
Cessa terkejut melihat ada Zino dalam kamarnya. Cessa menoleh ke arah pintu, pintu yang masih terkunci dengan rapat.
"Kamu masuk dari mana... Pintunya di kunci.." Cessa semakin penasaran.
"Aku ada pintu rahasia lah.." Zino langsung menciumi Baby Karsa dengan gemasnya.
"Aku kangen.." Zino bermanja manja di tangan kecil Baby Karsa.
"Zino jawab.. Kamu masuk dari mana..? Waktu itu juga kamu masuk tiba tiba..?" Cessa menganggkat kepala Zino untuk menatapnya.
"Apa sayang.. Kangen juga kah.. Mau di sayang sayang.. Sini.." Zino memeluk Cessa lagi.
"Zi.. Aku tanya dari mana kamu masuk..?" Cessa mendorong Zino.
"Di disini ada pintu rahasia sayang.. Gak bisa kamu liat.. Cuma aku yang tahu.." Cup.. Zino mengecup bibir Cessa.
"Zi.." Cessa mendorong wajah Zino.
"Zi.. Kasih tau aku di mana pintu rahasia itu.." Cessa memohon lagi.
"Apa bayarannya..? Harus ada keuntungannya donk buat aku.." Zino mengedipkan matanya.
"Zi.. Kami ini nah.. Kamu kan kemarin malam.." Cessa tak meneruskan ucapanya.
"Ya aku tahu.. Aku gak akan minta itu lagi kok.. Aku janji.." Zino meyakinkan Cessa.
"Oke apa yang kamu mau.." Cessa mengangguk setuju.
"Eeemm.. Aku mau tahu kenapa nama Karsa itu Karsa..?" Zino memperbaiki posisi duduknya.
"Nama Karsa itu Karsa.. Oohh.. Kenapa Karen memberinya nama Karsa.." Cessa mengerti ucapan Zino.
"Oke aku ceritakan.. Waktu itu aku dan Karen di kamar.. Karen mulai berkhayal yang gak gak.
Flashback dulu..
"Cessa aku mau punya anak perempuan. Apalagi setelah kita berdua tanam bibit tadi. Semoga aja jadi ya.." Karen menggoda Cessa setelah permainan panasnya.
"Kamu ini.." Cessa jengkel.
"Cessa, aku benar benar berharap aku bisa punya anak perempuan. Pasti dia cantik kayak kamu sayang.. Kamu mau kan.." Karen mencolek hidung Cessa.
"Ya... terserah.." Cessa parsrah karna ia terlanjur lelah dari permainan mereka.
"Nanti kita kasih nama apa ya.. Eeemmm.. Gimana kalau Karsa.. Karsa Stone.. Eeemm cantiknya.." Karen sangat gemas sampai memeluk Cessa erat sekali.
"Karen.." Cessa sangat terganggu.
"Jadi namanya Karsa..?" Cessa mengulangi nama yang di sebut Karen.
"Ya Karsa. Karen Cessa... Cantikkan.." Karen sangat menggemaskan.
"Ya nama yang cantik.." Cessa setuju.
__ADS_1
Flashback off.
"Gitu deh.. Makanya pas pertama Baby Karsa di serahkan sama aku, nama yang pertama aku ingat Karsa.." Cessa mengelus elus rambut Zino yang tebaring bersama Baby Karsa di dekat kakinya.
"Oohhh gitu.. Karen Cessa... Eeemmm kalau Karsa laki laki.. Apa namanya..?" Zino sangat suka pembahasan ini. Apalagi ini tentang Karen.
"Kalau kemarin yang di bawa Mommy Bella bayi laki laki, namanya.." Cessa menatap Baby Karsa dalam dalam.
"Siapa sayang..?" Zino sudah penasaran.
"Apa kamu mau tahu..?" Cessa malah berbelit belit memberi tahu nama bayi laki laki Karen.
"Ya aku mau tahu lah.. Apa namanya gabungan kamu dan Karen lagi..?" Duga Zino.
"Pasti Saka.. Atau.. Eeemm apa lagi ya.. Betul gak itu..?" Zino main tebak tebakkan.
Cessa tersenyum lucu mendengar nama yang di sebutkan Zino.
"Bukan Itu Zi.." Cessa menggelengkan kepalanya.
"Terus siapa sayang..?" Zino sudah kehabisan akal untuk mencari tahu nama itu.
"Namanya.." Cessa semakin membuat Zino penasaran.
"Namanya.. Zikar.." Zino terdiam.
"Zi.. Zikar...?" Suara Zino tiba tiba bergetar.
"Zikar.." Zino mengulang lagi.
"Itu nama anak laki laki Karen.. Gabungan nama, Zino dan Karen.." Cessa menatap mata Zino yang sudah berkaca kaca.
"Kenapa.. Kamu kok langsung Cengeng..?" Cessa meledak Zino.
"Cessa.. Kenapa dia kasih nama itu untuk anak laki lakinya...?" Zino berbicara dengan suara bergetar.
"Karna kamu kenangan terindah yang dia punya.." Cessa mengusap pipi Zino yang menjadi aliran airmata seketika.
