Budak Cinta Sang Mafia

Budak Cinta Sang Mafia
BAB 108


__ADS_3

Jika Lorent dan Rindu sangat menikmati kebersamaan mereka, Zino dan Cessa juga menikmati penerbangan ini bersama Baby Karsa, Jake dan Lilen tidak.


Jake sangat kesal dengan keadaanya. Bagaimana mungkin malah ia yang bersama Lilen. Kan belum tentu Lilen akan mengandung benihnya jika malam itu bukan hanya bibitnya yang di tanam bersamaan.


***


"Cessa sayang ini sudah sampai.." Zino membangunkan Cessa yang terlelap. Sedangkan Baby Karsa bersama Zino sepanjang pejalanan.


"Eeemmm sudah sampai...?" Cessa membuka matanya dan melihat sekeliling.


Ini adalah kediaman Zino yang pernah Cessa tinggali bersama sama sebelum ia di culik Karen dan anak buahnya di salah satu Resto Zino. Cessa menghela nafasnya, ia sangat rindu rumah ini. Rumah yang cantik dengan kebun bunga dan bunga yang merambat di pintu dapur.


"Cukup lama kan aku gak ke sini..." Cessa menatap sekeliling.


"Lebih tepatnya.. Cukup lama kamu gak pulang ke sini.." Zino membenarkan.


Pesawat mendarat tepat di lapangan pesawat Zino di samping Rumah. Membuat rumah Zino yang bak istana sangat megah dan besar.


***


Jake menoleh pada Lilen. Lilen sudah tidak ada di sampingnya. Sepertinya Lilen sudah keluar dari pesawat bersama anak buah yang lainnya.


Begitu pula dengan Lorent dan Rindu. Pesawat berhenti dan beberapa Saat setelahnya para penumpang boleh turun.


Lorent membangunkan Rindu yang tertidur di pelukkannya.


"Sayang ku.. Bangun kita sudah sampai.. Ayo bangun.." Berkali kali Lorent mencium Rindu.


"Eeemm ya.." Rindu segera bangun dari dada Lorent.


"Oohh rumah Zino.." Rindu masih ingat rumah ini.


"Kamu mau kita punya rumah kayak gini sayang..? Tapi kalau rumah sebesar ini cuma sepasang kembar kayaknya kurang gitu sayang.." Lorent melihat rumah Zino yang cukup besar.


"Ck apanya sih.." Rindu bangkit hendak pergi.


"Eeetsss.. Mau kemana sayang..?" Lorent menahan Rindu.


"Ya mau keluarlah." Jawab Rindu.


"Lorent.." Lilen sepertinya mencari Lorent.


"Ya..?" Lorent pura pura menjadi asisten yang keren lagi.


"Cih.." Rindu berdecih karna ia tahu seperti apa Lorent yang sebenarnya tak se'cool itu.


Lorent melirik Rindu dari ekor matanya tapi tetap mencoba fokus pada Lilen.


"Kenapa...?" Lorent bangkit.


"Eemm aku cuma bingung mau berbicara sama siapa, aku belum bisa berbaur sama yang lain. Makanya aku cari kamu aja.." Jelas Lilen.


"Ya udah ayo kita keluar..." Ajak Lorent pada Lilen.


Rindu menemui Cessa dan turun bersam dengan Cessa dan Zino. Turun juga Jake bersamaan dengan mereka.


Rindu sempat canggung tapi ia berusaha untuk tak peduli. Saat semuanya sudah turun dari tangga pesawat Rindu penasaran di mana Lorent. Ia pun menoleh ke belakang. Lorent sedang menuruni tangga bersama Lilen.


Cessa melihat Rindu yang menoleh ke belakang, Zino pun ikut ikutan menoleh. Dan tak lupa anak buah Zino yang setia ikut menoleh yaitu Jake.


Semuanya menatap Lorent dan Lilen. Awalnya Lorent tak menyadari tapi saat beberapa tangga terakhir barulah ia menyadarinya. Semua pandangan itu padanya.


"Kenapa mereka sangat cocok..?" Jake bergumam dan di dengar Zino dan yang lainnya.


Salah satu anak bauh Lorent yang ada di sana menjawab tiba tiba dari belakang Zino dan yang lainnya


"Tuan Lorent dan Nona Lilen dulu punya hubungan spesail tuan.." Semua orang menoleh dan sangat terkejut.


"Hah???" Semuanya melongo.


"Jadi si mata empat dan wanita itu..?" Jake tak menyangka.


"Ya tuan Jake. Tapi tiba tiba Tuan Lorent menolak lagi berhubungan dengan Nona Lilen." Tambahnya lagi.


Lorent dan Lilen tiba di depan Zino dan yang lainnya. Lorent memperbaiki kacamatanya.


