi.
__ADS_1
Karen tersenyum melihat Cessa yang kembali tertidur.
"Entah kenapa Cessa aku merasa gelisah seolah hal besar akan terjadi.. Aku tidak ingin berpisah darimu Cessa. Aku ingin kamu tetap tertidur saja di dalam pelukku." Karen hanya bisa memberitahu lewat hatinya saja.
Pesawat Karen dan Cessa sudah mendarat dengan selamat. Karen membangunkan Cessa dengan suara magnetisnya. "Sayang... Bangun.. Kita sudah sampai.. Buka matamu.. Lihat aku.." Suara yang seperti setengah berbisik itu langsung masuk dalam pendengaran Cessa dengan jelasnya karna Karen membisikkannya di telinga Cessa dengan sedikit menelpelkan bibirnya di telinga Cessa.
Merasa geli dan terganggu Cessa pun membuka matanya dan langsung mendonga melihat Karen yang sudah tersenyum padanya.
"Selamat datang di Washington, Amerika.." Tangan Karen membentang dan memperlihatkan pemandangan dari jendela pesawatnya.
Cessa melihat keluar jendelanya dan melihat kini mereka sudah tiba di Amerika.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku dari tadi dan membuat aku tertidur di atasmu seperti ini." Cessa bangkit dari tidurannya yang berada di atas tubuh Karen.
"Tidak apa apa.. Aku hanya ingin merasakan tubuhmu dan wanginya juga." Karen mengedipkan matanya dan Cessa segera mengusap usap matanya yang masih lengket dan berat terbuka.
"Jadi sudah sampai.. Baiklah.." Cessa berdebar sekali, bagaimana ia akan menghadapi masalah yang menunggunya, Karen dan Zino akan segera bertemu dan masalah besar akan segera terjadi pula. Maka Cessa tahu dirinya adalah sumber masalahnya. Bagaimana caranya ia melerai kedua laki laki itu.
Karen menarik dagu Cessa dan Cessa langsung sadar dari lamunannya. "Jangan pikirkan yang lain. Pikirkan saja kau akan bahagia setelah ini semua berlalu, aku yang jamin semuanya akan berjalan dengan lancar. Percayalah padaku." Karen mengusap puncak rambut Cessa dan entah mengapa Karen selalu tahu apa yang Cessa pikirkan.
''Karen.. Kenapa kamu tahu apa yang aku pikirkan?" Kali ini pertanyaan Cessa sangat serius tanpak dari wajahnya.
Karen tertawa kecil "Karna aku dan kamu sepikiran, apa yang kamu pikirkan itu juga akan muncul di otakku sayang.."Laki laki pengertian seperti Karen pasti bisa membaca apa yang Cessa pikirkan.
Cessa menggeleng gelengkan kepalanya. "Nati saja pikir kenapa aku tahu kita keluar dulu dan berangkat ke apartemen adikku. Ayo.." Ajak Karen dan sudah berdiri dan menarik tangan Cessa.
Cessa pun ikut Karen untuk keluar dari pesawat itu, sesampai di luar pesawat tepat di tangga pesawat itu Cessa melihat beberapa pria tinggi dan berjas serba hitam dan memakai earphone hitam juga di telingannya.
__ADS_1
Cessa...