"Karen.. Jahat... Kenapa dia jahat.. Kenapa dia gak bikin anak laki laki aja..." Zino menangis.
"Zi..." Cessa memeluk Zino.
"Karsa.. Kenapa kamu gak kembar aja, jadi ada Karsa dan ada Zikar.. Karsa sayang.." Zino luruh dalam tangisan.
"Zino.. Kok gitu sama Karsa.. Ya dia satu ya satu.." Cessa menarik Zino yang memeluk Karsa dengan erat.
"Zino.. Karsa nangis tuh.." Zino melepas peluknya.
"Kenapa Karen selalu menang satu langkah dari aku.. Kenapa..?" Zino mengguncang Cessa.
"Karna dia tahu yang terbaik untuk kamu.." Ucapan Cessa itu semakin membuat Zino sedih.
"Aku rindu Karen.. Aku mau di peluk Karen lagi.. Aku mau tidur sama Karen lagi. Waktu aku tidur sama Karen, dia peluk aku sepanjang malam.. Aku mau.. Aku mau.." Zino memukul mukul dadanya.
__ADS_1
"Zi.." Cessa menarik Zino dalam peluknya.
"Semuanya baik baik aja Zi.. Sekarang Karen sudah tenang.. Karen pasti liat Karsa yang kita rawat sehat dan dapat banyak perhatian. Lagi pula ada Daddy Zinonya.. Karen pasti sangat senang liat kalian berdua.." Cessa berharap ini dapat menenangkan Zino.
Lelah menangis, Zino terlelap di peluk Cessa dan berhadapan dengan Karsa.
"Kalian berdua yang terbaik.." Cessa menatap keduanya satu persatu.
***
Tidak ada lagi masalah di sini. Semuanya baik baik saja. Zino tak lepas lepas dari Karsa sejak pagi ini. Cessa sibuk di dapur bersama pembantu yang ada. Ia juga tak sendiri. Ada Rindu juga yang menemaninya. Tapi Rindu juga punya asisten pribadi, yaitu Lorent. Kemana pun Rindu pergi maka Lorent akan mengikuti.
"Sayang duduk aja, aku yang masak.." Lorent mengambil alat masak yang di gunakan Rindu.
"Mending kamu duduk dia sama Zino dan Baby Karsa sana.." Titah Rindu.
"Heh.. Aku ini calon suamu kamu.. Jadi kamu yang harus nurut aku.." Lorent tak kalah debat.
"Eehh iya.. Kapan kalian nikah..?" Cessa baru ingat kalau Rindu dan Lorent belum menikah resmi. Hanya sekedar menikah di tempat tidur.
"Eemm secepatnya Nyonya.. Aku akan menikah Rindu ku secepatnya." Lorent bersemangat.
"Ya sayang.. Nanti kalau sudah sah nikah.. Aku cabutin semua jenggot kamu yang tumbuh itu.." Rindu tampak senang jika tentang mencabut cabut bulu halus di dagu Lorent.
"Issshh jangan sayang.. Sakit. Biar aja ni kan sedikit sedikit aja tumbuhnya. Makanya kalau di cabut itu sakit banget.." Lorent merasa ngilu di dagunya ketika Rindu membahas mencabut.
"Eeemm... Padahal kamu belum tua tua amat kan Lorent.. Tapi udah tumbuh Jenggot aja.." Rindu tertawa mendengar penuturan Cessa.
"Ya ketawa kamu.. Suami kamu ini.." Lorent mencolek dagu Rindu yang tertawa bebasnya.
"Hahahhaa.. Ya suami aku sudah tua.." Ledek Rindu lagi.
"Eeehh apa sih yang seru ini..?" Zino dan Baby Karsa datang juga ke dapur karna mendengar ada yang seru apalagi dengan tawa Rindu yang lepas saja.
"Ini.. Suami aku sudah tua.. Hahahahahaha.." Rindu tak bisa menaham tawanya.
"Hah..?" Zino melihat Lorent.
"Tua kamu atau aku?" Zino juga ikut ikutan.
"Tua tuan lah.. Aku ini muda 3 tahun dari tuan Karen.. Kalau Tuan Karen aja tua 1 tahun dari tuan Zino ya itu artinya aku lebih muda 2 tahun dari tuan Zino.." Tutur Lorent.
"Eeemmm gitu toohh tapi kok kamu sudah ada jenggot.. Kalau Jake dia memang suka tumbuhkan Jenggot.." Zino membuat Lorent menggelengkan kepalanya pasrah.
"Ya aku juga bisa tumbuh jenggot. Tapi cuma beberapa helai aja sekali tumbuh.." Jelas Lorent meski sambil tertawa juga.
"Kenapa sih..?" Jake juga datang karna penasaran.
"Nih yang lebih tua dari kita semua.. Dah banyak jenggotnya." ledek Lorent pada Jake.
"Eeehh apalagi ini salah aku..?" Jake sangat polos.
Off dulu say... Selow dulu ya guys udah lewat masa teganggnya..
__ADS_1