"Apa ya..?" Lorent merasa sepertinya tatapan itu semua punya maksud yang berbeda beda pula.


"Gak ada sudah ayo kita masuk dulu.. Kita semua pasti lelah." Ajak Zino secepatnya. Ia mendapat ide bagus.


"Ayo Rindu.." Jake langsung menarik tangan Rindu dan membawanya pergi. Lorent menatap Punggung Rindu, Rindu sama sekali tak menolak Jake.


Otaknya berpikir sejenak. "Sial.." Lorent berlari mengejar Rindu dan Jake.


"Rindu.." Panggil Lorent.

__ADS_1


"Apa? sana kamu..!" perintah Jake pada Lorent.


"Siapa kamu yang perintah perintah aku.." Lorent tidak dapat menahan amarahnya jika melihat Jake mendekati Rindu lagi.


"Jake.. Lorent..!" tegur Cessa.


"Rindu sini.. Kalian jalan sama tuan kalian jangan coba coba rebutan Rindu di sini.." Cessa sekarang lebih berani untuk memerintah mafia mafia ini.


"Baik Nyonya." Lorent terlebih dahulu pergi menuju Zino yang sudah di depan.


"Lilen.. Sini kita sama sama.." Ajak Cessa.


Rindu tersenyum pada Lilen, tidak ada rasa marah atau pun cemburu pada Lilen. Tapi ia hanya kesal pada Lorent yang tak mengatakan yang sebenarnya padanya.


Lilen melihat ke ramahan Cessa dan Rindu, ia pun mendekatkan diri dengan Cessa.


"Aku mohon.. Jangan jaga jarak sama aku dan Rindu.. Kita akan satu rumah nanti, kamu gak usah pikir semua laki laki di depan itu. Mereka cuma bisa main main aja." Cessa tahu Lilen belum terbiasa bersama Cessa dan yang lainnya.


"Terima kasih Cessa." Lilen akhirnya bersuara.


***


Cessa masuk kamarnya. Masih bersih dan terjaga rapi dengan foto foto masa kecilnya.


"Heeeeemmm.... Akan lebih baik kalau ada foto Karsa juga di sini." Baby Karsa sedang berbaring di tempat tidur Cessa. Suara kecilnya menggoda Cessa untuk mengajaknya bermain sejenak.


"Sayang mau apa sayang.. Eeehh pup ya..?" Cessa mengecek popok Karsan dan ternyata Baby Karsa buang air besar.


Cessa menunggu Baby Karsa selesai PUPnya dengan sabar. Tiba tiba ada ketukan di pintunya.


"Siapa ya..?" Cessa melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Rindu..?" rupanya Rindu yang datang.


"Aku boleh masuk?" Rindu sepertinya sedang lari dari seseorang.


"Ya masuklah, tapi maaf ya... Baby Karsa lagi PUP." Rindu tak peduli dan milih untuk masuk saja.


"Rindu kenapa..?" Cessa melihat ada yang tak beres dengan Rindu.


"Cessa, Aku.. Aku bingung harus apa.." Rindu merasa bersalah dan menjadi bingung sendiri.


"Apa Rindu..? Apa kamu dan Lorent ada masalah..?" Cessa mencoba menebak.


"Bukan aku yang ada masalah.. Tapi aku yang bawa masalah.. Aku masuk dalam hubungan orang lain.." Rindu menangis. Air matanya berjatuhan.


"Cessa.. Lorent dan Lilen sudah tunangan. Cincin yang di kenakan Lorent itu cincinnya dan Lilen, dan Lilen juga masih pakai cincinnya.. Cessa.. Aku.." Rindu semakin sedih.


Ceklek..


Zino langsung masuk ke dalam kamar Cessa tanpa meminta izin.


"Zino.. Kok main masuk aja?" Cessa tak menyukainya.


"Maaf aku... Rindu kamu nangis...?" Zino melihat Rindu yang ada di kamar ini juga tapi dalam keadaan menangis.


"Tuan Zino.." Rindu masih terus menangis.


"Zino.. Tutup pintunya..!" Titah Cessa.


"Oohh ya ya.." Dengan cepat Zino menutup Pintu.


"Tuan.. Bisa antar jauh aku? Aku gak mau di sini.. Aku mau pergi dari sini.. Aku gak ada gunanya di sini.. Aku cuma perusak hubungan orang lain..." Rindu sangat sedih. Belum lagi hormon kehamilannya yang merajarela membuatnya memiliki emosi yang berubah ubah.


Zino...


Off dulu ya.. Maaf kemarin kurang banyak.. Besok author tambah.. Malam ini satu dulu, besok author up dua langsung ya.. Oohh ya itu di sebelah, Aku Yang Di simpan makin seru loool...


Mau cuplikannya.. Nih deh dikit aja, novel sebelah sini agak panas panas babnya guys..


Bab 162


Nur menunggu kepulangan Roy dan Debora. Ia sudah tak tahan lagi. Selama ini ia tetap menunggu tapi Roy tetap mengabaikannya. Beberapa hari yang lalu Nur ke kantor Roy. Saat di mana dia mendengarkan pembicaraan Hery dan Debora. Seletah itu Nur berusaha menemui Roy. Tapi ia malah di larang untuk datang ke kantor ini apalagi bertemu dengan Roy. Ia pulang dengan keadaan marah.


"Malam ini Roy gak akan bisa lari dari aku.. Dia harus sentuh aku malam ini.. Aku gak mau tau.." Nur melihat pantulan tubuhnya di cermin.


"Kenapa Roy gak tergoda sama aku padahal aku cantik wajah dan tubuh. Apa yang kurang, Debora juga sama aja kok.. Iissss..." Nur berpikir keras bagaimana ia akan menarik perhatian Roy. Dulu Nur pernah mencoba dengan obat pra**ng, tapi Roy bisa membacanya. Ia malah memakan mie dan membuat perutnya sakit. Setelah itu alasannya ia lelah, ia sakit di sana dan di sini, menunjuk tubuhnya. Yang paling tidak normal Roy bilang ia punya kutu. Kepalanya kegatalan dan mau tak mau keesokkan harinya Debora membawa Roy ke salon untuk membasmi kutu  di kepalanya.


"Satu satunya cara.. Paksa dia.." Nur tidak ingin banyak rencana lagi. Ia akan langsung saja melakukan yang dia inginkan.


Roy dan Debora sampai di rumah. Seperti biasa Roy membersihkan diri di kamar Debora. Nur tetap menunggu Roy di kamarnya. Bayangan Debora dan Roy tengah asik di kamar mereka membuatnya marah.


"Nanti kau Roy..!" Malam ini Nur sudah tak tahan.


Makan malam, di lalui Nur dengan diamnya tak seperti biasanya ia akan selalu berebutan melayani Roy makan. Roy merasa aneh dengan Nur yang terdiam.

__ADS_1


"Nur sayang kok kamu diam aja?" Eyang juga melihat diamnya Nur yang berbeda.


"Gak apa apa kok Eyang.. Nur baik baik aja.." setelah mengatakan Itu Nur diam lagi.


Seolah tak terjadi apa apa di depannya, Roy melanjutkan makannya. Makan malam selesai, Nur kembali ke kamarnya. Entah Roy kemana dulu tapi memakan waktu beberapa Saat setelah Roy masuk ke dalam kamar Nur.


Roy tak memperdulikan Nur yang masih diam, bukan salahnya juga jika tak memperhatikan Nur, karna Roy tak mengharapkan pernikahan ini.


Roy naik ke tempat tidur. Berbalik agar tak berhadapan dengan Nur. Nur melihat Roy dari ekor matanya. Rasa di dadanya menggebu gebu. Ingin langsung ia menerkam Roy dan meminta haknya sebagai istri Roy.


Sekian lama diam dan pura pura tidur, Roy benar benar ingin tidur. Tapi tiba tiba ada yang naik ke atasnya. Roy membuka matanya, ia melihat Nur sudah di atas tubuhnya bahkan sudah membuka celana Roy.


"Hei apa yang kamu lakukan...?" Roy ingin mendorong Nur tapu dengan cepat Nur mengalungkan tangan di kepala Roy.


"Roy.. Kalau kamu gak bisa kasih cinta kamu untuk aku, kasih ragamu untuk aku, itu sudah cukup Roy..." Nur memelas sambil menempelkan wajahnya dengan Roy.


"Nur mengertilah, aku gak bisa.. Aku sudah anggap kamu teman aja. Nur.." Nur sudah membuka celana Roy dan memainkannya.


"Nur..!" Roy tetaplah laki laki normal yang bila di sentuh sedikit saja maka seluruh tubuhnya merespon bahkan naf*unya.


"Nur.." Pelayanan yang Nur berikan benar benar nikmat. Roy yang awalnya menolak kini malah sangat menikmati dan mulai hanyut perlahan dalam kenikmatan yang di tawarkan Nur.


"Oohhh.. Oohh.." Roy menekan kepala Nur agar lebih dan lebih lagi. Tentu Nur siap. Bahkan ia sangat menambakan ini. Roy menjadi miliknya.


"Ayolah Roy.. Sebentar aja.. Debora gak akan marah.. Aku mohon.." Nur meminta pada Roy.


Mata sayu Roy karna sudah hampir di puncak nirwana malah terhenti karna Nur meminta izin padanya.


"Sebentar saja Nur.." Nur mengangguk ceat dan segera menanggalkan bajunya. Memperlihatkan semua asetnya pada Roy. Memamerkan semuanya dan bahkan menawarkannya juga.


"Aku mau itu.." Nur mengangguk. Roy memulai permainannya dari atas hingga Bawah.


Tak ia sangka Nur bisa melayaninya dengan sangat baik. Entah dari tubuh atau gerakannya.


"Kamu..?" Roy terkejut ternyata Nur masih rapet.


"Ya Roy.. Untuk kamu.. Aku.. Aku jaga selama ini untuk kamu.. Sssttt.." Nur menjawab dari sebagian de**hannya.


"Oohh Nur kamu.." Roy terbuai lebih dalam lagi dengan yang di tawarkan Nur.


Permainan berlangsung lama semakin panas semakin ganas. Entah  pukul berapa permaianan itu usai, Roy merebahkan tubuhnya di samping Nur. Nur tak menyia nyiakan kesempatan itu untuk memeluk Roy sesukanya.


"Roy.. Aku sangat mencintamu. Aku sudah berikan semuanya padamu.. Semuanya aku serahkan padamu.." Rasa lelah dan mengantuk Nur bersatu membuatnya terlelap dalam tidur yang nyenyak.


Menuju pagi terasa sangat singkat, Roy membuka matanya, ia melihat Nur masih tertidur pulas di sampingnya. Tubuh Nur yang masih polos dan juga tubuh Roy sendiri yang sama polosnya membuat Roy mengusap wajahnya kasar.


"Apa yang sudah aku lakukan. Ya ampun Roy.. Kamu pasti sudah gila.." Roy segera mengenakan bajunya dan keluar dari kamar Nur.


Ia menuju kamar Debora melihat kamar itu sudah kosong padahal ini masih pagi sekali untuk Debora keluar dari kamarnya.


Roy menyapu ruangan tapi tak melihat keberadaan Debora.


"Mungkin dia di kamar mandi..." Roy membuka pintu kamar mandi juga tak menemukan siapa siapa.


"Debora kamu di mana sayang..?" Roy kini jadi panik.


***


Rena menyiapkan sarapan untuk orang orang di rumahnya di temani para bibi yang bekerja di rumahnya.


"Aku sudah bilang.. Kamu gak usah bantu.." Ucap Rena pada seorang yang baru di rumahnya.


"Gak apa Rena aku cuma mau bantu.." Debora tersenyum.


Semalam Debora memilih pergi ke rumah Rena karna resah di rumahnya sendiri. Sampai di rumah Rena ia langsung menangis memeluk Rena. Ia mengadu apa yang ia lihat dan dengar di rumahnya.


Flashback on.


Roy makin terbuai dengan pelayanan Nur, sangat menikmati dan pasrah dengan apa yang ingin di lakukan Nur.


**


"Ya Halo.. Oohh Roy.. Sebentar ya.." Debora mendapat telpon dari Roby pekerja di kantor ada hal penting yang harus ia sampaikan pada Roy saat ini juga katanya.


"Aku harus ke kamar Nur dan Roy.." Debora mengelus dadanya agar sabar saat nanti Nur membukakan pintu kamarnya dan pamandangan yang akan ia lihat di dalamnya, meski Roy dan Nur tidak melakukan apa apa tapi tetap saja hati Debora akan teriris melihat Suaminya tidur dengan wanita lain. Bahkan di atas atap yang sama hanya beda kamar.


Debora turun dengan rasa hati yang kacau. Detak jantungnya berdetak dengan kencang. Debora menyingkirkan rasa dj hatinya tentang Nur dan Roy.


"Roy gak akan begitu sama Nur.. Dia Gak suka Nur.." Debora menepiskan rasa gelisah di hatinya.


Saat sampai di depan pintu kamar Nur, Debora seperti bisa mendengar sesuatu dari dalam sana. Hatinya jadi tak menentu, Debora mendekatkan telinganya ke pintu kamar itu.


"Nur kamu masih.. Aaahhh" samar samar Debora mendengar suara Roy yang sedang mengeluarkan semua gai"ahnya bersama Nur di dalam.


"Aku menjaganya cuma untuk kamu Roy.. Aku cinta kamu.. Aaahh" Nur juga terdengar menjawab ucapan Roy dengan suara yang serak dan seakan tak mampu untuk berucap sangkin menahan semuanya dengan nafasnya.

__ADS_1


"Aaahh Nur kamu.. Nikmatnya.." Debora mundur setelah mendengar ucapan selanjutnya dari Roy. Dan di susul suara rius ricuh dan juga nafas yang keluar bersamaan yang lainnya.


Nafas Debora rasanya tersenggal di dadanya. Matanya membasah. Bibirnya bergetar. Debora segera keluar dari rumah itu ia berjalan di gelap malam dengan tangis di matanya. Tangis tanpa suara.


__ADS_2